Oleh Pdt. Bungaran Gultom
Lelaki yang terbujur kaku di dalam peti jenazah itu adalah bapak saya.
Bapak berpulang pada usia yang telah mencapai 92 tahun. Dalam tubuh dinginnya itu, saya bisa melihat raut wajah yang tenang sekaligus tegas. Rahangnya kokoh, rambutnya memutih, dan kerutan-kerutan di wajahnya tak cuma bercerita soal usia yang sepuh dan tubuh yang melemah, tetapi juga kesetiaan yang dihidupinya selama puluhan tahun.
Bapak bukanlah tokoh besar. Namanya tidak tercatat di koran, dan dia tidak pernah berdiri di mimbar megah, apalagi viral di media sosial. Tetapi, bapak mengajari saya apa arti kesetiaan di saat sebagian dari kita mungkin menganggapnya remeh.
Setiap pagi, bapak memiliki dua ritual yang tak bisa diganggu gugat: membaca Alkitab dan berjalan kaki sejauh enam kilometer. Dua teladan ini sempat membuat kami, anak-anaknya, merasa seperti tinggal bersama seorang “pendeta rumahan” yang tidak pernah mengambil cuti. Bahkan, ketika fisik bapak mulai dimakan usia, gairahnya untuk disiplin tidak kunjung padam. Sampai akhirnya, dokter pun harus turun tangan dan berkata dengan nada setengah memohon: “Pak, jangan sejauh itu lagi. Tiga kilometer saja sudah cukup.”
Dan, bapak menurut. Di balik rahangnya yang tegas, ternyata ada hati yang lembut untuk taat. Sesederhana itu cara bapak menunjukkan ketaatannya, bahkan dalam hal merelakan jarak langkah kakinya berkurang demi sebuah saran medis.
Dari Pergumulan kepada Keteguhan
Sebagai anak yang hidup dekat dengannya, saya menyaksikan sendiri bagaimana kesetiaan itu tumbuh. Tidak tiba-tiba atau mekar dalam semalam, melainkan dari sebuah proses yang panjang.
Di masa mudanya, jauh sebelum rambutnya memutih, dunia bapak sangat jauh dari ketenangan yang saya lihat di peti jenazah itu. Ia adalah seorang penjudi dan perokok berat. Dunianya dulu riuh oleh suara taruhan dan pekat oleh kepulan asap.
Perjumpaannya dengan Kristus memang menjadi titik balik, namun perubahan itu tidak terjadi seperti sulap dalam semalam. Bapak harus melewati proses panjang yang melelahkan untuk menata ulang kepingan hidupnya. Ada perjuangan untuk meninggalkan meja taruhan yang dulu menjadi candunya, dan ada pergumulan untuk mematikan keinginan-keinginan lama yang terus memanggilnya kembali.
Kesetiaan yang kami lihat di masa tuanya sebenarnya adalah kumpulan dari kemenangan-kemenangan kecil yang dia perjuangkan setiap hari sejak masa mudanya. Dia belajar bahwa mengikuti Kristus bukan sekadar soal berhenti melakukan kebiasaan buruk, melainkan soal memilih arah baru secara konsisten, langkah demi langkah. Sejak saat itu, kesetiaan bukan lagi beban ketaatan hukum, melainkan ritme napasnya yang baru. Bukan karena dia sempurna tanpa cela, tetapi karena dia tahu persis kepada siapa dia telah menyerahkan hidupnya.
Keteguhan bapak dalam menjaga rutinitas paginya sering kali membawa ingatan saya pada sosok Daniel dalam Alkitab. Saya merenung, mungkin bapak sedang mencoba menghidupi “rahasia” yang sama dengan Daniel. Kita sering mengagumi keberanian Daniel saat menghadapi singa, namun kita sering lupa bahwa kekuatan itu tidak muncul mendadak.
Daniel memiliki disiplin yang tak tergoyahkan: berlutut dan berdoa tiga kali sehari (baca Daniel 6). Itulah jangkar yang membuatnya tidak bergeser oleh ancaman raja maupun tekanan politik. Bapak saya bukan nabi besar seperti Daniel, namun dalam kesederhanaannya, ia memegang prinsip yang serupa: bahwa kesetiaan bukanlah soal menunggu mukjizat besar, melainkan soal menjaga relasi yang hidup dengan Sang Pencipta dalam perkara-perkara kecil setiap harinya.
Saya percaya, Daniel akan tetap setia bahkan jika Tuhan memutuskan untuk tidak menutup mulut singa-singa itu. Dan, dalam skala yang jauh lebih kecil, saya melihat semangat yang sama dalam diri bapak. Kesetiaannya bukan tentang apa yang dia dapatkan dari Tuhan, melainkan tentang siapa yang dia cintai. Dia setia karena ia telah jatuh cinta pada Tuhannya, dan cinta itu teruji bukan di atas panggung besar, melainkan dalam ketekunannya yang sunyi.
