Oleh Dhimas Anugrah

Pernahkah Anda menatap kalender baru dan merasa … sedikit gentar?

Memasuki 2026, kita dibombardir oleh suara bising yang tumpah ruah lewat satu genggaman layar ponsel. Di sana, algoritma seolah sibuk mendikte masa depan kita, sementara berita tentang angka-angka ekonomi diperdebatkan seolah-olah menjadi satu-satunya penentu hidup dan mati. Semuanya terasa melesat begitu cepat, namun di dalam hati, orientasi hidup kita justru sering kali terasa kabur.

Beberapa waktu lalu, seorang teman bertanya pada saya dengan suara getir. “Apa yang harus dilakukan tahun ini, Mas? Investasi apa? Strategi apa yang bakal aman? Rasanya semua serba tidak pasti.”

Pertanyaan itu wajar, bahkan sangat manusiawi. Namun, di tengah kepungan pertanyaan teknis tentang “bagaimana” cara bertahan hidup, kita mungkin luput mengajukan satu pertanyaan yang lebih mendasar: di dalam waktu siapakah kita sedang hidup?

Berbagai kelompok dan budaya di dunia punya masing-masing cara untuk menentukan waktu. Semisal di Tiongkok dan banyak wilayah Asia, jutaan orang masih setia mengikuti ritme bulan lewat kalender lunar untuk menandai musim dan harmoni alam. Di belahan bumi lain, tahun Hijriah menjadi kompas perjalanan iman yang merujuk pada peristiwa besar hijrahnya seorang tokoh agama.

Jika kita perhatikan, setiap peradaban punya titik nol atau sosok agung yang mereka jadikan rujukan untuk menandai waktu. Pertanyaannya selalu sama: waktu ini milik siapa? Siapa yang dianggap paling penting untuk diingat setiap kali kita melihat tanggal?

Di tengah warna-warni penanggalan itu, ada satu sistem yang akhirnya disepakati dunia secara resmi untuk berjalan bersama, bahkan di dokumen-dokumen kerja yang kita tanda tangani setiap hari: Anno Domini (AD) atau yang kita kenal sebagai Masehi. Sistem yang kita gunakan untuk menulis angka “2026” hari ini sebenarnya menyimpan sebuah cerita sederhana namun mendalam dari abad ke-6.

Dari Kebutuhan Liturgis ke Revolusi Makna Sejarah

Sistem penanggalan ini dirumuskan oleh Dionisius Exiguus, seorang rohaniwan Kristiani sekaligus matematikawan. Menariknya, Dionisius awalnya bekerja bukan sebagai filsuf sejarah, melainkan sebagai ahli perhitungan waktu yang menghadapi persoalan teknis: bagaimana menentukan tanggal Paskah secara akurat bagi seluruh gereja.

Bagi Dionisius, Paskah—kebangkitan Kristus—adalah jantung dari seluruh kehidupan. Dia ingin memastikan bahwa seluruh umat merayakan kemenangan Kristus atas maut pada waktu yang seragam. Namun, di balik tugas praktis itu, ada kegelisahan pastoral yang mendalam. Dia berusaha menghentikan penggunaan kalender yang saat itu masih merujuk pada masa pemerintahan kaisar-kaisar Romawi yang dikenal sebagai penindas umat Kristen.

Bagi Dionisius, menandai waktu dengan nama para penindas iman adalah sebuah kontradiksi simbolik. Bagaimana mungkin sejarah keselamatan dirujuk melalui tokoh yang justru menentangnya? Lantas, dia memilih untuk menghitung tahun berdasarkan kelahiran Yesus Kristus.

Tuhan kita bukan hanya Allah yang menciptakan waktu dari jauh. Dia adalah Sang Alfa dan Omega yang memegang kendali atas setiap detik hidup kita.

Dengan keputusan ini, Dionisius secara implisit memindahkan pusat orientasi sejarah. Waktu tidak lagi dibaca dari kejayaan imperium atau silsilah penguasa, melainkan dari satu peristiwa yang dianggap menentukan arti seluruh perjalanan manusia: Inkarnasi. Itulah mengapa sistem ini dinamai Anno Domini, yang artinya: “Tahun Tuhan Kita.”

Menemukan “Jangkar” di tengah Badai 2026

Kesadaran bahwa waktu memiliki pusat makna ini menuntut sebuah sikap iman. Jika sejarah memiliki pusat, maka penanggalan berubah menjadi pertanyaan rohani: bagaimana kita hidup ketika waktu kita berada di bawah kedaulatan Tuhan?

