Oleh: Dhimas Anugrah

Apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika mendengar istilah “pelayan Tuhan”? Mungkin kita membayangkan seorang yang berkhotbah di mimbar, memimpin puji-pujian, mengiringi musik dalam ibadah, atau mungkin juga kita membayangkan seorang aktivis gereja yang membagi-bagikan bantuan sosial, melakukan pelawatan ke rumah-rumah jemaat, pergi ke ladang misi, menjadi majelis gereja, dan lain-lain. Beragam bentuk pelayanan itu membuat orang yang terlibat di dalamnya disebut sebagai pelayan Tuhan. Namun, rasanya kita sepakat bahwa semua pelayan Tuhan pada dasarnya adalah orang yang terpanggil untuk berpartisipasi melayani Tuhan.

Tentu, melayani Tuhan bukannya tanpa tantangan. Pada hari-hari ini tantangan yang muncul bagi kita sebagai “pelayan” Tuhan tampaknya adalah kecenderungan untuk berlaku seolah diri kita adalah “tuan.” Seorang sahabat pernah berkata, “Hari-hari ini ada kecenderungan pelayan Tuhan memiliki jiwa seorang majikan. Atau gejala ingin mendapatkan penghargaan atas apa yang ia kerjakan dalam pelayanan.” Situasi ini tampaknya sudah ada dalam pelayanan para murid Yesus, sehingga Dia pun mengantisipasinya. “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya,” kata Yesus kepada murid-murid-Nya yang direkam dalam Markus 10:43-44. 

Ujaran Yesus itu merespons ketegangan di antara para murid yang marah kepada Yakobus dan Yohanes, karena mereka berdua meminta duduk mendampingi Yesus dalam kemuliaan yang akan datang (Markus 10:36). Yesus memanggil para murid dan mengajarkan bahwa inti mengikut Dia adalah untuk melayani sesama, bukan untuk mencari kemuliaan bagi diri sendiri. Ini merupakan pesan penting bagi para murid sekaligus bagi kita yang hidup di masa kini. 

Yesus memanggil para murid dan mengajarkan bahwa inti mengikut Dia adalah untuk melayani sesama, bukan untuk mencari kemuliaan bagi diri sendiri.

Seorang pelayan Tuhan adalah hamba (dalam bahasa Yunani: doulos, yang berarti budak), yaitu seseorang yang mengabdikan diri dan menyerahkan hak hidup kepada Allah, Sang Tuan, karena Dia telah membeli kita (1 Petrus 1:18-19). Pada zaman Perjanjian Baru, seorang budak yang telah dibeli oleh tuannya tidak lagi memiliki hak apa pun atas dirinya. Kehidupan si budak sepenuhnya menjadi milik sang tuan, dan tujuan hidupnya hanya satu, yaitu melakukan kehendak tuannya—kecuali jika ia mampu menebus dirinya sendiri untuk menjadi orang merdeka. Namun, selama menjadi budak, ia tidak memiliki hak apa pun atas dirinya. Ia hanya melakukan apa kata tuannya dan tidak akan berbangga diri atas pelayanan yang dilakukannya untuk tuannya, karena memang seharusnya itulah yang harus diperbuatnya (Lukas 17:10).

Setiap orang percaya dipanggil untuk melayani Allah, dengan peran dan fungsi masing-masing dalam karya dan ladang pelayanan yang telah Allah tentukan. Dari nats Alkitab tadi, kita melihat bahwa dalam lingkup pelayanan pun terdapat keinginan membesarkan nama diri sendiri. Hal ini muncul akibat desakan natur jiwa dan kebutuhan manusia yang ingin menerima pengakuan dari sesamanya. Filsuf Yunani Kuno bernama Platon mengatakan bahwa setiap manusia memiliki keinginan untuk diakui dan dihargai. Ini sejalan dengan teori dari psikolog Abraham Maslow yang menyatakan bahwa salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan akan penghargaan. Jadi, kebutuhan ini alamiah. Namun, karena segenap aspek manusia telah tercemar oleh dosa maka keinginan yang berlebihan akan penghargaan pun dapat menjadi jerat bagi manusia, termasuk para pelayan Tuhan.

Yesus memberi pesan sederhana tetapi mendalam, bahwa setiap orang yang menjadi murid-Nya dipanggil untuk rela melayani dan menghamba, bukan mencari pengakuan dan penghargaan manusia. Melayani bukan berarti memenuhi jadwal pribadi dengan beragam pelayanan, melainkan kerelaan merendahkan hati dan menempatkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan Allah dan orang lain. Ketika dalam pelayanan yang kita kerjakan muncul keinginan untuk memegahkan diri sendiri, teladan kerendahan hati Yesus dapat mengingatkan kita, bahwa kita diundang untuk melayani Tuhan dan sesama dengan hati seorang hamba, bukan demi mencari popularitas pribadi maupun membesarkan nama kita sendiri.

Saya mengenal seorang pengusaha sukses yang memegang prinsip serupa. Beliau berkata, “Karena hidup kita ini bagi Kristus, kita perlu meneladani Dia yang rela melayani tanpa memungut kekaguman orang lain bagi diri-Nya sendiri.” Kalimat ini dihidupinya dalam realitas kesehariannya. Ia mau bersahabat dan menyejajarkan diri dengan orang-orang yang menurut strata sosial-ekonomi jauh lebih rendah darinya. Ini tentu tidak selalu mudah bagi mereka yang kita anggap berada di “kalangan atas.” Namun, orang-orang yang mengenal sang pengusaha dan keluarganya dapat memberikan penilaian yang sama—bagaimana ia senang bergaul dan bersahabat dengan orang-orang dari semua lapisan masyarakat serta melayani mereka dengan penuh kasih. Ia membantu banyak orang yang berada dalam kesulitan, tanpa merasa perlu dikenali atau diakui oleh mereka. 

Kisah hidup orang-orang Kristen seperti itu bisa menjadi undangan bagi kita untuk terus melatih hati dan sikap hidup yang meneladani Yesus Kristus, Sang Pelayan Sejati. Dari teladan kerendahan hati-Nya yang sempurna, kita belajar mewaspadai hasrat yang terus-menerus menggoda kita untuk meraih penghargaan, pengakuan, kesombongan, dan kecenderungan memamerkan hasil pelayanan kita. Kiranya Tuhan menolong kita.


Persembahan kasih seberapa pun dari para pembaca di Indonesia memampukan Our Daily Bread Ministries untuk menjangkau orang-orang dengan hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup. Kami tidak didanai atau berada di bawah kelompok atau denominasi apa pun.