Mari Rayakan

Setelah pemain Ghana, Asamoah Gyan, mencetak gol dalam pertandingan melawan Jerman pada kejuaraan Piala Dunia 2014, ia dan rekan-rekan satu timnya melakukan tarian serempak. Ketika pemain Jerman, Miroslay Klose, mencetak gol beberapa menit kemudian, ia pun melakukan koprol. “Perayaan gol dalam sepakbola sangat menarik untuk diperhatikan karena aksi-aksi itu menunjukkan kepribadian, nilai, dan semangat sang pemain,” kata Clint Mathis, yang pernah mencetak gol untuk Amerika Serikat pada Piala Dunia 2002.

Bau Busuk

Pada Agustus 2013, banyak orang berkumpul di Konservatori Phipps di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, untuk menyaksikan mekarnya tanaman tropis yang dikenal sebagai bunga bangkai. Karena bunga itu berasal dari Indonesia, dan kemungkinan mekarnya hanya sekali dalam beberapa tahun, peristiwa tersebut menjadi tontonan menarik. Setelah mekar, bunga dengan kelopak besar yang berwarna merah, indah, dan lancip itu mengeluarkan bau seperti daging busuk. Karena bau busuknya, bunga itu memikat lalat dan kumbang yang mencari daging busuk. Akan tetapi, bunga tersebut tidak memiliki nektar.

Kompas Allah

Selama Perang Dunia II, kompas-kompas berukuran kecil telah menyelamatkan hidup dari 27 pelaut yang berada kira-kira 500 km jauhnya dari pantai North Carolina. Waldemar Semenov, seorang pensiunan pedagang yang menjadi pelaut, sedang berdinas sebagai insinyur junior dalam kapal SS Alcoa Guide ketika sebuah kapal selam Jerman muncul dan menembaki kapalnya. Kapal SS Alcoa Guide terkena tembakan, terbakar, dan mulai tenggelam. Semenov dan awak kapalnya segera menurunkan sekoci-sekoci yang dilengkapi kompas dan menggunakan kompas-kompas tersebut untuk memandu mereka menuju ke jalur pelayaran yang terdekat dengan pantai. Akhirnya, setelah tiga hari, mereka berhasil diselamatkan.

Kuasa Perkataan

Nelson Mandela, tokoh penentang rezim apartheid di Afrika Selatan yang dipenjara selama hampir tiga dekade, sangat paham tentang kuasa perkataan. Kita sering mengutip perkataannya saat ini, tetapi selama dipenjara, ia tidak banyak bicara karena takut akan akibat buruk yang dapat ditimbulkannya. Satu dekade setelah pembebasannya, ia berkata: “Bukan kebiasaan saya untuk berkata-kata dengan sembarangan. Pengalaman selama 27 tahun mendekam di penjara telah mengajar kami untuk menggunakan kesunyian dari kesendirian itu guna memahami betapa berharganya perkataan, dan betapa kuat dampak perkataan terhadap hidup-mati seseorang.”

Memuji Allah yang Hidup

Pada tahun 2005, saat Rosa Parks, pahlawan hak sipil Amerika, meninggal dunia, Oprah Winfrey merasa terhormat atas kesempatan untuk memberikan eulogi pada mendiang. Tentang wanita yang menolak memberikan tempat duduknya di bus kepada seorang pria kulit putih di tahun 1955 tersebut, Oprah berkata, “Saya sering memikirkan tentang risikonya—mengingat suasana masa itu dan apa yang bisa menimpa Rosa—risiko dari mempertahankan tempat duduk itu. Rosa bertindak tanpa mempedulikan dirinya sendiri dan menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi kita semua.”

Sauh Bagi Kita

Setelah Estella Pyfrom pensiun mengajar, ia membeli sebuah bus yang dilengkapinya dengan sejumlah komputer dan meja, lalu dikemudikannya di sekitar Palm Beach County, Florida, Amerika Serikat. Melalui bus yang dinamainya Brilliant Bus (Bus Pintar), Estella menyediakan sebuah tempat bagi anak-anak yang rentan tersandung masalah agar mereka dapat mengerjakan pekerjaan rumah mereka dan mempelajari teknologi. Estella telah memberikan kestabilan dan pengharapan bagi anak-anak yang terancam gagal untuk memiliki masa depan yang lebih baik itu.

Menenangkan Badai

Ketika Badai Katrina mengarah ke pesisir Mississippi, seorang pendeta yang telah pensiun beserta istrinya memutuskan untuk meninggalkan rumah mereka dan menetap di suatu rumah penampungan. Putri mereka memohon supaya mereka mau pergi ke Atlanta agar ia bisa merawat mereka. Namun pendeta dan istrinya tidak dapat mengambil uang untuk membiayai perjalanan karena semua bank tutup. Setelah badai berlalu, mereka kembali ke rumah untuk mengambil beberapa barang dan hanya berhasil menyelamatkan beberapa foto keluarga yang mengapung di atas air. Lalu, ketika pendeta itu mengeluarkan foto ayahnya dari bingkai untuk dikeringkan, jatuhlah uang sejumlah $366—jumlah yang persis dibutuhkan untuk membeli dua tiket pesawat ke Atlanta. Pasangan itu belajar bahwa mereka bisa mempercayai Yesus untuk apa pun yang mereka perlukan.

Allah Selalu Mendengar

Sehari sebelum Billy Graham diwawancarai dalam acara televisi Amerika The Today Show, direktur humasnya, Larry Ross, meminta disediakan satu ruangan khusus yang dapat dipakai Graham untuk berdoa sebelum diwawancara. Namun ketika Graham tiba di studio, asistennya memberitahukan kepada Ross bahwa Graham tidak memerlukan ruangan khusus itu. Asisten itu berkata, “Tn. Graham mulai berdoa saat ia bangun tadi pagi, ia berdoa saat sarapan, ia berdoa di dalam mobil selama perjalanan menuju studio, dan kemungkinan Graham juga terus berdoa selama wawancara berlangsung.” Di kemudian hari, Ross mengatakan, “Itu menjadi pelajaran yang sangat penting yang saya terima sebagai seorang pemuda.”

Yang Tak Bisa Dibeli Dengan Uang

Masih ada hal-hal yang tak bisa dibeli dengan uang—tetapi tidak banyak lagi di masa sekarang,” tutur Michael Sandel, penulis buku What Money Can’t Buy (Yang Tak Bisa Dibeli dengan Uang). Seseorang bisa membayar $90 (sekitar 990 ribu rupiah) untuk mendapatkan sel penjara yang lebih baik, membayar $250.000 (sekitar 2,75 milyar rupiah) untuk memperoleh izin memburu badak hitam yang langka, dan membayar $1.500 (sekitar 16 juta rupiah) untuk mengetahui nomor ponsel dokter pribadi Anda. Sepertinya sekarang hampir semua hal bisa dibeli dengan uang.