Oleh Patricia Batten
Jika kita sungguh-sungguh percaya bahwa Allah, yang dinyatakan dalam Yesus Kristus, adalah satu-satunya Allah yang benar dan yang telah menyelamatkan kita, kita akan menanggapi-Nya dengan kasih dan penyembahan. Ulangan 6:5 berkata: “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Inilah yang disebut perintah yang terbesar. Seolah-olah Musa berkata, “Kasihilah TUHAN dengan segala sesuatu yang ada pada dirimu.”
Mengasihi Allah dengan segala sesuatu yang ada pada diri kita berarti mengasihi Dia dengan hati, pikiran, dan perbuatan kita.
Mengasihi Allah dengan Segenap Hati
Kita mengasihi Allah dengan segenap hati melalui pengalaman. Ini termasuk perasaan, emosi, dan sikap kita. Bangsa Israel menunjukkan kasih mereka kepada Allah dengan mengikuti berbagai macam perayaan sepanjang tahun. Kalender agraris yang mereka ikuti berisi perayaan dan pesta yang tidak hanya dilakukan untuk merayakan hasil panen, tetapi juga memperingati hal-hal besar yang pernah dilakukan Allah dalam sejarah.
Misalnya, saat Paskah, mereka menyantap makanan dan sayur yang mengingatkan mereka pada keluarnya nenek moyang mereka dari Mesir. Saat Hari Raya Pondok Daun, mereka berziarah ke Yerusalem dan tinggal di tenda selama beberapa hari, untuk mengenang leluhur mereka yang berkelana 40 tahun lamanya di padang gurun. Lalu, dengan membawa domba atau merpati ke Bait Suci sebagai persembahan kepada Allah yang kudus, mereka melakukan penyembahan kepada satu-satunya Allah yang benar.
Semua itu dan tindakan-tindakan lainnya memberikan pengalaman yang menguji dan menyelaraskan sikap, nilai, dan emosi umat Allah, yang akhirnya mengarahkan hati mereka untuk semakin mengasihi dan menyembah Allah.
Saat ini, kita mengasihi Allah dengan hati kita melalui cara serupa—dengan beribadah bersama dan mengalami kehadiran-Nya di tengah umat-Nya. Hati kita bersukacita saat menyanyikan lagu-lagu yang memuji Allah. Roh Kudus menjamah hati kita saat mendengarkan khotbah atau merayakan Perjamuan Kudus. Rasa syukur kita tergugah saat menyaksikan pembaptisan jiwa-jiwa yang baru percaya.
Mengasihi Allah dengan Pikiran Kita
Ketika mengasihi Allah dengan pikiran, kita berupaya mempelajari tentang diri-Nya, apa yang telah Dia lakukan, dan apa yang Dia inginkan dari kita. Tentu saja, salah satu cara terbaik untuk mengasihi Allah dengan pikiran kita adalah lewat membaca dan mempelajari Alkitab. Allah telah menyatakan diri-Nya kepada kita melalui Alkitab. Ini disebut wahyu khusus.
Allah juga menyatakan diri-Nya melalui alam, atau wahyu umum. Saat kita mempelajari ciptaan-Nya dan menemukan kebenaran-Nya dengan mengeksplorasi dunia di sekitar kita serta mendalami berbagai disiplin ilmu, kita pun mengasihi Allah dengan pikiran kita, karena semua kebenaran adalah kebenaran Allah.
Mempelajari Allah lewat membaca Alkitab dan mempelajari dunia di sekitar kita sama-sama menjadi cara untuk mengasihi Allah dengan pikiran kita.
Mengasihi Allah dengan Perbuatan Kita
Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang utuh, dan sudah sepatutnya seluruh bagian diri kita menanggapi-Nya dengan kasih. Ini termasuk tangan kita, yang dalam hal ini dipakai sebagai metafora dari perbuatan kita.
Kita mengasihi Allah lewat tindakan pelayanan; ingatlah Yakobus 2:14-26 mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan itu mati. Kita mengasihi Allah dengan perbuatan saat kita melayani dalam kunjungan misi, memberi makan kaum tunawisma, membantu membangun rumah untuk sebuah keluarga, atau mengajar anak-anak di sekolah Minggu.
Namun, Ulangan 6 menyatakan satu cara lagi untuk menunjukkan kasih kepada Allah, yaitu dengan menaati-Nya. Ketika Musa berkata kepada orang Israel, “Dengarlah, hai orang Israel” (ay. 4), ia bukan sekadar mengumpulkan massa. Ia tidak berkata, “Mohon perhatiannya, acara akan segera dimulai.” Mendengar berarti menaati. Mendengar Allah tanpa menaati-Nya sama dengan tidak mendengarkan-Nya sama sekali.
Apa yang Musa inginkan untuk didengar dan ditaati oleh umat Allah? Perintah-perintah-Nya. Mengapa ini begitu penting? Karena dengan ketaatan, kita menunjukkan kasih kita kepada satu-satunya Allah yang benar.
— o —
Mengapa penting untuk mengasihi Allah dengan segenap diri kita? Karena Dia adalah Allah kita. Dia sudah menyatakan diri-Nya kepada kita dan menyerahkan segalanya demi menyelamatkan kita, jadi kita pun rela mengasihi Dia dengan segala sesuatu yang ada pada diri kita.
Jangan lupa, sebagai pengikut Yesus Kristus, kita telah dikaruniai Roh Kudus yang tidak ternilai. Inilah karunia yang diberikan kepada setiap orang percaya. Roh Kudus memimpin kita, mendoakan kita, menghibur kita, dan mengajari kita (Yohanes14:26; Roma 8:14,26).
Renungkan:
- Dengan aspek apa Anda cenderung mengasihi Allah: hati, pikiran, atau perbuatan? Dalam aspek apa Anda dapat dan perlu belajar mengasihi-Nya lebih lagi?
- Kenali aspek di luar zona nyaman Anda yang masih ingin Anda kembangkan. Langkah apa saja yang bisa Anda tempuh untuk bertumbuh dalam aspek tersebut?
Dikutip dan diadaptasi dari Seri Terang Ilahi—Membentuk Hati Anak untuk Mengasihi Tuhan oleh Patricia Batten, terbitan PT Duta Harapan Dunia
Baca Juga:
Seri Terang Ilahi—Membentuk Hati Anak
untuk Mengasihi Tuhan (oleh Patricia Batten)
Bagaimana Anda dapat memberikan fondasi yang lebih kuat kepada anak-anak, agar mereka lebih siap menghadapi tantangan hidup? Dalam buklet ini, Patricia Batten membahas tentang beragam tantangan dalam membesarkan anak di tengah dunia yang pelik dan penuh tantangan. Dengan mengamati sebuah pernyataan mendasar tentang iman kepada Allah, yakni shema dari Ulangan 6:4-9, Batten menyajikan sejumlah panduan praktis untuk mengajarkan anak-anak kita tentang siapa diri Allah, apa yang telah Dia lakukan, dan bagaimana kita dapat menanggapi-Nya.
Pelayanan Our Daily Bread Ministries di Indonesia didukung terutama oleh persembahan kasih dari para pembaca, baik individu maupun gereja di Indonesia sendiri, yang memampukan kami untuk terus membawa hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup kepada banyak orang di dalam negeri.
