Ketika mengunjungi Monumen Peringatan Peristiwa 11 September di kota New York, saya sempat memotret salah satu dari dua kolam refleksi kembar yang terdapat di sana. Tepi dari masing-masing kolam itu dikelilingi panel berbahan perunggu yang mencantumkan ukiran nama-nama dari hampir 3.000 orang yang meninggal dunia dalam peristiwa serangan terhadap gedung World Trade Center pada tahun 2001. Di kemudian waktu, ketika memperhatikan foto itu dengan lebih saksama, mata saya tertuju pada seorang wanita yang meletakkan tangannya pada sebuah nama. Banyak orang datang ke tempat tersebut untuk menyentuh sebuah nama dan mengenang seseorang yang mereka kasihi.

Nabi Yesaya mengingatkan umat Allah tentang kasih dan perhatian-Nya yang tak berkesudahan kepada mereka, walaupun mereka telah sering berpaling dari-Nya. Tuhan berkata, “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku” (Yes. 43:1).

Dalam Mazmur 23, Daud menulis, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; . . . Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa” (ay.4,6).

Allah tidak pernah melupakan kita. Di mana pun kita berada atau apa pun situasi yang kita alami, Allah mengenal kita dan melingkupi kita dengan kasih-Nya yang tak berkesudahan.