Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Winn Collier

Kecil dan Luar Biasa

Pada tanggal 9 Desember 1987, karena seekor tupai mengunyah kabel listrik di Connecticut, sistem komputer yang mengelola indeks pasar saham raksasa milik Nasdaq tercekat, tersendat, lalu padam. Sejumlah perusahaan besar di dunia dibuat lumpuh dan tak berdaya. Selama hampir satu setengah jam, perekonomian global menanti dengan cemas akan pengaruh yang ditimbulkannya. Semua itu terjadi karena seekor hewan pengerat kecil yang ulet.

Percaya Melampaui yang Kasatmata

Pada akhir abad ke-19, tidak banyak orang yang pernah menginjakkan kaki di hutan besar pohon sequoia di Amerika Serikat, dan banyak yang meragukan keberadaan pohon-pohon raksasa itu. Namun, pada tahun 1892, empat penebang pohon berani menjelajahi Hutan Big Stump di California dan menghabiskan 13 hari untuk menebang sebuah pohon raksasa bernama Mark Twain. Pohon ini sudah berumur 1,341 tahun, menjulang setinggi 91 meter, dengan diameter mencapai 15 meter. Seorang pengamat menyebutnya sebagai pohon “dengan proporsi yang sangat indah, salah satu pohon paling sempurna di hutan itu.” Potongan dari pohon yang luar biasa dan kini telah hancur itu lalu dikirim ke Museum Sejarah Alam Amerika, agar orang-orang dapat melihat keagungan pohon sequoia.

Menantikan Allah

Ketika sebuah negara dilanda perang saudara, pihak berwenang merekrut seorang pria untuk masuk dalam wajib militer. Namun, orang itu menolak dan berkata: “Saya tidak ingin ikut serta dalam menghancurkan [negara saya].” Ia pun memutuskan untuk meninggalkan negaranya. Meski demikian, karena tidak memiliki visa, ia pun terjebak di bandara negara lain. Selama berbulan-bulan, staf bandara memberinya makanan, dan ribuan orang tekun mengikuti cuitannya di media sosial tentang pengalamannya berkeliling dari terminal ke terminal, merajut syal, sambil terus menggantungkan harapannya. Mendengar penderitaannya yang tak kunjung usai, sebuah komunitas di Kanada menggalang dana dan mencarikannya pekerjaan serta tempat tinggal.

Keluar dari Kegelapan

Sebuah kapal tunda (tugboat) terbalik dan tenggelam ke dasar laut sekitar 32 km lepas pantai Nigeria. Sebelas awak kapal tewas, tetapi juru masak kapal itu, Harrison Odjegba Okene, menemukan sebuah gua dengan rongga udara dan menunggu di situ. Ia hanya mempunyai sebotol Coca-Cola sebagai persediaan, dan kedua lampu senternya mati dalam 24 jam pertama. Selama tiga hari yang mengerikan, Okene terjebak sendirian dalam kegelapan di dasar laut. Ia mulai kehilangan harapan, tetapi kemudian sejumlah penyelam yang bertugas untuk mengangkat jenazah para korban berhasil menemukan dirinya yang menggigil dan berjongkok di dalam lambung kapal.

Kalahkan Kejahatan dengan Kebaikan

Dokter Dolittle, dokter fiksi yang dapat berbicara dengan hewan, telah menghibur para penggemarnya lewat beragam buku, film, dan drama. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa Hugh Lofting pertama kali menulis kisah-kisah tentang Dolittle untuk anak-anaknya ketika ia berada di tengah kancah Perang Dunia I. Di kemudian hari, ia mengatakan bahwa karena ia tidak ingin bercerita tentang perang yang mengerikan itu dalam surat-suratnya, maka ia memilih untuk menulis dan menggambar cerita fiksi tersebut. Kisah-kisah yang ganjil tetapi menyenangkan itu menjadi cara Lofting untuk melawan kengerian perang.

