Saya dan saudara-saudara saya dibesarkan di daerah West Virginia dengan hutannya yang berbukit-bukit, sebuah pemandangan yang membangkitkan imajinasi dalam diri anak-anak seperti kami. Di sana, kami memainkan adegan yang kami temukan dalam bacaan maupun film, misalnya bergelantungan seperti Tarzan atau membangun rumah pohon. Salah satu permainan favorit kami adalah membangun benteng lalu bertingkah seolah-olah kami berlindung dari serangan musuh. Bertahun-tahun kemudian, anak-anak saya pun membangun benteng dari selimut, seprai, dan bantal—membangun “tempat yang aman” dari musuh-musuh khayalan mereka sendiri. Tampaknya, mencari tempat persembunyian untuk merasa aman adalah naluri alami setiap orang.

Ketika Daud, sang pemazmur Israel, mencari tempat yang aman, Allah menjadi tujuan satu-satunya. Mazmur 17:8 menegaskan, “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu.” Jika kita melihat kehidupan Daud dan ancaman yang nyaris tak henti dihadapinya, perkataannya menunjukkan tingkat kepercayaan yang luar biasa kepada Allah (ay.6). Meski dirundung bahaya, Daud yakin bahwa di dalam Allah ada keamanan sejati.

Kita pun bisa memiliki keyakinan yang sama apabila kita mempercayakan setiap detik kehidupan kita kepada Allah yang berjanji takkan membiarkan dan meninggalkan kita (Ibr. 13:5) . Meski dunia tidak aman, Allah memberi kita damai sejahtera dan kepastian—sekarang dan selamanya. Dialah tempat yang aman bagi kita.