“AKU ADALAH AKU”. . . Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu. . . . Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.” (Keluaran 3:14-15)

Saat Allah menyingkapkan nama-Nya kepada Musa sebagai “AKU ADALAH AKU” dalam semak belukar yang menyala, Dia tidak hanya memberitahukan nama-Nya kepada Musa, tetapi juga menyatakan seperti apa diri-Nya dan bagaimana Dia berhubungan dengan makhluk ciptaan-Nya.

1. Dia Kudus

Dalam Alkitab, api yang menghanguskan sering melambangkan kekudusan Allah yang istimewa (lihat Keluaran 19:18,23). Saat Musa mendekat, Allah memberi tahu Musa, “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus” (3:5). Dari awal, Allah sudah menjelaskan bahwa Dia “kudus”, atau “terpisah”, karena Dia satu-satunya di alam semesta ini yang sungguh-sungguh terpisah dari ciptaan-Nya sendiri.

2. Dia Setia

Allah lalu menyingkapkan kepada Musa, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” (ay. 6). Dengan itu Dia mengingatkan Musa bahwa Dialah pemberi perjanjian yang juga adalah “Allah nenek moyangmu” (ay. 15). “AKULAH AKU” yang memegang perjanjian itu sekarang datang untuk menyelamatkan orang-orang Israel dan membawa mereka ke tanah perjanjian, seperti yang telah Dia janjikan kepada nenek moyang Musa 645 tahun sebelumnya.

Dia adalah Allah penuh belas kasih yang akan merespons penderitaan umat-Nya.

Allah membuktikan diri-Nya setia dengan memegang janji-Nya kepada Abram. Dengan menyebut nama-nama nenek moyang Musa, Dia mengingatkan pemimpin Israel itu tentang nubuat-Nya, dan janji yang akan segera Dia genapi—untuk melepaskan umat-Nya dari perbudakan dan membawa mereka kembali ke tanah perjanjian.

3. Dia Penuh Belas Kasih

Rencana Allah tidak pernah berubah: 400 tahun perbudakan akan segera berakhir, dan benarlah, Allah telah datang untuk menyelamatkan mereka. Dia menyatakannya di Keluaran 3:8, “Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas.”

Allah tidak melupakan orang-orang Ibrani. Sebagaimana Allah telah berjanji kepada Abraham, Ishak dan Yakub, Dia masih menjadi Allah mereka, yang betul-betul mengetahui tentang perbudakan dan penganiayaan mereka. Dia adalah Allah penuh belas kasih yang akan merespons penderitaan umat-Nya. “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka”, firman-Nya di Keluaran 3:7, “ya, Aku mengetahui penderitaan mereka.”

Hari ini, Allah terus berada dekat dengan kita dan bersama kita—melalui Anak-Nya, Yesus, yaitu Allah yang menjadi manusia.

Sungguh penghiburan yang luar biasa saat mengetahui bahwa Allah kini akan turun tangan bagi umat-Nya! Tidak ada bangsa lain yang begitu diistimewakan, dengan memiliki Allah yang terlibat erat dalam kehidupan mereka. Karena itu Musa mengingatkan orang Israel tentang kedekatan Allah dengan mereka, “Bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya?” (Ulangan 4:7).

 

Yesus, Allah yang Beserta Kita

Hari ini, Allah terus berada dekat dengan kita dan bersama kita—melalui Anak-Nya, Yesus, yaitu Allah yang menjadi manusia.

Nama “Yesus” berarti “Tuhan menyelamatkan.” Nama ini mengungkapkan maksud dari kedatangan-Nya, “Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21). Seperti “AKULAH AKU” dalam Perjanjian Lama membebaskan orang Israel dari perbudakan Mesir, Yesus datang untuk membebaskan kita dari hukuman dosa dan maut.

Yesus membuat pernyataan tegas bahwa Dia adalah Allah di hadapan para pemimpin agama dan orang Yahudi yang terkejut. Hal ini membuat mereka ingin melempari Dia dengan batu dengan tuduhan menghujat Allah, “karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah” (Yohanes 10:33).

