Oleh Aryanto Wijaya
Jika pulang ke Bandung, saya sering menyempatkan diri untuk berziarah ke makam papa di pekuburan Pandu. Suatu ketika, saat saya sedang menikmati momen hening di sana, seorang teman yang adalah pegiat sejarah kota Bandung, mengajak saya bertemu di sebuah kafe.
Obrolan kami mengalir seru ke soal toponimi, ilmu tentang asal-usul nama tempat. Saya pun iseng bertanya, “Rumahku ada di daerah Dunguscariang. Apa arti nama yang aneh itu, ya?” Setelah sedikit riset, kami menemukan bahwa nama yang terdengar asing itu ternyata berasal dari dua kata berbahas Sunda: “dungus” yang berarti semak, dan “cariang”, sejenis tumbuhan keladi liar. Besar kemungkinan, wilayah tempat tinggal saya dulu adalah semak belukar yang dipenuhi tanaman cariang.
Penemuan sederhana itu terus membekas di benak saya dalam perjalanan pulang. Saya jadi teringat khotbah Pdt. Hendra G. Mulia setahun lalu. Beliau berkata bahwa sebuah nama mengandung sebuah peristiwa. Manusia, seperti halnya saat menamai sebuah daerah, ternyata punya alasan dan kedekatan di balik setiap nama yang diberikan. Tidak selalu asal-asalan atau kebetulan.
Nama yang Dikenal Lewat Pengalaman
Cara manusia memberikan toponimi juga menjadi cara Alkitab memperkenalkan kita kepada sosok Tuhan. Salah satu contoh yang paling indah datang dari Daud. Ketika dia menulis mazmurnya yang terkenal, Mazmur 23, Daud tidak memulai dengan kalimat “Tuhan itu seperti gembala.” Daud justru memulainya dengan sebuah deklarasi iman yang sangat personal dan spesifik, “TUHAN adalah gembalaku…”
Pilihan kata Daud di sini ternyata sangat penting. Dalam terjemahan Alkitab bahasa Indonesia, kata “TUHAN” yang ditulis dengan huruf kapital semua merujuk pada satu nama spesifik: YHWH (Yahweh). Ini bukanlah sekadar gelar umum seperti Adonai (Tuhan atau Tuan), melainkan nama pribadi dan kovenan yang Tuhan pakai untuk memperkenalkan diri-Nya kepada bangsa Israel. Dengan memilih nama YHWH, Daud tidak sedang berbicara tentang “tuhan” secara umum. Daud sedang memanggil nama Tuhan yang telah dia kenal secara pribadi: Tuhan yang menyertai nenek moyangnya keluar dari tanah Mesir.
Mengapa bagian ini memberi kita makna yang begitu kuat? Karena bagi Daud, nama YHWH mengandung rentetan peristiwa. Daud ingat bagaimana Allah telah meluputkannya dari cengkeraman singa dan beruang saat dia masih menjadi gembala, juga kemenangan atas Goliat (1 Samuel 17:37). Setiap kali Daud menyebut nama Allah, dia tidak hanya menyebut sebuah nama, tetapi dia sedang mengingat kembali seluruh sejarah kesetiaan Tuhan dalam hidupnya.
Nama YHWH sendiri pertama kali disingkapkan secara mendalam ketika Tuhan menampakkan diri kepada Musa di semak duri yang menyala. Saat Musa bertanya siapa nama-Nya, Tuhan menjawab, “AKU ADALAH AKU”, lalu memerintahkan Musa untuk berkata kepada bangsa Israel, ” TUHAN (YHWH), Allah nenek moyangmu . . . telah mengutus aku [Musa] kepadamu” (Keluaran 3:14-15). Nama ini menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang ada dengan sendirinya, yang setia, dan yang akan selalu hadir menyertai umat-Nya. Nama itu sendiri adalah sebuah janji: Aku akan menjadi apa pun yang umat-Ku butuhkan. Bagi Daud, Allah adalah Gembalanya.
Di sinilah kita melihat perbedaan indah antara cara manusia dan cara Tuhan dalam memberi nama. Toponimi “Dunguscariang” yang saya temukan adalah nama pemberian manusia yang melihat ke masa lalu. Namun, YHWH adalah nama yang Tuhan berikan tentang Diri-Nya—sebuah nama yang hidup, yang tidak hanya menunjukkan karya-Nya di masa lalu, tetapi juga menjanjikan kehadiran-Nya di masa kini dan masa depan.
Kesetiaan Tuhan terus bergema sepanjang sejarah zaman. Dan puncaknya, Pribadi di balik nama YHWH itu tidak lagi hanya berbicara dari semak duri atau berdiam di dalam Tabut Perjanjian. Di Perjanjian Baru, Allah yang setia itu mengambil rupa manusia. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita (Yohanes 1:1, 14). Dia datang dalam Pribadi Yesus Kristus. Nama “Yesus” itu sendiri berasal dari nama Ibrani Yeshua, yang berarti “YHWH menyelamatkan” (Matius 1:21; Lukas 1:31).
***
Allah kita adalah Allah yang berelasi dengan setiap umat-Nya. Dia tidak ingin kita memanggil-Nya hanya dengan gelar-gelar agung yang mungkin terasa jauh. Dia rindu kita mengenal-Nya melalui pengalaman yang nyata. Daud, melalui jatuh bangun hidupnya sebagai gembala hingga raja, mengenal-Nya sebagai Gembala yang setia. Tuhan Yesus, dalam relasi-Nya yang paling intim, mengajarkan kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa. Nama-nama ini lahir dari sebuah hubungan yang hidup, bukan sekadar teori.
Lalu, bagaimana dengan kita?
Obrolan saya dengan seorang kawan di sebuah kafe mengingatkan saya bahwa sebuah nama menyimpan sejarah. Sama seperti “Dunguscariang” yang bercerita tentang semak belukar di masa lalu, nama yang kita berikan kepada Tuhan juga bercerita tentang sejarah perjumpaan kita dengan-Nya. Itu adalah “toponimi” iman kita.
Saya pribadi gemar menyebut-Nya Bapa dan Sahabat. Dalam setiap jurnal yang saya tuliskan setiap hari, nama-nama ini bukan sekadar panggilan. Waktu demi waktu, peristiwa demi peristiwa, saya menemukan bukti bahwa Dia sungguh Bapa yang menyertai dan Sahabat yang tidak pernah meninggalkan.
Nama personal apa yang lahir dari perjalanan kita bersama-Nya? Anda bisa mencoba mengingat kembali peristiwa di masa lampau, lalu coba tuliskan dalam secarik kertas, “TUHAN adalah ___-ku, takkan ___ aku.”
Baca Juga:
Tuhan adalah Gembalaku: Pemulihan dan Pembaruan dari Mazmur 23
Menelusuri jalan Anda di tengah belantara hidup ini dapat menjadi lebih mudah, saat Anda memiliki Pemandu yang tepat untuk menuntun jalan Anda. Penulis David Roper mencermati relasi antara Sang Gembala Agung dan domba-domba-Nya yang tergambar di sepanjang Kitab Suci. Terimalah inspirasi dari kehidupan Daud, Yesaya, dan tokoh-tokoh Alkitab lainnya yang menemukan harapan, penguatan, dan pemulihan dalam pemeliharaan Allah yang sempurna.
Pelayanan Our Daily Bread Ministries di Indonesia didukung terutama oleh persembahan kasih dari para pembaca, baik individu maupun gereja di Indonesia sendiri, yang memampukan kami untuk terus membawa hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup kepada banyak orang di dalam negeri.
