Oleh Dhimas Anugrah
Tiga belas tahun lalu, dunia pernah heboh. Konon katanya, 21 Desember 2012 dunia akan di-reset, alias kiamat. Meskipun banyak orang tahu ini hanya gosip dan ramalan, tak sedikit yang merasa penasaran atau was-was. Gongnya adalah sebuah film Hollywood dengan judul “2012” yang laris di mana-mana.
Tentu saja, 2012 sudah jauh di belakang dan dunia terus berjalan. Namun, kekhawatiran akan “kiamat” tidak serta merta hilang. Kini, gelombang kecemasan serupa kembali terasa, tetapi dengan sumber yang berbeda. Jika histeria 2012 lahir dari tafsiran kalender kuno Suku Maya, kecemasan yang baru ini mengerucut pada tahun 2030, dan sumbernya datang dari para ahli. Lembaga riset ekonomi memperingatkan tentang “Depresi Besar Kedua”, dan para ilmuwan berbicara tentang ancaman kelangkaan pangan, air, dan energi. Ini bukan lagi ramalan mistis, melainkan konvergensi data yang membuat banyak orang kembali merasa was-was.
Membaca Pola, Bukan Bola Kristal
Dihadapkan pada masa depan yang mengerikan pastilah membuat kita merasa ngeri, namun di sinilah iman Kristiani menawarkan sebuah lensa yang berbeda. Alih-alih ikut panik atau mencoba meramal tanggal spesifik, kita diajak membaca pola zaman dengan hikmat. Yesus sendiri dengan tegas mengingatkan dalam Matius 24:36, “Tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu… hanya Bapa sendiri.” Fokus iman kita bukanlah pada kapan akhir zaman akan datang, melainkan pada bagaimana kita memahami tanda-tandanya dan meresponsnya dengan iman yang dewasa.
Untuk menggambarkan ini, Alkitab memakai analogi yang amat kuat: sakit bersalin. Perang, kelaparan, wabah, dan gejolak alam yang kita lihat ibarat kontraksi seorang ibu: menyakitkan, dan terasa semakin intens menjelang persalinan. Namun, tujuan akhirnya bukanlah kehancuran total, melainkan kelahiran sesuatu yang baru. Dengan perspektif ini, krisis yang diramalkan tidak kita baca sebagai titik final, melainkan sebagai sebuah transisi yang menyakitkan sekaligus penuh harapan. Pertanyaannya bukan lagi, “Apakah dunia akan hancur?”, melainkan, “Dalam guncangan ini, apa yang sedang Allah runtuhkan, dan apa yang sedang Ia lahirkan?”
Keruntuhan dan pembangunan kembali selalu bergema dalam narasi besar Alkitab. Para penulis Alkitab yang diilhamkan Roh Allah mencatat bagaimana umat Tuhan merespons di tengah krisis: bukan dengan kepanikan, melainkan dengan iman yang radikal sekaligus praktis.
Kita melihat Nuh, yang di tengah dunia yang menuju kehancuran, tidak ikut larut dalam kepanikan atau kesibukan sia-sia dunia itu. Sebaliknya, dia taat pada satu perintah spesifik: membangun bahtera—sebuah proyek raksasa yang menuntut ketekunan dan iman di tengah cemoohan (lihat Kejadian 6). Bahtera itu menjadi inkubator bagi dunia baru. Nuh tidak mempertahankan masa lalu; ia menyiapkan ruang bagi masa depan.
Berabad-abad kemudian, Yeremia berdiri di tengah keruntuhan bangsanya. Pesannya pahit: kehancuran tak bisa dihindari. Namun, dari hatinya yang hancur, dia justru menyalakan pengharapan. Dia menyerukan kepada para orang buangan di Babel untuk melakukan hal yang tak terduga: membangun rumah, menanam kebun, dan mengusahakan kesejahteraan kota asing tempat mereka tinggal (lihat Yeremia 29). Menanam di tanah pembuangan adalah sebuah tindakan iman radikal yang percaya bahwa masa depan tetap bisa bertumbuh, bahkan di ladang yang paling asing.
