Oleh Aryanto Wijaya

Tahun 2025 ini rasanya penuh kejutan bagi saya. Setelah sembilan tahun lulus kuliah dan bekerja, saya mendapatkan beasiswa untuk studi lanjut. Namun, belum genap satu semester perkuliahan berjalan, saya mendadak diopname dengan diagnosa Pneumonia alias radang paru-paru.

Saya pikir setelah opname selesai, masalahnya beres. Ternyata, itu permulaan dari perjalanan panjang dengan kelemahan tubuh yang baru. Dokter menemukan masalah lain yang diam-diam terjadi di dalam: liver saya mengalami pelemakan yang menyebabkan radang, dan produksi sel darah merah saya meningkat tajam. Darah saya mengental.

“Kalau nggak ditangani,” kata dokter, “risikonya bisa kena strok atau gagal jantung.”

Temuan penyakit ini jujur sempat membuat hati ciut. Saya pun lalu menjalani diet ketat dan terapi buang darah (flebotomi). Terbayang bagaimana rumitnya pengobatan dan ketakutan harus menjalaninya seorang diri di perantauan.

Di tengah semua itu, seorang teman karib berkomentar santai, “Kok bisa ya hidupmu itu nggak bisa anteng? Kayaknya tiap bulan ada aja masalah baru…”

Saya tidak tersinggung, karena kami akrab dan membicarakan topik berat ini dalam konteks bercanda. Saya hanya menjawab, “Entahlah. Aku juga gak sangka sakit…”

Gandum, Lalang, dan Pengharapan Natal

Kesakitan bukanlah hal asing dalam kehidupan manusia. Orang kaya atau miskin, tua atau muda, tidak pernah kebal dari penderitaan. Dan, ini jugalah yang mungkin menggemakan kembali pertanyaan di hati kita sebagai orang Kristen: bila kedatangan Tuhan Yesus ke dunia—yang kita rayakan sebagai Natal—adalah tanda bahwa Kerajaan Allah sudah datang, mengapa dunia ini masih saja dipenuhi kesusahan? Mengapa saya masih sakit? Mengapa penderitaan ada di mana-mana?

Tidak mudah untuk menjawab ini tentunya. Namun, bila kita membuka kembali Alkitab kita, ada jawaban yang tak hanya memuaskan akal, tapi mengantar kita untuk mengalami hidup yang baru.

Jawaban itu datang dari Tuhan Yesus. Namun, Dia tidak menjawabnya dengan rumus teologis yang kaku atau daftar poin-poin. Dia menjawabnya dengan cerita atau perumpamaan. Metode ini sempat dipertanyakan oleh para murid, “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?” (Matius 13:10). Jawaban Tuhan Yesus kalau saya improvisasikan kira-kira begini: cerita-cerita ini adalah kunci untuk “mengintip” rahasia Kerajaan Surga.

Perumpamaan itu ibarat sebuah “pintu”. Bagi mereka yang hatinya tulus dan mau tahu, pintu itu terbuka lebar. Tapi, bagi mereka yang hatinya keras dan merasa sudah tahu segalanya, cerita-cerita itu hanya terdengar seperti dongeng biasa.

Perumpamaan yang Tuhan Yesus ceritakan mengajak kita untuk tidak sekadar jadi pendengar pasif yang hanya “manggut-manggut”. Dia ingin kita menggali, ikut bergumul, dan akhirnya bertanya pada diri sendiri: “Siapakah aku dalam perumpamaan ini? Apa yang Tuhan mau ajarkan buatku?”

Dalam Matius 13:24-30, Tuhan Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang Gandum dan Lalang. Ceritanya sederhana saja. Seorang menabur benih gandum yang baik di ladangnya. Tetapi pada malam hari, musuhnya datang dan menabur benih lalang (rumput liar) di antara gandum itu. Ketika keduanya tumbuh, para hamba melihat lalang itu dan bertanya kepada tuannya, “Haruskah kami mencabut lalang itu?”

Jawaban sang tuan inilah yang menjadi kuncinya: “Jangan. Sebab mungkin waktu kamu mencabut lalang itu, kamu ikut mencabut gandumnya. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai.”

Para murid bingung dengan apa maksud perumpamaan ini dan Yesus menjelaskannya dalam perikop selanjutnya di Matius 13:37-43. Ladang itu adalah dunia. Benih baik (gandum) adalah anak-anak Kerajaan dan benih jahat (lalang) adalah anak-anak si jahat. Keduanya dibiarkan tumbuh bersama di dunia ini sampai akhir zaman (waktu menuai).