Kita menyaksikan salah satu perdebatan mengenai identitas dan keilahian Yesus dalam Yohanes 8:21-58. “Siapakah Engkau?” tanya orang-orang yang melawan Yesus kepada-Nya. Untuk membuktikan bahwa Dia hanyalah seorang manusia dan bukan Allah, mereka memfitnah asal-usul Yesus, yang mengisyaratkan bahwa Dia adalah anak haram Yusuf yang dilahirkan di luar nikah, dan membedakannya dengan silsilah rohani mereka yang murni dengan mengatakan, “Bapa kami ialah Abraham” (ay. 39).

Beribadah kepada Allah berarti melayani Dia.

Namun, Yesus menjawab bahwa Abraham, nenek moyang mereka, telah melihat Dia, dan Dia telah melihat Abraham. Dia lalu menyatakan tentang keberadaan-Nya sebelum segala sesuatu, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada!” (ay. 58)—dengan ini menyerukan nama Allah, “Akulah!” yang disebutkan dalam perjumpaan Allah dengan Musa.

 

Kita dibebaskan

Saat Allah memberi tahu Musa bahwa Tuhan yang namanya “AKULAH AKU” itu telah datang untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan, Dia memberikan alasan dan tujuan penyelamatan ini dengan sangat jelas, “Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku” (Keluaran 7:16).

Kata ibadah dalam bahasa Ibrani, āḇaḏ, juga berarti “melayani” atau “menjadi budak.” Versi AYT menerjemahkan ayat ini demikian: “Biarkan umat-Ku pergi supaya mereka dapat melayani-Ku di padang belantara” (penekanan ditambahkan). Beribadah kepada Allah berarti melayani Dia. Setelah dipaksa melayani sebagai budak bagi bangsa Mesir, orang Israel kini dibebaskan untuk dapat melayani Yahweh, “AKULAH AKU” yang Maha Besar.

Sebagai orang percaya, kita juga sudah diselamatkan dan dibebaskan dari perbudakan rohani; kita bukan lagi budak dosa. Namun, kita melayani tuan yang baru. Paulus mengingatkan kita, “Seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan, adalah orang merdeka, milik Tuhan. Demikian pula orang merdeka yang dipanggil-Nya, adalah hamba Kristus” (1 Korintus 7:22 TB2).

Kita telah dibebaskan untuk menyembah Allah. Kita bebas untuk melayani Allah kita. Bagaimana Anda melayani Kristus hari ini?

Ya Allah, terima kasih, karena Engkau menyatakan diri-Mu kepada kami sebagai “AKULAH AKU” yang Maha Besar, satu-satunya Allah yang kudus, setia, dan penuh belas kasih. Terima kasih, Engkau selalu menyertai kami melalui Putra-Mu Imanuel, yang berkat perantaraan-Nya kami dapat mengenal-Mu. Terima kasih, karena Engkau telah menyelamatkan dan membebaskan kami dari perbudakan rohani sehingga kami tidak lagi menjadi budak dosa. Kami mau menyerahkan diri kami untuk melayani dan menyembah Engkau sebagai Tuhan kami. Amin.

Dikutip dan diadaptasi dari Ketika Yesus Berkata “Akulah” oleh Sim Kay Tee, terbitan PT Duta Harapan Dunia

Baca Juga:

Ketika Yesus Berkata “Akulah”

Bagi orang-orang Yahudi, pernyataan “Akulah” yang diucapkan Yesus merupakan penghujatan. Mengapa mereka begitu marah? Apa yang sebenarnya dikatakan Yesus? Dan, apa maknanya bagi kita saat ini?

Dalam buku ini, Sim Kay Tee mengeksplorasi konteks budaya dan sejarah di balik perkataan “Akulah” yang utama dari Yesus dalam Injil Yohanes, menyingkap wawasan baru tentang apa yang Dia katakan tentang diri-Nya, dan membantu kita menemukan bagaimana kita dapat menanggapinya.


Pelayanan Our Daily Bread Ministries di Indonesia didukung terutama oleh persembahan kasih dari para pembaca, baik individu maupun gereja di Indonesia sendiri, yang memampukan kami untuk terus membawa hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup kepada banyak orang di dalam negeri.