Saat bersepeda menyeberangi jembatan George Washington yang ramai, Julio tiba-tiba diperhadapkan pada situasi antara hidup dan mati. Seorang pria sedang berdiri di pinggir jembatan dan siap melompat ke Sungai Hudson. Menyadari bahwa polisi mungkin tidak akan segera tiba, Julio pun bergerak cepat. Ia turun dari sepeda dan membentangkan tangannya, sambil berseru: “Jangan terjun. Kami mengasihimu.” Kemudian, bagaikan gembala dengan tongkatnya, ia mendekap badan laki-laki yang putus asa itu dan menyelamatkannya dengan bantuan dari orang lain yang sedang lewat di sana. Sekalipun sudah selamat, laki-laki itu tidak dibiarkan Julio pergi sendirian.

Dua ribu tahun lalu, dalam situasi antara hidup dan mati, Yesus Sang Gembala yang baik berkata bahwa Dia akan menyerahkan nyawa-Nya untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya kepada-Nya dan tidak akan pernah melepaskan mereka. Dia menjelaskan cara-Nya memberkati domba-domba-Nya: mereka yang mengenal-Nya secara pribadi akan menerima anugerah hidup yang kekal, tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan aman dalam lindungan-Nya. Jaminan itu tidak tergantung pada kemampuan domba yang lemah dan rapuh, tetapi pada kesanggupan Sang Gembala yang tidak akan membiarkan satu pun domba direbut dari tangan-Nya (Yoh. 10:28-29).

Di saat kita merasa bingung dan putus asa, Tuhan Yesus menyelamatkan kita; kini kita dapat merasa aman dan terjamin dalam hubungan kita dengan-Nya. Dia mengasihi kita, mencari kita, menemukan kita, menyelamatkan kita, dan berjanji tidak akan melepaskan kita.