Penulis

Lihat Semua
Marvin Williams

Marvin Williams

Marvin Williams mulai menulis untuk buku renungan Our Daily Bread sejak tahun 2007 dan juga menulis untuk buku renungan Our Daily Journey. Marvin adalah pendeta pengajar senior di Trinity Church di Lansing, Michigan. Ia dan istrinya, Tonia, memiliki tiga anak.

Artikel oleh Marvin Williams

Masa Depan yang Allah Siapkan

Kita hidup di era digital, ketika internet seolah tak pernah melupakan apa pun. Setiap foto, unggahan, dan tulisan seperti tersimpan untuk selamanya. Namun, salah satu mesin pencari besar telah memperkenalkan fitur privasi yang memungkinkan pengguna meminta penghapusan data pribadi seperti nomor telepon dan alamat rumah. Meski tidak sepenuhnya menghapus data seseorang dari internet, fitur ini mengurangi visibilitasnya dalam hasil pencarian, sehingga terasa memberi orang semacam kendali atas jejak digitalnya.

Resiliensi yang Penuh Sukacita

Para ilmuwan mempelajari resiliensi (daya tahan) dari 16 peradaban di berbagai belahan dunia, seperti kawasan Yukon dan pedalaman Australia. Mereka menganalisis ribuan tahun catatan arkeologi serta menelusuri dampak kelaparan, peperangan, dan perubahan iklim yang terjadi pada rentang waktu tersebut. Satu faktor menonjol yang mereka temukan adalah frekuensi kemunduran yang dialami peradaban tersebut. Sekilas, hal ini mungkin tampak melemahkan komunitas tersebut. Namun, para peneliti justru menemukan yang sebaliknya—komunitas yang sering menghadapi kesulitan cenderung lebih tahan banting dan mampu pulih lebih cepat dari tantangan di masa depan. Tampaknya, tekanan dan stres dapat membentuk resiliensi.

Bertumbuh melalui Penderitaan

Otak manusia itu luar biasa kecil, dan stres bisa membuatnya menyusut lebih jauh. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa stres berkepanjangan dapat menyebabkan penyusutan pada korteks prefrontal, yakni bagian otak yang mengatur emosi, dorongan hati, dan interaksi sosial. Penyusutan ini dikaitkan dengan pengalaman kecemasan dan depresi; dan ini menunjukkan akibat yang diakibatkan oleh stres yang berlangsung dalam waktu yang lama. Namun, ada kabar baik: karena memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa, otak manusia dapat pulih melalui latihan rutin seperti olahraga, meditasi, dan usaha membangun hubungan yang bermakna dengan sesama.

Hubungan yang Terjalin dalam Kristus

Dapatkah delapan menit mengubah hidup seseorang? Di tengah dunia yang langka dengan hubungan yang berarti, penulis Jancee Dunn berbicara tentang pengaruh yang besar dari percakapan telepon sepanjang delapan menit. Ia meyakini bahwa percakapan singkat itu dapat menolong kita tetap terhubung dengan keluarga dan sahabat. Penelitian menunjukkan bahwa melakukan percakapan telepon seperti itu beberapa kali dalam seminggu dapat membantu mengurangi depresi, rasa kesepian, dan kecemasan. Dunn juga mengutip penelitian dari para ahli lain yang menegaskan bahwa penyesuaian-penyesuaian kecil dalam cara kita berhubungan dapat memberi dampak besar pada kesejahteraan jiwa kita maupun jiwa orang lain.

Dikejar oleh Allah

David Uttal adalah seorang ilmuwan dalam bidang kognitif yang mempelajari navigasi, tetapi ia sendiri mengalami kesulitan saat harus menemukan arah atau letak suatu tempat. Ini bukan masalah baru baginya, karena sewaktu masih berusia 13 tahun, ia pernah tersesat lebih dari dua hari dalam suatu pendakian. Uttal mengakui bahwa ia masih bergumul untuk mengikuti petunjuk arah yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Memang sebagian orang adalah navigator alami, yang tahu persis di mana mereka berada dan bagaimana caranya mencapai tempat yang ingin mereka tuju. Namun, seperti Uttal, ada orang-orang yang kesulitan mengikuti petunjuk yang jelas sekalipun, sehingga mereka sering tersesat.

Memberi Ruang bagi Orang Lain

Di banyak stasiun pengisian kendaraan listrik di Amerika Serikat, sejumlah pengemudi menghabiskan waktu terlalu lama di area “pengisi daya cepat,” yang sebenarnya dirancang untuk membantu para pengemudi mengisi daya mobilnya dengan cepat dan segera kembali berkendara. Untuk mengatasi perilaku kurang baik ini, salah satu jaringan penyedia pengisian daya terbesar menerapkan batasan waktu yang ketat di stasiun pengisian yang ramai. Ketika daya baterai kendaraan sudah mencapai 85 persen, pengemudi harus memberi ruang bagi mobil berikutnya yang membutuhkan pengisian daya.

Lompatan Iman

Seorang pelayar asal Prancis sedang berlayar bersama kucing peliharaannya dari Dutch Harbor—pelabuhan di sebuah pulau di selatan Alaska—ke San Diego, California, ketika kapalnya diputarbalikkan oleh ombak besar. Kapal itu dapat kembali berdiri tegak dengan sendirinya, tetapi pelayar itu kemudi dan tali penyangga kapalnya karena gelombang yang ganas. Ia melaporkan situasi darurat itu kepada Penjaga Pantai, dengan mengatakan bahwa ia terdampar, kehilangan kendali, dan kapalnya “mati di tengah laut.” Akhirnya, pihak Penjaga Pantai menghubungi kapal pengebor minyak terdekat, dan mereka berhasil menyelamatkan si pelayar. Namun, ia masih harus melakukan loncatan, dengan kucingnya bersembunyi di balik jaket, dari kapalnya ke kapal penyelamat tersebut.

Yesus Menyelamatkan Kita

Dua orang pekerja di Stasiun Amundsen-Scott, Kutub Selatan, sedang membutuhkan pertolongan medis segera. Yang satu mengalami serangan jantung dan yang lainnya mengalami masalah pencernaan yang mengancam nyawa. Satu-satunya cara untuk memastikan kesembuhan mereka adalah dengan menerjunkan misi penyelamatan. Meski demikian, kondisi alam yang sulit, termasuk kegelapan dan suhu -75°C dari Februari hingga Oktober, menyebabkan pesawat biasanya tidak mau mengambil risiko dengan terbang ke stasiun itu selama musim dingin. Namun, untuk kali ini, para pilot bertekad untuk menyelamatkan para pekerja—dan mereka pun berhasil, walaupun harus menempuh dua hari penerbangan yang sangat menantang.

Dengan Kebenaran Allah

Kata Tahun Ini untuk tahun 2023 versi kamus Merriam-Webster adalah autentik. Artinya “tidak palsu, bukan tiruan” dan “sesuai dengan kepribadian, semangat, atau karakternya sendiri.” Orang-orang memang mencari kebenaran, tetapi tidak selalu mudah untuk membedakan antara fakta dan fiksi. Editor Peter Sokolowski berkata, “Dapatkah kita mempercayai makalah ini ditulis oleh seorang siswa [atau] . . . pernyataan ini diucapkan oleh seorang politisi? Kita tidak selalu mempercayai apa yang kita lihat. Kadang-kadang kita tidak mempercayai mata atau telinga kita sendiri. Kita sekarang menyadari bahwa autentisitas itu sendiri bisa dibuat-buat.”