Oleh Sim Kay Tee
Jemaat-jemaat baru dalam Perjanjian Baru telah menjadi panutan bagi gereja-gereja yang rindu menumbuhkan jemaatnya. Berdasarkan Kisah Para Rasul 2:42-47, beberapa ahli pertumbuhan gereja telah mendalilkan bahwa setiap jemaat lokal harus memiliki karakteristik “Ibadah, Pengajaran Firman, Persekutuan, dan Penginjilan”, sama seperti jemaat-jemaat pada zaman para rasul.
Rasul Paulus dipercaya telah merintis sekitar 20 gereja di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi. Dari surat-surat yang ditulisnya kepada berbagai gereja, kita dapat melihat sekilas kehidupan jemaat abad pertama.
“Gereja mana dalam Perjanjian Baru yang dapat menjadi model untuk kita tiru hari ini?” Pertanyaan ini dilontarkan dalam seminar pertumbuhan gereja yang saya hadiri.
Tidak mengherankan, tidak seorang pun peserta menyebut tentang gereja Korintus yang dilanda konflik dan terpecah. Wajar pula ketika semua orang merujuk pada gereja mula-mula di Yerusalem, yang menjadi teladan berdasarkan kualitas yang diterangkan dalam Kisah Para Rasul 2:42-47. Namun, bagi Paulus, gereja Tesalonika adalah gereja teladan. Itulah sebabnya ia memuji mereka sebagai “teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya” (1 Tesalonika 1:7).
Mengapa Paulus menyebut mereka sebagai teladan? Dalam hal apa gereja itu dapat menjadi teladan bagi umat Tuhan masa kini?
Gereja Tesalonika dikenal karena pekerjaan iman, usaha kasih, dan ketekunan pengharapan mereka (ay. 3). Jemaat menjalankan Amanat Agung dan menghasilkan dampak pada komunitas mereka dengan firman Tuhan. Dengan setia dan berani, mereka mewartakan Kabar Baik di mana-mana, bahkan di luar wilayah perbatasan mereka sendiri. Inilah yang dikatakan Paulus, “dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah” (ay. 8).
Jemaat Tesalonika menjalani kehidupan yang berubah secara radikal sehingga orang dapat melihat dan merasakan perbedaannya. Perilaku mereka yang saleh dan menyerupai Kristus meninggalkan kesan mendalam pada diri orang-orang di sekitar mereka (ay. 6-7). Bisa dibilang bahwa mereka telah “mengacaukan seluruh dunia” (Kisah Para Rasul 17:6). Jemaat Tesalonika adalah gereja teladan karena mereka melayani Allah dengan setia, sangat mengasihi satu sama lain, dan rindu untuk melihat Tuhan pada kedatangan-Nya yang kedua kali (1 Tesalonika 1:9-10).
Singkatnya, mereka unggul dalam iman, pengharapan, dan kasih—tiga kebajikan utama kehidupan Kristen, dan tiga tanda terbesar dari keselamatan orang percaya.
Paulus kembali menekankan pentingnya trilogi itu ketika ia menginstruksikan jemaat Tesalonika untuk mengenakan perlengkapan tempur, untuk “berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan” (5:8; penekanan ditambahkan). Dalam Perjanjian Baru, trilogi pekerjaan iman, usaha kasih, dan ketekunan pengharapan adalah tanda gereja yang dewasa (lih. Kolose 1:4-5; Ibrani 10:22-24).
Sebagai orang percaya, kita juga perlu berusaha untuk unggul dalam iman, kasih, dan pengharapan. Mengapa? Paulus berkata, kebajikan-kebajikan tersebut sangat penting dan bersifat abadi: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1 Korintus 13:13).
Pikirkanlah:
- Paulus memuji jemaat Tesalonika karena menjadi “penurut kami dan penurut Tuhan” (1:6). Siapakah penurut Kristus yang memotivasi Anda? Bagaimana caranya? Mengapa?
- Apakah Anda melihat diri Anda sebagai seorang Kristen “teladan”? Ya atau tidak, dan mengapa? Dalam bidang apa Anda ingin orang-orang (seperti teman atau anak-anak Anda, jika Anda adalah orang tua) meneladan Anda?
Dikutip dan diadaptasi dari Teman Jelajah “1 & 2 Tesalonika” oleh Sim Kay Tee, terbitan PT Duta Harapan Dunia
Baca Juga:
Teman Jelajah “1 & 2 Tesalonika”
Sama seperti banyak jemaat masa kini, jemaat Tesalonika yang masih muda bergumul menghadapi keraguan, dosa, pengajaran palsu, dan penganiayaan. Galilah dalam-dalam surat-surat Paulus kepada jemaat Tesalonika, supaya Anda memperoleh dorongan semangat untuk terus bertekun dalam masa-masa sulit.
Temukan bagaimana Anda dapat menjalani hidup kudus, beriman teguh, dan memegang erat pengajaran yang benar sembari menantikan kedatangan Kristus kembali.
Pelayanan Our Daily Bread Ministries di Indonesia didukung terutama oleh persembahan kasih dari para pembaca, baik individu maupun gereja di Indonesia sendiri, yang memampukan kami untuk terus membawa hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup kepada banyak orang di dalam negeri.