Ketika Yesus memulai pelayanan-Nya di dunia, Dia memulainya dengan seruan yang menggetarkan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Matius 4:17). Ini bukan sekadar pengumuman; ini adalah proklamasi bahwa “si Penabur Gandum” telah tiba. Kerajaan-Nya sudah datang. Dan apa yang Dia lakukan setelah itu adalah buktinya.

Alkitab tidak hanya mencatat apa yang Yesus katakan, tapi apa yang Dia juga lakukan. Matius mencatat lebih lanjut bahwa Yesus berkeliling, “memberitakan Injil Kerajaan itu dan melenyapkan segala penyakit dan kelemahan” (Matius 4:23).

Kerajaan Surga yang Tuhan Yesus beritakan bukanlah sekadar tempat tinggal kita nanti setelah kematian. Kerajaan Surga adalah kuasa Allah yang secara aktif menerobos masuk ke dunia yang rusak ini. Setiap kali Yesus menyembuhkan orang lumpuh, mencelikkan mata yang buta, atau mengusir setan, Dia sedang menunjukkan tanda-tanda akan kerajaan Allah. Dia seolah sedang berkata, “Lihat! ‘Gandum’ sudah hadir. ‘Lalang’ (kuasa dosa, sakit penyakit, dan si jahat) sedang Aku lawan.”

Pengharapan di Era Sudah tetapi Belum (Already but Not Yet)

Perumpamaan Gandum dan Lalang menegaskan bahwa selagi kita hidup di dunia, penderitaan  itu akan ada bersama kita. Kerajaan Allah sudah datang, tapi si jahat pun masih diizinkan bekerja. Para teolog sering menyebut tegangan ini dengan istilah: “Already… but Not Yet.” Kerajaan itu “sudah” hadir, tapi “belum” genap sepenuhnya.

Dan Natal, momen kelahiran Kristus yang kita rayakan ini, adalah proklamasi bahwa Kerajaan itu sudah dinyatakan secara resmi. Yesus adalah Kerajaan Allah yang hadir di tengah kita. Tapi, bagaimana dengan semua mukjizat penyembuhan-Nya?

Mukjizat-mukjizat itu adalah tanda. Saya memaknai tanda ini secara sederhana seperti sebuah papan penunjuk arah di jalan. Semisal saat berkendara di tol, saya menemukan tanda yang bertuliskan “Bandung 50 KM”. Papan penunjuk arah itu bukan berarti saya telah tiba di Bandung, melainkan memberi kita dua hal yang sangat penting: kepastian bahwa kita ada di jalan yang benar, dan pengharapan bahwa kita pasti akan tiba di tujuan bila mengikuti tanda itu. 

Itulah makna dari mukjizat Tuhan Yesus. Setiap kali Dia menyembuhkan orang sakit dan bermukjizat, Dia sedang memberi kita tanda akan tujuan akhir yang sedang kita tuju: sebuah keadaan ketika segala sesuatu dipulihkan dalam langit dan bumi yang baru (Wahyu 21:1). 

***

Inilah yang memberi saya kekuatan saat harus menjalani flebotomi dan terapi pengobatan lainnya. Saat kita sakit dan menderita sekarang, kita mungkin tidak selalu merasakan kesembuhan jasmani yang instan di era “sudah, tapi belum” ini. Tetapi, karena Kerajaan Allah itu sudah datang, kita tahu bahwa kita sedang dalam jalan yang tepat menuju pemulihan sempurna itu. Kita tidak sedang berjalan di jalan buntu atau keliru.

Dan, inilah bagi saya pesan Natal yang sejati: Natal bukanlah janji bahwa “lalang” (penyakit dan penderitaan) akan langsung dicabut hari ini. Natal adalah janji bahwa Allah, melalui Yesus, telah hadir di ladang kita. Dia tidak hanya menonton dari jauh; Dia turun ke tengah “lalang” untuk memastikan “gandum”-Nya (kita) akan selamat sampai waktu panen.

Syukur kepada Allah!


Pelayanan Our Daily Bread Ministries di Indonesia didukung terutama oleh persembahan kasih dari para pembaca, baik individu maupun gereja di Indonesia sendiri, yang memampukan kami untuk terus membawa hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup kepada banyak orang di dalam negeri.