Pada musim gugur, ketika kura-kura berwarna mulai merasakan datangnya musim dingin, ia pun menyelam ke dasar telaga, mengubur dirinya dalam kotoran dan lumpur. Ia masuk ke dalam cangkangnya dan berdiam diri: denyut jantungnya melambat, nyaris berhenti. Suhu tubuhnya turun, hingga bertahan di atas titik beku. Ia berhenti bernafas, dan menunggu. Selama enam bulan, ia tetap terkubur, dan tubuhnya mengeluarkan kalsium dari tulang-tulangnya masuk ke aliran darah, sehingga perlahan-lahan tubuhnya mulai kehilangan bentuk.

Namun, ketika es di telaga mulai mencair, kura-kura berwarna akan naik ke permukaan air dan bernafas lagi. Tulang-tulangnya akan kembali terbentuk dan ia akan merasakan hangatnya sinar mentari menerpa cangkangnya.

Saya teringat kepada kura-kura berwarna ketika membaca gambaran yang dituliskan oleh pemazmur tentang menantikan Allah. Pemazmur sedang berada dalam “lobang kebinasaan, dari lumpur rawa,” tetapi Allah mendengarnya (Mzm. 40:3). Allah mengangkat dan menempatkannya di atas bukit batu yang teguh. Ia pun menyanyikan pujian, “Engkaulah yang menolong aku dan meluputkan aku” (ay.18).

Barangkali saat ini Anda merasa telah begitu lama menantikan terjadinya perubahan—arah yang baru dalam karier, pemulihan hubungan dengan seseorang, tekad untuk mengubah kebiasaan buruk, atau kelepasan dari situasi yang sulit. Kura-kura berwarna dan pemazmur mengingatkan kita untuk mempercayai Allah: Dia mendengar seruan kita, dan Dia akan membebaskan kita.