Category  |  Santapan Rohani

Berlari dan Beristirahat

Tajuk berita utama di sebuah surat kabar menarik perhatian saya: “Istirahat itu Penting bagi Pelari”. Dalam artikel yang ditulis oleh Tommy Manning, seorang mantan anggota tim lari gunung Amerika Serikat, disebutkan bahwa ada satu prinsip yang kadang diabaikan oleh para atlet, yakni tubuh kita memerlukan waktu untuk beristirahat dan memulihkan tenaga setelah menjalani latihan. “Secara psikologis, proses adaptasi yang terjadi sebagai hasil dari pelatihan itu hanya dapat terjadi selama masa istirahat,” tulis Manning. “Itu berarti beristirahat sama pentingnya dengan berlatih.”

Sepercik Api

Pada suatu Minggu malam di bulan September, ketika sebagian besar orang sedang tidur, sepercik api tersulut di toko roti milik Thomas Farriner di Pudding Lane. Api dengan cepat merambat dari satu rumah ke rumah lain, dan London pun dilanda kebakaran besar pada tahun 1666. Lebih dari 70.000 orang kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran yang memusnahkan 80 persen wilayah kota itu. Begitu dahsyat kehancuran yang berasal dari sepercik api!

Ada Masalah

Pagi hari setelah kelahiran anak kami, Allen, dokter duduk di sebelah tempat tidur saya dan berkata, “Kami menemukan masalah.” Anak kami yang terlihat sempurna secara fisik ternyata memiliki cacat bawaan yang mengancam jiwanya dan perlu diterbangkan ke sebuah rumah sakit yang jauhnya lebih dari 1.000 km untuk segera dioperasi.

Terlebih Dahulu Memilih

Dalam sejumlah budaya di dunia, ketika memasuki ruangan, orang yang lebih muda diharapkan mendahulukan orang yang lebih tua. Dalam budaya lain, orang yang paling penting atau berkedudukan paling tinggilah yang memasuki ruangan lebih dahulu. Apa pun tradisi kita, adakalanya kita merasa sulit membiarkan seseorang untuk terlebih dahulu memilih hal-hal yang penting, apalagi jika kita sebenarnya memiliki hak untuk melakukannya.

Merembes Lewat Jemari Tangan

Setelah saya tidak sengaja menyenggol gelas pada konter di sebuah restoran, air minuman yang tumpah mulai mengalir ke tepi meja dan menetes ke lantai. Saya berusaha menampung tumpahan itu dengan menangkupkan kedua telapak tangan saya. Namun, usaha itu sia-sia karena sebagian besar minuman itu merembes melalui jemari tangan saya. Akhirnya kedua telapak tangan saya hanya dapat menampung air tidak lebih dari satu sendok makan, sementara kedua kaki saya sudah basah kuyup tergenang air.

Warisan yang Baik

Kakek dan nenek tidak memiliki banyak uang, tetapi mereka selalu berhasil membuat setiap Natal terasa berkesan bagi saya dan sepupu-sepupu saya. Selalu ada banyak makanan, kegembiraan, dan kasih sayang. Selain itu sejak kecil kami belajar bahwa hanya Kristus yang membuat kami semua dapat merayakan Natal.

Tangan Terbuka

Pada hari saya dan Dan, suami saya, mulai merawat kedua orangtua kami yang sudah lanjut usia, kami sama-sama merasa seolah sedang terjun bebas ke dalam jurang. Kami tidak menyangka bahwa hal tersulit yang akan kami hadapi dalam proses merawat lansia adalah ketika membuka hati kami agar diselidiki dan dibentuk oleh Allah. Bukan itu saja, kami juga harus memberikan tempat bagi Allah untuk memakai masa-masa yang khusus itu untuk menjadikan kami semakin serupa dengan-Nya dengan cara-cara yang baru.

Wawancara yang Mengejutkan

Suatu pagi, dalam kereta komuter yang padat di London, seorang penumpang mendorong dan memaki penumpang lain yang dianggap menghalangi jalannya. Biasanya peristiwa seperti itu hanyalah momen sepele yang berlalu begitu saja. Namun, ternyata ada hal tak terduga yang terjadi setelah itu. Seorang manajer dari sebuah perusahaan mengirim pesan kilat kepada teman-teman di sosial medianya, “Coba tebak, siapa yang baru saja datang untuk mengikuti wawancara kerja.” Pada saat tulisannya itu tersebar melalui dunia maya, orang-orang yang membacanya pun tersenyum kecut. Bayangkan jika Anda diundang untuk wawancara kerja, lalu menemukan ternyata yang mewawancarai Anda adalah orang yang tadi pagi telah Anda dorong dan maki.

Itu Bukan Aku

Dalam masa liburan baru-baru ini, saya memutuskan untuk menumbuhkan janggut. Banyak respons dan pujian datang dari teman-teman dan rekan kerja saya. Namun suatu hari, saya memperhatikan janggut saya dan berpikir, “Itu bukan aku.” Maka saya pun memutuskan untuk mencukurnya.