Tuhan Ada di Mana-Mana

Seorang pemain biola yang berpenampilan biasa-biasa saja, mengenakan topi bisbol dan kaus oblong, berdiri di dekat stasiun kereta bawah tanah L’Enfant Plaza di Washington, DC. Ia menggesekkan busur di atas senar biolanya dan menghasilkan melodi-melodi yang indah. Namun, orang-orang bergegas melewatinya begitu saja. Sampai ia selesai, hanya segelintir orang yang berhenti untuk mendengarkannya. Seandainya orang banyak itu tahu bahwa mereka sedang melewati Joshua Bell, salah seorang virtuoso terbesar di generasinya, yang pada malam sebelumnya baru saja memberikan pertunjukan di Perpustakaan Kongres AS. Bell memainkan beberapa musik biola yang paling sulit dan memukau di dunia, dengan menggunakan biola Stradivarius 1713 yang bernilai sekitar 3,5 juta dolar.

Keputusan dan Konsekuensi

Pada tahun 1890, ahli burung amatir Eugene Schieffelin memutuskan untuk melepaskan 60 ekor burung jalak Eropa di taman Central Park, New York. Meski ada sejumlah spesies jalak yang sudah beredar, burung-burung yang dilepaskan Schieffelin menghasilkan sarang pertama yang tercatat oleh para pengamat. Kini, diperkirakan ada sekitar 85 juta ekor burung jalak yang terbang di seluruh benua Amerika. Sayangnya, burung jalak bersifat invasif, sehingga kehadiran mereka mendesak populasi burung lokal, menyebarkan penyakit pada ternak, dan menyebabkan kerugian sekitar 800 juta dolar setiap tahunnya. Schieffelin tentu tidak pernah membayangkan kerusakan yang ditimbulkan akibat keputusannya.

Hati yang Pemurah

Ketika bintang sepak bola Sadio Mané asal Senegal bermain untuk klub Liverpool di Liga Primer Inggris, ia dibayar jutaan dolar per tahun dan menjadi salah satu pemain dari Afrika dengan bayaran tertinggi di dunia. Para penggemar menemukan foto Mané yang membawa iPhone dengan layar retak dan bercanda tentang dirinya yang menggunakan perangkat rusak itu. Mané merespons dengan tenang. “Untuk apa saya mempunyai 10 mobil Ferrari, 20 jam tangan berlian, dan dua buah pesawat jet?” tanyanya. “Dulu saya kelaparan, bekerja di ladang, bermain bola tanpa alas kaki, dan tidak bersekolah. Namun, sekarang saya bisa membantu orang. Saya memilih untuk membangun sekolah-sekolah dan menyediakan makanan atau pakaian bagi orang miskin. . . . [Mengembalikan] sebagian dari apa yang telah saya terima dalam kehidupan ini.”

Kasih Seharga Nyawa

William Temple, seorang uskup Inggris dari abad ke-19, suatu kali menutup khotbahnya kepada mahasiswa Oxford dengan kata-kata dari himne “When I Survey the Wondrous Cross” (Memandang Salib yang Agung, KRI No. 211). Namun, beliau memperingatkan mereka untuk tidak menganggap enteng lagu tersebut. “Jika kamu bersungguh-sungguh mengucapkan [liriknya] dengan segenap hatimu, nyanyikanlah sekeras mungkin,” kata Temple. “Akan tetapi, jika kamu tidak bersungguh-sungguh, tetaplah diam. Jika ada sedikit kesungguhan dalam hatimu, dan kamu ingin lebih bersungguh-sungguh, nyanyikanlah dengan sangat lembut.” Suasana pun menjadi hening karena semua orang memperhatikan liriknya. Perlahan-lahan, ribuan suara mulai bernyanyi dengan berbisik, sambil mengucapkan baris terakhir pujian itu dengan kesungguhan: “Kasih kudus menuntutku / Jiwa dan hidupku bagi-Nya.”