Pohon aras Alaska itu meliuk-liuk tertiup angin badai yang kencang. Pohon itu disayang Regie bukan hanya karena menjadi tempat berteduh dari terik matahari tetapi juga memberi perlindungan bagi keluarganya. Sekarang badai dahsyat telah mencabut akar pohon itu dari tanah. Bersama anaknya yang berumur lima belas tahun, Regie cepat-cepat berlari untuk menyelamatkan pohon itu. Dengan tubuh seberat empat puluh kilogram dan kedua tangannya, Regie dan anaknya berusaha menahan pohon itu agar tidak tumbang. Akan tetapi, mereka tidak cukup kuat.

Allah adalah kekuatan Raja Daud ketika ia berteriak minta tolong dalam pergumulannya (ay.7). Sejumlah ahli Alkitab mengatakan Daud menulis mazmur ini saat hidupnya sedang hancur berantakan. Anak lelakinya bangkit melawannya dan berusaha merebut takhtanya (2Sam. 15). Ia merasa begitu lemah dan tak berdaya, sehingga ia takut Allah akan terus berdiam, dan ia akan mati (ay.1). “Dengarkanlah suara permohonanku, apabila aku berteriak kepada-Mu minta tolong,” seru Daud kepada Allah (ay.2). Allah pun memberi Daud kekuatan untuk terus melangkah maju, meskipun hubungan Daud dengan anaknya tidak pernah membaik.

Betapa kita rindu dapat mencegah hal-hal buruk terjadi! Andai saja kita bisa. Namun, dalam kelemahan kita, Allah berjanji bahwa kita selalu bisa berseru kepada-Nya agar Dia menjadi Gunung Batu tempat kita berlindung (ay.1-2). Di saat kita tidak lagi memiliki kekuatan, Sang Gembala yang baik akan mendukung kita selama-lamanya (ay.8-9).