Category  |  Santapan Rohani

Apakah Semua Jalan Sama?

“Jangan lewat jalan tol!” Itulah pesan yang dikirim anak perempuan saya pada suatu hari ketika saya hendak pulang kantor. Hari itu, jalan tol menuju rumah sudah seperti tempat parkir karena kemacetan yang parah. Saya mencoba mencari beberapa jalan alternatif untuk pulang, tetapi setelah mengalami kemacetan parah di mana-mana, akhirnya saya menyerah. Saya memutuskan untuk menunda kepulangan sampai situasi membaik, dan akhirnya mengendarai mobil ke arah yang berlawanan untuk menghadiri sebuah kegiatan olahraga yang diikuti oleh cucu perempuan saya.   

Allah Kita yang Penuh Belas Kasihan

Pada suatu malam di musim dingin, seseorang melempari jendela kamar tidur seorang anak laki-laki Yahudi dengan batu. Di jendela tersebut terpasang gambar bintang Daud dan menorah sebagai lambang perayaan Hanukkah, hari raya Yahudi yang juga disebut Festival Penahbisan. Di kota Billings, Montana, tempat anak laki-laki itu tinggal, ribuan orang—banyak di antara mereka adalah orang Kristen—merespons aksi kebencian itu dengan tindakan belas kasihan. Untuk menunjukkan dukungan mereka kepada saudara-saudari Yahudi mereka yang terluka dan ketakutan, mereka beramai-ramai ikut menempelkan gambar menorah pada jendela rumah mereka masing-masing.

Berkenan di Hati Allah

Ketika para bankir senior di Asia ditanyai apa pertanyaan favorit yang mereka ajukan saat mewawancarai calon karyawan, salah seorang dari antara mereka menjawab: “Bagaimana Anda menerangkan arti kesuksesan dan bagaimana cara meraihnya?” CEO dari Citibank Singapura tersebut menjelaskan, “Saya ingin memahami apa motivasi mereka dalam mencapai kesuksesan. Ini memungkinkan saya mengenal inti dari calon [yang saya wawancara itu] dan nilai-nilai yang mereka pegang.”

Memutus Siklus

Pertama kalinya David dipukul oleh ayahnya adalah ketika ia berulang tahun yang ketujuh, setelah tanpa sengaja ia memecahkan kaca jendela. “Ayah menendang dan menonjokku,” kata David. “Setelah itu, Ayah meminta maaf. Ia seorang pemabuk dan suka bersikap kasar, dan siklus buruk itulah yang benar-benar ingin kuputus sekarang.”

Memandang Melampaui Masalah

Awan-awan melayang rendah, menutupi cakrawala dan membatasi jarak pandang hingga tinggal beberapa ratus meter saja. Waktu terasa berjalan lambat. Keadaan tersebut membuat hati saya gundah. Namun kemudian, menjelang siang, awan mulai menyingkir, dan saya pun melihatnya: Pikes Peak, puncak tertinggi dari Pegunungan Rocky dan penanda kota saya yang paling terkenal, yang diapit pada kiri-kanannya oleh deretan pegunungan. Senyum pun merekah pada wajah saya. Saya menyadari bahwa perspektif fisik kita—jarak pandang mata kita yang sebenarnya—ternyata dapat mempengaruhi perspektif rohani kita. Saya pun teringat kepada nyanyian pemazmur, “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung” (Mzm. 121:1). Terkadang yang perlu kita lakukan hanyalah mengangkat mata kita sedikit lebih tinggi!

Mahkota Kertas

Setelah menikmati sajian istimewa di rumah saya, setiap orang yang hadir dalam pesta kami membuka bungkusan buah tangan mereka yang berisi aneka jenis permen, mainan kecil, dan konfeti. Namun, masih ada satu benda lagi–setiap orang mendapatkan sebuah mahkota kertas. Kami semua tidak sabar untuk memakainya, lalu tersenyum geli melihat penampilan kami masing-masing. Untuk saat itu saja, kami merasa menjadi raja dan ratu, meskipun kerajaan kami hanyalah ruang makan yang berantakan dan dikotori oleh sisa-sisa makan malam yang baru kami nikmati.

Buanglah

Ketika rumah tangga kakak laki-lakinya mulai bermasalah, Rebecca sungguh-sungguh berdoa agar keluarga mereka utuh kembali. Namun, akhirnya mereka bercerai. Kemudian kakak iparnya membawa anak-anak mereka pindah ke negara bagian lain, sementara sang kakak diam dan tidak berbuat apa-apa. Rebecca tidak pernah bertemu lagi dengan keponakan-keponakan yang sangat ia sayangi. Bertahun-tahun kemudian, ia berkata, “Karena aku mencoba memendam kesedihan ini sendiri, aku membiarkan akar pahit tumbuh dalam hatiku, dan itu menyebar ke keluarga dan teman-temanku.”

Allah bagi Mereka yang Terabaikan

“Terkadang saya merasa seolah-olah saya terabaikan. Padahal saya ingin sekali dipakai oleh Allah,” kata Ann, pegawai yang sedang merapikan ruang olahraga di hotel yang saya kunjungi. Lewat obrolan kami, saya mendapati bahwa ternyata kisah hidup Ann sangat luar biasa.

Tiuplah Trompetnya

“Taps” adalah lagu dari bunyi trompet yang dimainkan oleh anggota militer Amerika Serikat di penghujung hari atau dalam upacara pemakaman. Saya takjub ketika membaca lirik tidak resminya dan menemukan bahwa banyak dari bait lagu itu diakhiri dengan frasa “God is nigh” (Allah itu dekat). Entah sedang menyambut tibanya malam atau sedang berkabung karena wafatnya seseorang yang dikasihi, lirik tersebut menawarkan keyakinan yang indah kepada para prajurit bahwa Allah itu dekat.