Hati yang Bersyukur
Seneca, filsuf besar dari zaman Romawi kuno (4 sm–65 M), pernah dituduh melakukan perzinaan oleh Ratu Messalina. Senat menjatuhkan hukuman mati atas Seneca, tetapi Kaisar Claudius memilih membuangnya ke Pulau Korsika, kemungkinan karena Kaisar menduga tuduhan itu tidak benar. Penangguhan tersebut bisa jadi telah membentuk cara pandang Seneca tentang rasa syukur. Ia menulis: “para pembunuh, penindas, pencuri, pezina, perampok, manusia asusila, dan pengkhianat akan selalu ada, tetapi kejahatan yang lebih buruk daripada semua itu adalah sikap tidak tahu berterima kasih”
Pengertian dari Roh Kudus
Ketika seorang tentara Prancis membuat galian di padang gurun untuk memperkuat pertahanan kamp pasukannya, ia sama sekali tidak mengira bakal menemukan sebuah benda yang sangat penting. Ia melihat sebuah batu saat menggali pasir dengan sekop. Ternyata, itu bukan batu biasa. Itulah Batu Rosetta, sebuah prasasti yang memuat hukum dan maklumat Raja Ptolemaios V yang tertulis dalam tiga bahasa. Prasasti tersebut, yang sekarang disimpan di British Museum, menjadi salah satu temuan purbakala terpenting pada abad ke-19. Temuan ini membantu memecahkan misteri tulisan kuno Mesir yang dikenal dengan nama hieroglif.
Ingat dan Rayakan
Pada tanggal 6 Desember 1907, ledakan besar mengguncang sebuah komunitas kecil di Virginia Barat, Amerika Serikat. Itulah salah satu bencana terburuk dalam sejarah industri pertambangan batu bara. Kurang lebih tiga ratus enam puluh penambang tewas, dan tragedi memilukan tersebut diperkirakan telah membuat 250 wanita menjadi janda dan 1.000 anak menjadi yatim. Para sejarawan mengatakan bahwa kebaktian doa yang diadakan untuk mengenang para korban ledakan tersebut menjadi cikal bakal peringatan Hari Ayah di AS. Dari kehilangan yang besar timbul peringatan dan—akhirnya—perayaan.
Pengharapan di Tengah Dukacita
Dalam perjalanan menuju bandara Heathrow, London, pengemudi taksi menceritakan kisah hidupnya kepada kami. Ia tiba di Inggris seorang diri saat berusia lima belas tahun, dengan tujuan menjauhi kehidupan yang sulit dan peperangan di kampung halamannya. Sekarang, sebelas tahun kemudian, ia sudah berumah tangga dan dapat menafkahi keluarganya, sesuatu yang tidak dapat dilakukan sekiranya ia masih tinggal di negaranya. Namun, ia juga sedih karena ia masih terpisah dengan keluarga dan saudara-saudara kandungnya. Ia mengatakan bahwa perjalanan hidupnya yang berat itu tidak terasa lengkap jika ia belum bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.
Kehidupan yang Damai
Di Perth, Australia, ada sebuah tempat bernama Shalom House (Rumah Damai) yang berfungsi sebagai pusat rehabilitasi bagi kaum pria yang berjuang melawan kecanduan mereka. Di sana, mereka akan bertemu dengan staf yang penuh perhatian dan yang memperkenalkan mereka kepada shalom dari Allah (damai dalam bahasa Ibrani). Kehidupan orang-orang yang sebelumnya hancur akibat kecanduan narkoba, alkohol, judi, dan perilaku merusak lainnya tersebut dijamah dan terus diubahkan oleh kasih Allah.
Air yang Kita Butuhkan
Danau Baikal, danau terdalam di dunia, sangat luas dan luar biasa indah. Dengan kedalaman 1,6 kilometer, panjang 636 km, dan lebar 79 km, danau tersebut menampung seperlima jumlah air tawar dunia. Namun, sebagian besar air itu tidak dapat diakses. Danau Baikal terletak di Siberia—salah satu wilayah paling terpencil di Rusia. Dengan besarnya kebutuhan dunia akan air tawar, sungguh ironis bahwa persediaan air sebanyak itu justru tersembunyi di tempat yang tidak terjangkau oleh banyak orang.
Yang Tidak Bisa Dilihat
Sejarawan mengatakan bahwa Zaman Atom dimulai pada tanggal 16 Juli 1945 ketika bom nuklir pertama diledakkan di tengah gurun terpencil di New Mexico. Namun, filsuf Yunani Demokritos (±460–370 SM) sudah meneliti keberadaan dan kekuatan atom jauh sebelum ada penemuan apa pun yang dapat memampukan orang melihat bagian terkecil penyusun alam semesta itu. Karena memahami lebih daripada yang bisa dilihatnya, Demokritos pun menghasilkan teori tentang atom.
Harga yang Harus Dibayar
Karya-karya seni Michelangelo mengeksplorasi banyak segi kehidupan Yesus, tetapi salah satu karyanya yang paling mengharukan datang dari salah satu yang paling sederhana. Pada dekade 1540-an, Michelangelo membuat sketsa “pieta” (gambar ibu Yesus memangku tubuh Kristus yang sudah mati) untuk sahabatnya, Vittoria Colonna. Gambar yang dibuat dengan kapur itu melukiskan Maria yang menengadah ke langit sambil memangku tubuh Sang Putra yang sudah kaku. Menjulang di belakang Maria adalah sebuah salib yang pada palangnya tercantum kata-kata dari sajak berjudul Paradise (Firdaus) karya Dante, “Tidak terpikirkan oleh mereka harga darah yang tertumpah.” Maksud Michelangelo sangat tegas: ketika kita merenungkan kematian Kristus, kita juga harus memikirkan besarnya harga yang telah Dia bayar.
Seperti Yesus
Sewaktu kecil, teolog Bruce Ware pernah merasa frustrasi dengan bagian Alkitab dalam 1 Petrus 2:21-23 yang memanggil kita untuk menjadi seperti Yesus. Ware menulis tentang kejengkelan masa mudanya itu dalam buku berjudul The Man Christ Jesus (Manusia Kristus Yesus). “Menurut saya itu tidak adil. Khususnya ketika ayat tersebut meminta kita mengikuti jejak satu Pribadi yang ‘tidak berbuat dosa.’ Sungguh keterlaluan . . . Saya pikir tidak mungkin Allah serius meminta kita melakukannya.”