Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Linda Washington

Mustahil Gagal

“Mustahil gagal!” Kalimat ini diucapkan oleh Susan B. Anthony (1820–1906), tokoh pembela hak-hak asasi perempuan di Amerika Serikat. Meski terus-menerus menghadapi kritik, bahkan ditahan, diadili, dan dinyatakan bersalah karena memberikan suara secara ilegal, Anthony bersumpah takkan menyerah berjuang agar kaum wanita mendapatkan hak pilih karena meyakini bahwa perjuangannya itu benar. Meski Anthony wafat sebelum melihat buah dari perjuangannya, pernyataannya terbukti benar. Pada tahun 1920, amandemen kesembilan belas terhadap Konstitusi Amerika Serikat memberi hak kepada wanita untuk memilih.

Dibentuk dengan Saksama

Dalam sebuah video YouTube, Alan Glustoff, seorang petani keju di Goshen, New York, menjelaskan cara memfermentasi keju, suatu proses yang dilakukan untuk memberi rasa dan tekstur pada keju. Sebelum dapat dijual ke pasar, setiap blok keju disimpan dalam sebuah rak di gua bawah tanah selama enam hingga dua belas bulan. Dalam lingkungan yang lembab ini, keju tersebut diawasi dengan saksama. “Kami berusaha sedapat mungkin memberikan bagi keju itu lingkungan yang tepat untuk berkembang. . . [dan] mencapai potensinya yang paling maksimal,” jelas Glustoff.

Terang Dalam Kegelapan

Dalam buku These Are the Generations, Mr. Bae bercerita tentang kesetiaan Allah dan kuasa Injil dalam menembus kegelapan. Kakek, orangtua, dan keluarganya sendiri menderita penganiayaan karena membagikan iman mereka di dalam Kristus ke orang lain. Namun, ada hal menarik yang terjadi ketika Mr. Bae dipenjara karena bersaksi tentang Allah kepada seorang teman: Ia merasakan imannya bertumbuh. Hal yang sama terjadi kepada orangtuanya ketika mereka dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi. Mereka terus membagikan kasih Kristus di sana. Bagi Mr. Bae, janji dalam Yohanes 1:5 itu benar adanya: “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”

Penjinak Lidah

Dalam buku West with the Night, penulis Beryl Markham menerangkan usahanya menjinakkan Camciscan, seekor kuda jantan yang beringas. Ternyata upaya itu tidak mudah. Apa pun strategi yang diterapkan, Markham tidak pernah benar-benar berhasil menjinakkan kuda jantan itu, bahkan hanya pernah menaklukkannya satu kali.

Dari Mulut Bayi-Bayi

Setelah melihat Viola yang berumur 10 tahun menggunakan ranting pohon sebagai mikrofon untuk meniru sikap seorang pendeta, Michele memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada Viola untuk “berkhotbah” dalam suatu pelayanan di sebuah desa. Viola bersedia. Menurut kesaksian Michele, misionaris di Sudan Selatan, “Para hadirin terpana . . . melihat seorang anak perempuan yang pernah ditelantarkan itu berdiri dengan penuh wibawa di hadapan mereka sebagai putri dari Raja segala raja. Dengan penuh semangat, Viola berkhotbah tentang Kerajaan Allah yang hidup. Separuh hadirin pun menanggapinya dengan maju ke depan dan menerima Yesus pada saat itu” (Michele Perry, Love Has a Face).

Pujian Pengubah Suasana Hati

Di suatu stasiun, saat saya menunggu kereta untuk perjalanan yang saya lakukan setiap minggu, pikiran-pikiran negatif memadati benak saya seperti banyaknya penumpang yang mengantre untuk naik kereta—stres karena utang yang melilit, komentar pedas yang ditujukan kepada saya, perasaan tak berdaya dalam menghadapi ketidakadilan yang baru-baru ini dialami kerabat saya. Saat kereta tiba, suasana hati saya pun kacau.

Doa dan Gergaji Listrik

Saya mengagumi semangat gagah berani bibi saya, Gladys, meskipun terkadang semangatnya itu membuat saya khawatir. Kekhawatiran saya muncul lewat kabar yang ia kirim melalui e-mail: “Kemarin aku baru saja menebang pohon walnut dengan gergaji listrik.”

Kepuasan Tertinggi

Saat membagikan makanan ringan kepada anak-anak dalam suatu kegiatan Sekolah Alkitab, kami melihat seorang anak kecil yang makan dengan lahap. Kemudian ia juga memakan remah-remah makanan milik anak-anak lain di mejanya. Bahkan setelah saya memberinya sekantong popcorn, ia belum kenyang juga. Sebagai pembimbing, kami sangat prihatin dan bingung mengapa anak kecil itu begitu lapar.

Tergesa-gesa Menghakimi

Saya sering tergesa-gesa menghakimi orang-orang yang berjalan kaki sambil menatap ponsel mereka. Saya pikir, bagaimana mungkin mereka begitu masa bodoh dengan mobil yang lalu-lalang dan bisa saja menabrak mereka? Tidakkah mereka peduli dengan keselamatan mereka sendiri? Namun suatu hari, saat menyeberangi jalan menuju suatu gang, saya begitu terpaku pada sebuah pesan di ponsel sampai-sampai saya tidak menyadari mobil yang datang dari sisi kiri saya. Syukurlah, pengemudi mobil itu melihat saya dan berhenti saat itu juga. Namun, saya merasa malu. Tadinya saya pikir saya ini lebih baik daripada orang lain, tetapi kini semua penghakiman yang saya lontarkan kepada mereka berbalik kepada saya. Saya telah menghakimi orang lain karena satu hal, tetapi ternyata saya sendiri melakukan perbuatan yang sama.