Pola yang sama kita lihat pada jemaat mula-mula. Saat wabah melanda Roma dan para pejabat melarikan diri, mereka justru tinggal untuk merawat yang sakit, tanpa membeda-bedakan. Mereka tidak merebut kekuasaan, melainkan membentuk sebuah komunitas alternatif yang mengalahkan Roma bukan dengan pedang, melainkan dengan kasih dan bela rasa.
Menjadi Tanda Harapan di Zaman Kita
Tiga contoh di atas menegaskan kita untuk memahami bahwa ketika sistem dunia runtuh, umat Allah tidak dipanggil untuk larut dalam kepanikan sia-sia. Mereka justru dipanggil untuk peka membaca tanda zaman (bdk. Mat. 16:3) dan mulai membangun benih-benih dunia baru di antara puing-puing yang lama.
Kini, di tengah masa depan dunia yang semakin tidak pasti, pola yang sama menantang kita untuk bertanya: Seperti apa wujud ‘bahtera’, ‘kebun pembuangan’, dan ‘komunitas’ yang bisa kita bangun di abad ke-21 ini?
“Bahtera” kita saat ini mungkin bukanlah kapal kayu, melainkan komunitas-komunitas kecil yang melindungi kebenaran dan kemanusiaan di tengah derasnya disinformasi dan polarisasi.
“Menanam kebun” bisa berarti memperkuat jaringan sosial kita, mendukung usaha kecil di sekitar kita, dan menumbuhkan ekonomi yang berlandaskan bela rasa, bukan keserakahan. Setiap relasi yang kita rawat adalah tanda bahwa harapan bisa berakar bahkan di tanah yang terasa asing.
Dan, “komunitas yang saling mendukung” kita lahir dari hospitalitas yang radikal atau saya sebut juga sebagai “meja makan yang terbuka”. Ini bukan sekadar teori, tapi tindakan nyata.
Kisah gereja-gereja di Polandia yang menampung pengungsi Ukraina, atau komunitas Kristiani di Amerika yang mendampingi keluarga Afghanistan, adalah saksi yang jauh lebih kuat daripada seribu khotbah. Ruang aman yang seperti ini—yang menyambut mereka yang lapar dan kesepian, melampaui sekat identitas—menunjukkan bahwa kasih membangun ruang bersama, bukan tembok pemisah.
Jadi, pada akhirnya, apa yang bisa kita lakukan saat masa depan terdengar begitu menakutkan?
Jawabannya sederhana: kita tidak dipanggil untuk ikut panik. Kita dipanggil untuk melakukan apa yang Nuh lakukan: membangun bahtera di tengah dunia yang tidak peduli.
Kita dipanggil melakukan apa yang Yeremia lakukan: menanam kebun di tempat yang terasa asing.
Kita dipanggil melakukan apa yang gereja di Polandia lakukan: membuka meja makan bagi mereka yang kedinginan dan ketakutan.
Ini semua bukanlah proyek panik untuk menyelamatkan diri sendiri. Ini adalah cara kita berpartisipasi dalam karya Tuhan. Saat dunia lama runtuh, kita bisa sibuk membangun sesuatu yang baru.
Kita memang tidak bisa menghentikan badai. Tapi kita bisa menjadi ‘bahtera’ kecil yang aman bagi satu orang. Kita bisa menjadi ‘kebun’ yang memberi makan satu keluarga. Kita bisa menjadi ‘ruang aman’ yang menyalakan harapan di tengah ketidakpastian. Dan, itulah sauh kita.
Baca Juga:
Seri Terang Ilahi “Siapakah Sesamaku Manusia?”
Bagaimana kita dapat menjadikan kasih kepada orang lain sebagai prioritas di tengah dunia yang melaju cepat? Mungkin kita merasa tidak punya waktu, tenaga, atau sumber daya untuk mengasihi sesama kita.
Dalam perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati, Yesus menyatakan siapa sesama kita sekaligus menunjukkan apa artinya mengasihi mereka sebagaimana Allah mengasihi kita. Mari belajar bahwa mengasihi sesama tidak hanya akan membawa berkat bagi mereka, tetapi juga untuk diri kita sendiri.
Pelayanan Our Daily Bread Ministries di Indonesia didukung terutama oleh persembahan kasih dari para pembaca, baik individu maupun gereja di Indonesia sendiri, yang memampukan kami untuk terus membawa hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup kepada banyak orang di dalam negeri.
