Konon, pada tahun 1763, seorang pendeta muda yang sedang menyusuri jalan setapak di bibir tebing di Somerset, Inggris, harus menyusup ke sebuah gua untuk menyelamatkan diri dari sambaran petir dan hujan yang sangat deras. Saat memandang ke arah Ngarai Cheddar, ia merenungkan anugerah perlindungan dan damai sejahtera yang dimilikinya di dalam Tuhan. Sambil menunggu badai reda, ia pun menuliskan himne berjudul “Batu Karang yang Teguh”, dengan lirik pembuka yang begitu lekat dalam ingatan: “Batu Karang yang teguh, Kau tempatku berteduh” (Kidung Jemaat No. 37).

Kita tidak tahu apakah Augustus Toplady terpikir tentang pengalaman Musa di dalam lekuk gunung ketika ia menuliskan himne tersebut (Kel. 33:22). Bukan tidak mungkin itu yang terjadi. Kitab Keluaran menceritakan bagaimana Musa meminta jaminan dan jawaban dari Allah. Ketika Musa meminta Allah menyatakan kemuliaan-Nya kepadanya, Allah menanggapinya dengan lembut, karena Dia tahu bahwa “tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup” (ay.20). Allah menempatkan Musa dalam lekuk gunung ketika Dia lewat, sehingga Musa hanya melihat punggung-Nya. Musa pun tahu bahwa Allah menyertainya.

Kita dapat meyakini bahwa, seperti yang dikatakan Allah kepada Musa, “Aku sendiri hendak membimbing engkau” (ay.14), kita juga akan memperoleh perlindungan di dalam Dia. Mungkin kita akan mengalami banyak badai dalam hidup kita, seperti yang dialami Musa dan pendeta muda dalam cerita di atas, tetapi saat kita berseru kepada-Nya, Dia akan memberikan kita damai sejahtera dari kehadiran-Nya.