Ketika berada di London, seorang teman mengatur agar saya dan Marlene, istri saya, mengunjungi Sky Garden. Letaknya di lantai teratas dari sebuah gedung setinggi 35 tingkat di kawasan bisnis London. Sky Garden adalah sebuah ruangan besar berdinding kaca yang dipenuhi beragam tanaman, pepohonan, dan bunga. Namun, bagian sky (langit) sempat menarik perhatian kami. Kami menatap ke bawah dari ketinggian lebih dari 150 m, mengagumi Katedral St. Paul, Menara London, dan masih banyak lagi. Pemandangan ibu kota yang kami lihat itu sungguh membuat kami tak bisa berkata-kata sekaligus memberi kami pelajaran bermanfaat tentang sudut pandang.

Allah kita memiliki sudut pandang yang sempurna terhadap segala hal yang kita alami. Pemazmur menulis, “Sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, Tuhan memandang dari sorga ke bumi, untuk mendengar keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh” (Mzm. 102:20-21).

Seperti orang-orang yang menderita dalam Mazmur 102, kita sering kali hanya bisa melihat masa sekarang dengan segala pergumulannya. Kita mengungkapkan “keluhan” kita dalam keputusasaan. Namun, Allah melihat hidup kita dari awal sampai akhir. Tuhan kita tidak pernah dibuat lengah oleh hal-hal yang tak kita ketahui. Sebagaimana dinanti-nantikan oleh sang pemazmur, sudut pandang Allah yang sempurna akan membawa pada pembebasan terbesar yang memerdekakan, bahkan bagi mereka yang telah “ditentukan mati dibunuh” (ay.21, 28-29).

Dalam momen-momen yang sulit, ingatlah: Mungkin kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan kita, tetapi Tuhan kita tahu. Kita dapat mempercayakan setiap momen yang terbentang di hadapan kita kepada-Nya.