Iman yang Tidak Bisa Ditawar
Bapak pernah menceritakan satu kisah yang sampai hari ini melekat kuat di ingatan saya. Suatu hari, dia dipanggil oleh atasannya. Dengan nada datar namun penuh tekanan, sang atasan berkata:
“Pak, SK pengangkatan bapak sebagai kepala bagian sudah ada di meja saya. Tapi saya baru akan menandatanganinya jika bapak bersedia pindah agama.”
Itu bukan sekadar tawaran; itu adalah pemaksaan yang dibungkus rapi dengan iming-iming masa depan. Promosi itu berarti kenaikan gaji, fasilitas kendaraan, dan penghormatan sosial. Bagi keluarga sederhana seperti kami, itu bukan hal kecil. Namun, jawaban bapak singkat dan tegas:
“Saya tidak mau jika Anda meminta saya untuk menukar iman saya.”
Tanpa dia sadari, saat itu bapak sedang menunjukkan kepada kami bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dinegosiasikan. Kesetiaan harus diletakkan di rak paling atas—di atas jabatan, kenyamanan, bahkan rasa aman.
Atasannya sempat heran, bahkan sampai datang berkunjung ke rumah kami, mungkin berharap menemukan rahasia atau kekuatan besar di balik penolakan itu. Namun, yang ia temukan hanyalah sebuah rumah sederhana dan keluarga biasa. Tidak ada harta tersembunyi. Hanya ada iman yang setia.
Kesetiaan yang tak tergoyahkan ini, baik dalam diri Daniel maupun dalam hidup bapak saya, sebenarnya hanya sebuah bayangan redup dari kesetiaan yang sempurna dalam diri Yesus Kristus. Dalam inkarnasi-Nya, Yesus memperlihatkan bahwa kasih dan ketaatan kepada Bapa melampaui segala bentuk penerimaan sosial maupun kenyamanan diri.
Bahkan saat berada di kayu salib, ketika dunia berteriak mengejek-Nya, “Jika Engkau Mesias, selamatkanlah diri-Mu!”, Dia memilih untuk tetap setia. Dia mengabaikan keinginan untuk lolos dari penderitaan demi menyelesaikan rencana penebusan-Nya. Kristus menunjukkan bahwa bagi warga Kerajaan Allah, kesetiaan bukanlah soal mencari jalan keluar yang paling aman, melainkan soal menjaga relasi dan ketaatan kepada Bapa sampai garis akhir.
Cinta dalam Perkara Kecil
Dunia tempat kita tinggal sekarang mungkin terasa begitu cepat berubah. Sering kali kita merasa perlu menjadi cerdas dalam beradaptasi sampai-sampai kita mengabaikan prinsip-prinsip firman Tuhan. Namun, bapak menunjukkan bahwa Allah tidak sedang mencari orang yang paling cerdas menyesuaikan diri, melainkan mereka yang paling setia berjalan bersama-Nya dalam keheningan.
Iman yang sesungguhnya sering kali tidak bersinar dalam peristiwa besar yang mendapat sorakan banyak orang, melainkan lewat peran-peran kecil yang jarang mendapat tepuk tangan. Kesetiaan bapak sebagai seorang suami, ayah, dan kakek, adalah khotbah yang paling nyata bagi saya.
Bunda Teresa pernah berkata, “Tidak semua dari kita bisa melakukan hal-hal besar, tetapi kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.”
Itulah cara bapak mengekspresikan cintanya kepada Allah—lewat langkah kaki yang konsisten, ketaatan yang tenang, dan lembaran Alkitab yang ia baca setiap subuh. Bapak mengajarkan saya bahwa kesetiaan sampai akhir bukan berarti kita tidak pernah terjatuh, melainkan kita tahu kepada siapa kita harus terus kembali.
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar” (Lukas 16:10).
Selamat jalan, Bapak. Terima kasih telah menunjukkan kepada saya bagaimana caranya mencintai Tuhan dengan tangguh hingga garis akhir.
Baca Juga:
Menjalani Perlombaan Iman: Hidup dengan Fokus yang Benar demi Mahkota Abadi
Temukan hikmat alkitabiah bagi siapa saja yang merasa bimbang, penat, resah, dan yang merindukan jalan hidup yang lebih baik. Buku Menjalani Perlombaan Iman: Hidup dengan Fokus yang Benar demi Mahkota Abadi akan menolong Anda memeriksa kembali hidup Anda, supaya Anda menjalaninya—dan mengakhirinya kelak—dengan baik.
Pelayanan Our Daily Bread Ministries di Indonesia didukung terutama oleh persembahan kasih dari para pembaca, baik individu maupun gereja di Indonesia sendiri, yang memampukan kami untuk terus membawa hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup kepada banyak orang di dalam negeri.
