“Kok dunia ini nggak bisa anteng, ya?” 

Kalimat itu terlintas di pikiran saya saat membuka media sosial hari ini. Kabar tentang peperangan dan bayang-bayang krisis global rasanya begitu menyesakkan. Meskipun konflik besar terjadi ribuan kilometer dari tempat tinggal kita, tapi kecemasannya bisa sampai ke dalam rumah, bahkan ke dalam hati kita.

Tapi, sejujurnya, bagaimana cara tetap percaya saat segalanya terasa ngeri? Apakah percaya itu berarti mengabaikan realita? Atau ada jaminan yang jauh lebih dalam yang Yesus tawarkan bagi kita yang hidup di tengah dunia yang mengkhawatirkan ini?

Untuk menolong kita, simak cuplikan perenungan dari Bill Crowder tentang ucapan Tuhan Yesus di Yohanes 14:1.

“Janganlah gelisah hatimu.”

Mengawali Yohanes pasal 14, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya bahwa mereka dapat mempercayai-Nya. Perkataan Yesus bagaikan suara yang memberikan ketenangan di tengah kekalutan yang mereka alami—dan kata-kata ini dapat juga memberikan ketenangan kepada kita. “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku” (ay.1).

Kata-kata tersebut tidak diucapkan kepada mereka yang sedang santai bersama. Yesus mengatakannya kepada orang-orang seperti Petrus yang sedang berduka, gelisah, dan kalut. Menanggapi keadaan hati mereka, Yesus mengucapkan dua kalimat penghiburan:

Janganlah gelisah hatimu. Itu merupakan kalimat larangan yang tegas. Kata gelisah berarti “bergolak, terusik, dibuat kalut.” Sesungguhnya Yesus berkata “Tenangkan hatimu yang kalut.” Hati berbicara tentang pusat pengertian kita, kepribadian kita yang terdalam, bagian diri yang menjadikan kita unik. Kepada jati diri kita itulah, Yesus menasihati kita untuk tidak merasa gelisah.

Mengapa hati mereka gelisah? Mereka merasa takut akan sesuatu yang tidak mereka ketahui, takut akan masa depan, dan mungkin yang terutama adalah takut akan diri mereka sendiri. Yesus menasihati mereka agar tidak membiarkan ketakutan dan kekalutan itu menguasai hati mereka. Meskipun demikian, penting untuk diperhatikan bahwa Yesus tidak sekadar mengatakan, “Jangan khawatir, tenang saja, semua pasti baik-baik saja.” Yesus memberi mereka alasan untuk tidak merasa khawatir. Yesus memberikan diri-Nya sendiri sebagai alasan dari damai yang mereka terima.

Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Yesus tak hanya meminta mereka untuk memberanikan diri, menabahkan hati, atau mengatasinya. Dia memberi mereka titik awal untuk memperoleh damai, yaitu sikap percaya. Dia menantang mereka untuk menaruh keyakinan mereka kepada-Nya sehingga mereka dapat mengatasi ketakutan dan keputusasaan yang mereka alami. Perkataan Yesus menantang mereka untuk mempercayai-Nya sebagaimana mereka selama ini telah diajar untuk mempercayai Allah.

Bagi yang sedang berenang dalam ketakutan, kata-kata itu bagaikan sekoci penolong bagi mereka. Kata-kata yang menawarkan pertolongan dan rasa aman. Yesus seakan-akan berkata kepada mereka (dan kita), “Kamu akan gagal, tetapi Aku tidak pernah gagal. Percayalah dan yakinlah kepada-Ku dalam masa-masa sulit yang akan terjadi. Aku tidak akan pernah mengecewakan atau meninggalkanmu, meskipun kamu akan meninggalkan Aku. Kamu dapat mempercayai-Ku, apa pun yang akan kamu hadapi nanti.” Janji damai-Nya berhubungan langsung dengan kepercayaan kita kepada-Nya dan kesanggupan-Nya untuk membawa kita melewati segala kesulitan.

“Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.”

Bagi pengikut Kristus yang percaya akan salib dan kebangkitan Kristus, keyakinan itu bahkan jauh lebih kuat. Kita sudah mengalami kemenangan dari kebangkitan-Nya. Dia yang telah mengalahkan kematian tidak pernah mengecewakan kita sebelumnya, dan Dia juga tidak akan mengecewakan kita sekarang (lihat 1 Korintus 15). Kita akan memperoleh damai, karena penghiburan yang Dia berikan itu nyata dan janji-Nya dapat dipercaya (Roma 5:1-2).


Baca Juga:

Damai di tengah Dunia yang Kalut

Telusuri lebih jauh untuk menemukan penghiburan dan sudut pandang yang lebih jernih tentang janji Kristus melalui e-book Seri Terang Ilahi: “Damai di tengah Dunia yang Kalut” karya Bill Crowder.


Pelayanan Our Daily Bread Ministries di Indonesia didukung terutama oleh persembahan kasih dari para pembaca, baik individu maupun gereja di Indonesia sendiri, yang memampukan kami untuk terus membawa hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup kepada banyak orang di dalam negeri.