Sering kali kita merasa tahun baru adalah beban yang harus kita pikul sendiri. Kita cemas soal “angka-angka” kita: angka saldo tabungan, angka pencapaian karier, atau angka usia yang terus bertambah. Namun, istilah Anno Domini mengingatkan bahwa 2026 bukan milik kecemasan kita.

Tuhan kita bukan hanya Allah yang menciptakan waktu dari jauh. Dia adalah Sang Alfa dan Omega—Yang Awal dan Yang Akhir—yang memegang kendali atas setiap detik hidup kita (Wahyu 1:8). Dia adalah Pemilik waktu yang tidak pernah terkejut oleh fluktuasi ekonomi atau perubahan teknologi.

Namun, apakah Dia hanya memantau kita dari jauh sementara kita terseok-seok menjalani 365 hari dalam setahun? Di sinilah konsep Immanuel menjadi begitu vital.

Immanuel berarti Allah menyertai kita. Penyertaan-Nya bukan sekadar “mampir” saat kita sedang beribadah. Tuhan berkenan dwelling—menetap—di dalam keseharian kita. Dia yang menjadi pusat sejarah adalah Tuhan yang sama yang mau berjalan bersama kita di dalam ruang kantor yang penuh tekanan, di tengah diskusi meja makan yang tegang soal masa depan anak, hingga di dalam keheningan kamar saat Anda merasa sendirian.

Rasul Paulus dalam Perjanjian Baru memberikan sebuah jaminan yang sangat personal bagi kita yang sedang cemas memasuki tahun baru: “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19). Pemeliharaan Allah tidak dilepaskan dari Kristus; justru di dalam Kristuslah jaminan itu menjadi utuh. Inkarnasi yang menjadi pusat Anno Domini juga menjadi dasar kepercayaan bahwa Allah tidak menjauh dari kebutuhan umat-Nya.

Inilah jangkar rohani kita: Perubahan zaman mungkin membuat kita pusing, tapi karakter Sang Pemilik Waktu tetap sama. Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibrani 13:8).

Melangkah dengan Iman yang Tenang

Memasuki 2026 dalam terang “Tahun Tuhan Kita” berarti kita bisa melangkah dengan iman yang tenang. Bukan iman yang menutup mata terhadap realitas, tapi iman yang melihat realitas dalam bingkai kesetiaan Allah.

Allah yang pernah memelihara di masa lalu, adalah Allah yang sedang memelihara hari ini, dan Dia pulalah Allah yang akan terus memelihara sampai garis akhir.

Ketika teman saya tadi bertanya, “Apa yang harus dilakukan?”, jawabannya kini bukan lagi sekadar to-do-list atau aspek-aspek teknis. Kita memang tetap harus bekerja dengan tanggung jawab, menyusun strategi yang bijak, dan mengelola hidup dengan disiplin. Namun, kita tidak lagi melakukannya dengan jeritan kecemasan yang mencekik.

Kita melakukannya karena kita tahu bahwa kita tidak sedang berjalan sendirian menuju kegelapan. Kita sedang berjalan di dalam waktu yang sudah ditebus oleh Kristus.

2026 bukan sekadar deret angka. Ini adalah kanvas baru di mana Sang Pemilik Waktu akan melukiskan kebaikan-Nya dalam hidup Anda. Anno Domini bukan hanya cara menamai tahun, melainkan cara kita berharap. Allah yang pernah memelihara di masa lalu, adalah Allah yang sedang memelihara hari ini, dan Dia pulalah Allah yang akan terus memelihara sampai garis akhir.

Selamat memasuki Tahun Tuhan Kita. Mari kita menyerahkan setiap rencana dan harapan kita kepada Dia yang telah berjanji untuk tetap tinggal bersama kita, sampai akhir zaman.

Apakah Anda ingin menjalani tahun ini dengan terus menikmati kepuasan dalam Kristus? Temukan jawabannya dalam artikel “Mengawali Tahun dengan Hati yang Puas”!

 


Pelayanan Our Daily Bread Ministries di Indonesia didukung terutama oleh persembahan kasih dari para pembaca, baik individu maupun gereja di Indonesia sendiri, yang memampukan kami untuk terus membawa hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup kepada banyak orang di dalam negeri.