Penulis

Lihat Semua
Bill Crowder

Bill Crowder

Bill Crowder bertanggung jawab untuk isi materi pengajaran. Ia telah menulis banyak buklet Discovery Series dan buku Discovery House Publishers. Bill dan istrinya, Marlene, memiliki lima anak dan beberapa orang cucu.

Artikel oleh Bill Crowder

Adopsi

Saya dan Marlene sudah menikah selama lebih dari 35 tahun. Dahulu, ketika masih berpacaran, kami pernah membicarakan suatu hal yang tidak pernah saya lupakan. Marlene mengatakan kepada saya bahwa ia diadopsi ketika masih berumur 6 bulan. Ketika saya bertanya apakah ia pernah mempunyai keinginan untuk mengetahui siapa orang-tuanya yang sebenarnya, ia menjawab, “Ibu dan ayahku bisa saja memilih bayi mana pun pada hari itu, tetapi mereka memilihku. Mereka telah mengangkatku menjadi anak. Mereka berdualah orangtuaku yang sebenarnya.”

Perasaan Campur Aduk

Bagi saya dan Marlene, “perasaan campur aduk” adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan hari pernikahan kami. Jangan salah sangka. Pernikahan kami merupakan suatu peristiwa yang luar biasa sehingga kami terus merayakannya hingga lebih dari 35 tahun kemudian. Namun pesta pernikahan itu sendiri terasa sendu karena ibunda Marlene meninggal dunia akibat kanker hanya beberapa minggu sebelumnya. Bibi Marlene telah menjadi pengganti yang luar biasa bagi peran “ibu dari mempelai wanita”. Namun di tengah kebahagiaan kami, ada sesuatu yang jelas-jelas hilang. Ibunda Marlene sudah tiada, dan hal itu mempengaruhi segalanya.

Christingle

Di Republik Ceko dan di tempat-tempat lain, perayaan Natal melibatkan sesuatu yang disebut “Christingles”. Christingle merupakan sebuah jeruk yang melambang-kan dunia dengan sebatang lilin yang ditempatkan di atasnya untuk melambang- kan Kristus yang adalah Terang dunia. Pita merah pun dililitkan pada jeruk ini untuk melambangkan darah Yesus. Ada empat tusuk gigi dengan buah-buahan kering yang ditancapkan dengan menembus pita merah itu pada sisi-sisi dari jeruk tersebut, dan ini melambangkan segala buah yang ada di bumi.

Seorang Putra Telah Diberikan

Salah satu bagian yang saya sukai dari oratorio Messiah karya Handel adalah irama sukacita dari pujian “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita” yang terdapat di bagian pertama. Saya paling suka ketika paduan suara menyanyikan, “Seorang putra telah diberikan untuk kita” dengan suara yang semakin keras. Kata-kata itu jelas diambil dari Yesaya 9:5, “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita.” Karya musik Handel yang agung itu dipenuhi dengan pemujaan kepada Sang Putra Allah yang datang bagi kita dalam rupa manusia pada hari Natal yang pertama di masa lampau itu.

Ketakutan Yang Besar

Setelah menjalani persiapan selama berminggu-minggu, akhirnya malam pertunjukan musikal tahunan oleh paduan suara anak untuk Natal tahun 1983 itu pun tiba. Anak-anak yang sudah memakai kostum mereka mulai memasuki auditorium ketika tiba-tiba kami mendengar bunyi gaduh di pintu belakang. Saya dan istri menengok dan melihat anak kami, Matt. Ia menangis dengan keras dan tampak sangat ketakutan. Ia memegang kencang-kencang pegangan pintu dan menolak untuk masuk ke dalam auditorium. Setelah berunding cukup lama, sang sutradara akhirnya memberi tahu Matt bahwa ia tidak harus tampil di panggung. Sebagai gantinya, Matt duduk bersama kami, dan ketakutannya pun segera berkurang.

Tempat Air

Afrika Timur merupakan salah satu daerah paling gersang di atas bumi ini, dan itulah sebabnya “Nairobi” menjadi nama yang bermakna penting bagi sebuah kota di daerah tersebut. Nama itu berasal dari istilah dalam bahasa Masai yang berarti “air dingin,” dan secara harfiah berarti “tempat air”.

Perhatian Yang Tulus

Pada malam pertama dari suatu acara retret bagi keluarga, pemimpin acara menginformasikan jadwal sepanjang minggu yang akan diikuti para peserta. Setelah selesai, ia bertanya apakah ada yang ingin menambahkan sesuatu. Seorang gadis muda lalu berdiri untuk memohon pertolongan. Gadis ini bercerita tentang saudara laki-lakinya—seorang anak berkebutuhan khusus—dan tentang keadaan saudaranya yang membutuhkan pengawasan ketat itu. Ia berbicara tentang kelelahan yang dialami keluarganya, lalu memohon kepada setiap orang yang berada di situ untuk membantunya dalam mengawasi saudara laki-lakinya sepanjang minggu itu. Permohonan gadis itu keluar dari perhatiannya yang tulus kepada orangtua dan saudara laki-lakinya. Sungguh indah untuk kemudian melihat orang-orang di situ menyingsingkan lengan untuk membantu keluarga ini sepanjang berlalunya minggu itu.

Momen Memalukan

Kilatan lampu dari mobil polisi menarik perhatian saya pada seorang pengendara mobil yang dipaksa menepi setelah melanggar lalu lintas. Ketika polisi yang memegang surat tilang berjalan kembali ke mobilnya, saya dapat melihat dengan jelas si pengendara mobil duduk tanpa daya di belakang setir sambil menahan malu. Dengan tangannya, wanita itu berusaha menutupi wajahnya dari pandangan orang-orang yang melintas untuk menyembunyikan siapa dirinya. Perbuatannya mengingatkan saya betapa memalukannya apabila pilihan kita yang buruk dan konsekuensinya diketahui oleh orang lain.

Berdiamlah

Eric Liddell, tokoh yang dikenang dalam film Chariots of Fire, memenangi medali emas pada Olimpiade Paris tahun 1924 sebelum kemudian ia pergi ke negeri China untuk menjadi seorang misionaris. Beberapa tahun kemudian, setelah pecah Perang Dunia II, Liddell mengungsikan keluarganya demi keamanan mereka ke Kanada, tetapi ia tetap tinggal di China. Segera setelah itu, Liddell dan sejumlah misionaris asing lainnya diasingkan oleh tentara Jepang ke dalam kamp tahanan. Setelah beberapa bulan ditahan, Liddell mengidap penyakit yang diduga para dokter sebagai tumor otak.