Karya Ciptaan Allah yang Indah
Bagi orangtua, kematian seorang anak pastilah menimbulkan luka yang sangat dalam. Namun, bagaimana jika kematian itu terjadi dua kali? Sungguh tak terbayangkan kepedihannya! Itulah kenyataan pahit yang dialami oleh Nick Cave, seorang musisi, penulis, dan aktor asal Australia. Pada tahun 2015, putranya yang berusia 15 tahun terjatuh dari tebing dan meninggal dunia. Beberapa tahun kemudian, anak sulungnya juga berpulang. Dalam cengkeraman duka yang begitu mendalam, bagaimana Cave dan istrinya mampu bertahan? Bagaimana seseorang tetap berdiri ketika dunia seolah runtuh?
Mendoakan Isi Hati Kita
Brenda dan Eddie masuk ke mobil dan juga masuk ke dalam kebiasaan Kamis malam mereka. “Mau makan di mana?” tanya Eddie. “Oh, Eddie, terserah, di mana saja boleh,” jawab Brenda. Ini bukan situasi yang baru bagi Eddie. “Oke, bagaimana kalau di The Windmill?” Brenda langsung kesal, “Tidak mau. Di mana saja asal tidak di situ!” Eddie menghela napas. “Jadi mau di mana?” Brenda tetap bersikukuh, “Di mana saja boleh.”
Kasih Karunia Allah yang Cukup
Terlahir sebagai Mary Flannery O’Connor, ia lebih dikenal sebagai Flannery O’Connor, salah seorang penulis dari kawasan selatan AS yang paling terkenal. Karyanya sarat dengan kisah-kisah tentang penderitaan dan kasih karunia. Ketika ayah tercintanya meninggal karena penyakit lupus saat ia baru berusia 15 tahun, O’Connor yang terpukul membenamkan diri dalam penulisan novelnya yang pertama. Tidak lama kemudian, ia sendiri didiagnosis menderita lupus, penyakit tak tersembuhkan yang merenggut nyawanya pada usia ke-39. Tulisan-tulisan O’Connor mencerminkan penderitaan fisik dan mental yang dialaminya. Novelis Alice McDermott mengatakan, “Saya rasa penyakit itulah yang membentuknya menjadi sosok penulis yang kita kagumi sekarang.”
Perbuatan yang Berarti
Ada sebuah adegan mengharukan di penghujung novel sejarah Brendan karya Frederick Buechner. Tokoh bernama Gildas berdiri untuk menunjukkan bagian bawah salah satu kakinya yang hilang. Saat berusaha meraih tongkat berjalannya, Gildas sempat kehilangan keseimbangan. Brendan pun segera melompat dan menangkapnya.
Memohon Belas Kasihan
Penyanyi dan penulis lagu, Jane Kristen Marczewski, yang dikenal oleh para penggemarnya sebagai Nightbirde, meraih perhatian publik pada tahun 2021 melalui acara pencarian bakat televisi yang populer. Pada tahun 2017, ia didiagnosis menderita kanker payudara stadium 3. Setahun kemudian, kankernya mengalami remisi, sehingga Nightbirde mulai melakukan tur. Akan tetapi, beberapa bulan kemudian, kankernya kambuh dengan peluang kesembuhan yang sangat kecil. Yang luar biasa, ia kembali pulih dan dinyatakan bebas kanker. Namun, pada 19 Februari 2022, Nightbirde meninggal dunia.
Properti Allah
Apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran Anda ketika mendengar kata properti? Mungkin pikiran Anda langsung terarah pada real estat, seperti sebidang tanah atau sebuah bangunan. Namun, Anda juga bisa mengartikannya sebagai “sifat atau ciri yang dimiliki oleh seorang individu atau suatu benda.” Misalnya, properti dari jenis kayu tertentu memberikan pemahaman tentang benda tersebut. Seperti apa tekstur kayunya? Seberapa mudah kayu itu menyusut? Apakah kayu itu tahan air? Dengan kata lain, kualitas apa saja dari kayu itu yang dapat diandalkan?
Sungguh Menakutkan
“Sungguh menakutkan / mencintai sesuatu yang dapat disentuh oleh kematian.” Inilah permulaan sepenggal puisi yang ditulis lebih dari seribu tahun yang lalu oleh penyair Yahudi, Judah Halevi, yang diterjemahkan pada abad ke-20. Sang penyair menjelaskan apa yang mendorong ketakutan itu: “mencintai . . . / Dan kemudian, kehilangannya.”
Tak Ada Penyesalan
Menjelang tutup usia, tidak ada yang menyebutkan tentang harta benda yang sering kita kejar seumur hidup kita. Itulah yang ditemukan Bonnie Ware, seorang jururawat paliatif, saat mendampingi seseorang yang sedang menuju ajalnya. Ia sengaja bertanya kepada mereka: “Apakah Anda akan melakukan sesuatu yang berbeda jika Anda dapat mengulang kembali hidup Anda?” Tema-tema yang hampir senada bermunculan, dan ia pun menyusun daftar lima penyesalan terbesar dari orang yang sekarat: (1) Andai saja saya berani menjalani hidup menurut kemauan sendiri. (2) Andai saja saya tidak bekerja terlalu keras. (3) Andai saja saya punya keberanian mengutarakan perasaan saya. (4) Andai saja saya tetap menjaga hubungan dengan teman-teman saya. (5) Andai saja saya mengizinkan diri saya merasa lebih bahagia.
Dilema Spiritual
Dalam satu hari, umumnya orang mengecek ponselnya sebanyak 150 kali. Bayangkan sejenak hal tersebut. Ada yang menyita perhatian kita, dan bisa jadi hal itu tidak membawa kebaikan bagi kita. Itulah yang diyakini Tristan Harris. Ia adalah salah satu narasumber dalam film yang dibintangi oleh tokoh-tokoh ternama di bidang teknologi, yaitu mereka yang memperkenalkan kita kepada “media sosial.” Akan tetapi, alih-alih memberikan pujian, mereka justru menyuarakan peringatan, dengan menyebut realitas kita hari ini (dan juga menamai filmnya) sebagai The Social Dilemma (Dilema Sosial). “Kita adalah produknya. Perhatian kita adalah produk yang diperjualbelikan kepada para pemasang iklan.” Kita tentu memberikan perhatian kita kepada sesuatu yang kita anggap berharga atau layak. Namun, tidak jarang apa yang kita berikan perhatian itu bisa jadi sesuatu yang akhirnya kita puja.