Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Winn Collier

Anugerah yang Menghapus Semuanya

Alexa, perangkat keluaran Amazon yang dioperasikan dengan perintah suara, memiliki satu fitur menarik: perintah untuk menghapus semua ucapan Anda. Apa pun yang Anda perintahkan kepada Alexa, dan apa pun informasi yang Anda tanyakan, satu kalimat sederhana (“Hapus semua ucapan saya hari ini”) dapat menghapus seluruhnya sampai bersih, seakan-akan semua itu tidak pernah Anda ucapkan. Sayang sekali tidak ada fitur seperti ini dalam kehidupan kita. Andai saja, untuk setiap salah ucap, setiap tindakan tercela, setiap momen yang seandainya saja bisa kita hapus—kita tinggal mengucapkan perintah dan semua kekacauan itu akan lenyap tak berbekas.

Kerendahan Hati Bukti Kebesaran Jiwa

Ketika Revolusi Amerika tanpa diduga berakhir dengan menyerahnya Inggris, banyak politikus dan pemimpin militer berniat menjadikan Jenderal George Washington sebagai raja yang baru. Seluruh dunia mengamati dengan bertanya-tanya apakah Washington akan tetap memegang teguh prinsip-prinsip kebebasan dan kemerdekaan ketika godaan meraih kekuasaan mutlak ada dalam genggamannya. Namun, Raja Inggris, George III, melihat realitas lain. Ia yakin, jika Washington dapat menahan diri dan menolak rayuan banyak orang untuk berkuasa serta kembali ke tanah pertaniannya di Virginia, maka ia akan menjadi “tokoh terbesar di dunia.” Sang raja tahu bahwa kesanggupan menolak daya tarik kekuasaan merupakan pertanda seseorang itu benar-benar berjiwa besar dan mulia. 

Pengampunan yang Mustahil

Pasukan yang berhasil membebaskan para tawanan di kamp konsentrasi Ravensbruck tempat hampir 50.000 wanita dibinasakan oleh Nazi menemukan secarik kertas lusuh bertuliskan doa ini: Ya Tuhan, janganlah hanya mengingat orang-orang baik, tetapi ingat jugalah mereka yang jahat. Namun, janganlah mengingat penderitaan yang mereka perbuat terhadap kami. Ingatlah buah-buah yang kami hasilkan berkat penderitaan ini—persahabatan, kesetiaan, kerendahan hati, keberanian, kemurahan hati, kebesaran hati kami yang tumbuh dari peristiwa ini. Ketika kelak mereka menghadap-Mu untuk dihakimi, biarlah semua buah yang telah kami hasilkan membawa pengampunan bagi mereka.

Mengarungi Air

Film The Free State of Jones yang mengambil latar belakang Perang Saudara Amerika Serikat berkisah tentang Newton Knight dan para desertir dari pihak Konfederasi serta para budak yang membantu pasukan Union dan kemudian menentang para pemilik budak setelah perang usai. Banyak yang menghormati Knight sebagai pahlawan, tetapi hidupnya sendiri harus diselamatkan dahulu oleh dua orang budak setelah ia desersi. Mereka membawanya jauh ke pelosok rawa yang terpencil lalu mengobati kakinya yang terluka sewaktu ia membelot dari pasukan Konfederasi. Seandainya kedua budak itu mengabaikannya, ia pasti sudah mati.

Kerinduan Kita yang Terdalam

Semasa muda, Duncan pernah takut bakal kekurangan uang, maka di awal usia dua puluhan, ia sangat ambisius membangun masa depannya. Dengan meniti karier di sebuah perusahaan terkemuka di Silicon Valley, Amerika Serikat, Duncan berhasil meraih kekayaan melimpah. Ia mempunyai tabungan besar, mobil sports mewah, dan rumah senilai jutaan dolar di California. Ia memiliki semua yang ia dambakan; tetapi masih merasa sangat tidak bahagia. “Saya terus merasa cemas dan tidak puas,” kata Duncan, “Bahkan, kekayaan dapat membuat hidup lebih buruk.” Uang banyak ternyata tidak memberinya persahabatan, komunitas, atau sukacita—justru sering mendatangkan sakit hati.

Melihat Keselamatan

Di usia lima puluh tiga tahun, Sonia sama sekali tidak pernah terpikir akan meninggalkan usahanya dan negaranya, lalu bergabung dengan sekelompok orang yang mencari suaka ke negara lain. Setelah keponakan laki-lakinya dibunuh oleh komplotan perusuh dan mereka juga memaksa anak laki-lakinya yang berusia 17 tahun untuk masuk dalam komplotan mereka, Sonia merasa bahwa melarikan diri menjadi satu-satunya pilihan. “Saya berdoa kepada Allah . . . apa pun akan saya lakukan,” Sonia menjelaskan, “asalkan kami berdua tidak mati kelaparan. . . . Saya lebih senang melihat anak saya menderita di sini daripada hidupnya berakhir di selokan atau di dalam karung.“

Dibebaskan dari Kurungan

Saat sedang berjalan-jalan santai, penulis Martin Laird sering bertemu dengan seorang pria yang membawa empat ekor anjing Kerry Blue Terrier. Tiga anjingnya berlari-lari liar di padang terbuka, tetapi yang seekor lagi tidak pernah jauh-jauh dari pemiliknya dan hanya berputar-putar saja. Ketika Laird bertanya tentang perilaku janggal tersebut, pemiliknya menjelaskan bahwa anjing yang satu itu adalah anjing yang diadopsi dari penampungan, yang menghabiskan sebagian besar hidupnya terkurung dalam kandang. Setelah bebas, anjing Terrier itu tetap berjalan berputar-putar, seolah-olah masih berada dalam kandang yang tertutup.

Membawa Anak kepada Allah

Seorang tokoh ateis secara terus terang meyakini bahwa orangtua yang mengajarkan agama kepada anak-anaknya seolah-olah agama itu benar merupakan tindakan yang tak bermoral. Ia bahkan berpendapat bahwa orangtua seperti itu telah melanggar hak asasi sang anak. Meski pendapat tersebut terdengar ekstrem, saya pernah mendengar sendiri bagaimana sejumlah orangtua ragu untuk terang-terangan mendorong anak-anak mereka mempercayai iman Kristen. Meski sebagian besar dari kita tidak ragu-ragu mempengaruhi anak-anak kita dengan pandangan kita soal politik, gizi, atau olahraga, tetapi entah mengapa sebagian dari kita tidak yakin soal meneruskan keyakinan iman kepada anak-anak.

Allah Menunggu

Ketika Denise Levertov berumur dua belas tahun, jauh sebelum menjadi penyair terkenal, ia berinisiatif mengirimkan kumpulan puisinya ke penyair besar T. S. Eliot. Setelah menanti-nantikan balasannya, Denise terkejut menerima dua lembar pesan dorongan untuknya yang ditulis Eliot dengan tangannya sendiri. Dalam pengantar buku kumpulan puisinya, The Stream and the Sapphire, Denise menjelaskan bagaimana puisi-puisinya “menelusuri pergeseran keyakinannya dari agnostisisme kepada iman Kristen.” Karena itu, sangat luar biasa menyadari bahwa salah satu puisinya yang berjudul “Annunciation” bercerita tentang penyerahan diri Maria kepada Allah. Di dalamnya dilukiskan bagaimana Roh Kudus tidak ingin memaksa Maria, melainkan Dia rindu agar Maria menerima bayi Kristus dengan kerelaannya sendiri. Dua kata ini muncul di tengah-tengah puisi itu: “Allah menunggu.”