Yesus, Pengganti Kita
Ketika Perang Saudara AS semakin berlarut-larut (1861-1865), kedua belah pihak harus menerapkan wajib militer untuk mengisi barisan ketentaraan mereka. Dalam undang-undang pihak Konfederasi, seseorang yang dikenai wajib militer dapat menghindari kewajibannya dengan cara menyewa orang lain yang terbebas dari wajib militer untuk menggantikannya. Dalam banyak kasus, pengganti itu usianya berada di bawah atau di atas usia yang diwajibkan. Umumnya, “principal” (istilah bagi orang yang menghindari panggilan wajib militer) membayar sejumlah biaya kepada pemerintah sekaligus sejumlah besar uang kepada penggantinya. Kondisi tersebut membuat orang kaya saja yang mampu melakukannya.
Firman Allah Tetap
Pada awal tahun 1900-an, seorang pengusaha baja sukses bernama Charles Schwab memutuskan untuk membangun rumah yang bisa dikatakan termewah di kota New York. Kediaman Schwab di Riverside Drive yang selesai dibangun pada tahun 1906 itu terinspirasi dari bangunan kastil Prancis dan membentang sepanjang satu blok, lengkap dengan taman rimbun, aula besar, dan interior yang mewah. Bangunan itu terlihat sangat kontras dengan gedung-gedung apartemen yang menjulang tinggi dan menjadi ciri khas Manhattan di kemudian hari. Namun, setelah Schwab meninggal, rumah megah itu sulit untuk dijual kembali—terlalu besar, terlalu mahal, dan tidak sesuai dengan tren perumahan masa itu. Akhirnya, rumah itu dihancurkan pada tahun 1948. Baik rumah maupun pemiliknya tidak bertahan lama.
Lambat untuk Marah
“Televisi lambat” adalah istilah untuk menggambarkan liputan suatu peristiwa yang berdurasi sangat panjang, dan biasanya disiarkan secara langsung. Genre ini mulai populer pada tahun 2009 setelah Perusahaan Penyiaran Norwegia menayangkan perjalanan kereta selama tujuh jam . . . dari dalam kereta. Sekilas terkesan membosankan, tetapi ternyata siaran tersebut menarik perhatian penonton yang terpukau oleh pemandangan indah sepanjang perjalanan.
Menanggalkan Kesedihan
Penyanyi dan penulis lagu asal Kanada, Gordon Lightfoot, dikenal luas lewat tembang klasik seperti “The Wreck of the Edmund Fitzgerald” dan “If You Could Read My Mind.” Namun, salah satu karyanya yang kurang populer berjudul “The Minstrel of the Dawn.” (Minstrel adalah pujangga sekaligus penyanyi yang memakai puisinya sebagai lirik lagu.) Seperti orang pada umumnya, penyanyi dalam lagu itu rindu dapat merasa “lebih gembira daripada bersedih.” Meski selalu ada hal-hal menyedihkan yang bisa diingat, si penyanyi memilih berfokus pada hal-hal yang membahagiakan, seperti bernyanyi tentang fajar yang baru menyingsing.
Kehadiran yang Menenangkan
Dalam bukunya Generation to Generation (1985), psikolog keluarga Rabi Edwin Friedman memperkenalkan istilah “kehadiran yang menenangkan.” Pendapat Friedman, yang kemudian dijabarkan dalam buku A Failure of Nerve, menyatakan bahwa “masyarakat Amerika zaman modern ini terus-menerus hidup dalam kecemasan, hingga terjadi kemerosotan emosional yang merusak kepemimpinan yang tegas.” Friedman menyoroti bagaimana kecemasan yang serius bisa menyebar dalam suatu sistem—baik dalam keluarga, tempat kerja, maupun komunitas iman. Namun, dengan cara yang sama, kehadiran seorang pemimpin yang tenang dapat membawa dan menyebarkan kedamaian di tengah badai yang sedang bergejolak.
Karya Ciptaan Allah yang Indah
Bagi orangtua, kematian seorang anak pastilah menimbulkan luka yang sangat dalam. Namun, bagaimana jika kematian itu terjadi dua kali? Sungguh tak terbayangkan kepedihannya! Itulah kenyataan pahit yang dialami oleh Nick Cave, seorang musisi, penulis, dan aktor asal Australia. Pada tahun 2015, putranya yang berusia 15 tahun terjatuh dari tebing dan meninggal dunia. Beberapa tahun kemudian, anak sulungnya juga berpulang. Dalam cengkeraman duka yang begitu mendalam, bagaimana Cave dan istrinya mampu bertahan? Bagaimana seseorang tetap berdiri ketika dunia seolah runtuh?
Mendoakan Isi Hati Kita
Brenda dan Eddie masuk ke mobil dan juga masuk ke dalam kebiasaan Kamis malam mereka. “Mau makan di mana?” tanya Eddie. “Oh, Eddie, terserah, di mana saja boleh,” jawab Brenda. Ini bukan situasi yang baru bagi Eddie. “Oke, bagaimana kalau di The Windmill?” Brenda langsung kesal, “Tidak mau. Di mana saja asal tidak di situ!” Eddie menghela napas. “Jadi mau di mana?” Brenda tetap bersikukuh, “Di mana saja boleh.”
Kasih Karunia Allah yang Cukup
Terlahir sebagai Mary Flannery O’Connor, ia lebih dikenal sebagai Flannery O’Connor, salah seorang penulis dari kawasan selatan AS yang paling terkenal. Karyanya sarat dengan kisah-kisah tentang penderitaan dan kasih karunia. Ketika ayah tercintanya meninggal karena penyakit lupus saat ia baru berusia 15 tahun, O’Connor yang terpukul membenamkan diri dalam penulisan novelnya yang pertama. Tidak lama kemudian, ia sendiri didiagnosis menderita lupus, penyakit tak tersembuhkan yang merenggut nyawanya pada usia ke-39. Tulisan-tulisan O’Connor mencerminkan penderitaan fisik dan mental yang dialaminya. Novelis Alice McDermott mengatakan, “Saya rasa penyakit itulah yang membentuknya menjadi sosok penulis yang kita kagumi sekarang.”
Perbuatan yang Berarti
Ada sebuah adegan mengharukan di penghujung novel sejarah Brendan karya Frederick Buechner. Tokoh bernama Gildas berdiri untuk menunjukkan bagian bawah salah satu kakinya yang hilang. Saat berusaha meraih tongkat berjalannya, Gildas sempat kehilangan keseimbangan. Brendan pun segera melompat dan menangkapnya.