Oleh Aryanto Wijaya

Selama 28 tahun, Tuhan memberkati bisnis makanan yang keluarga kami tekuni dan sepanjang masa itu tentulah ada masa-masa sulit yang kami alami. Salah satu kesulitan yang sering terjadi adalah naiknya harga bahan-bahan pokok yang berimbas pada banyak aspek. Ibu saya di rumah pun mengeluh. “Duh, telor sekarang udah 30 ribu. Harga ikan juga naik lumayan ini.” 

Menanggapinya, saya balik bertanya, “Apa kita mau naikin aja harganya nambah 2000?”

“Jangan dulu deh. Bertahan dulu. Nanti kalau naik takutnya orang gak mau beli.”

Kenaikan harga-harga membuat kami berada pada pilihan dilematis. Jika harga produk ikut naik, pembeli akan berkurang. Namun, jika tidak ikut naik, keuntungan jadi turun, atau bahkan merugi. Ketakutan akan kesulitan ekonomi yang lebih besar pun terus menghantui. Tapi, agaknya tak cuma kami yang mengalami ketakutan itu. Semenjak kabar tentang kolapsnya ekonomi Srilanka, konflik Rusia-Ukraina yang terus berlanjut, dan wanti-wanti dari Bank Dunia tentang ancaman resesi, banyak orang di Indonesia turut menyuarakan kekhawatirannya. Karena ekonomi dunia saling terhubung, maka krisis-krisis tersebut turut memicu kenaikan harga kebutuhan pokok seperti bensin, gas, dan sembako yang memiliki efek domino berupa naiknya juga harga barang dan jasa yang lain. Sementara itu, pemasukan yang kita raih tidak meningkat signifikan di saat biaya untuk memenuhi kebutuhan semakin membengkak. 

Bank sentral Indonesia (BI) mencatat tingkat inflasi pada Juni 2022 berada di angka 4,35%. Meskipun Bank Dunia memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara yang bisa terancam resesi, tetapi kita masih bisa sedikit lega karena tingkat risiko kita berada di angka 3%, jauh lebih rendah ketimbang negara-negara lain. Namun, tidak ada yang bisa menjamin bahwa segalanya akan tetap baik-baik saja ke depannya. 

Krisis bukanlah hal baru 

Sejarah mencatat bahwa dunia modern yang terbentuk hari ini adalah produk dari krisis-krisis yang terjadi di masa lampau. Kita di Indonesia pernah mengalami getirnya krisis moneter tahun 1998 yang memicu kerusuhan etnis. Bagi para korban yang terdampak langsung ataupun tidak, krisis itu menggoreskan memori pahit yang sulit hilang hingga hari ini. 

Alkitab—meski ditulis sebelum era-era negara modern berdiri—juga menyajikan kisah tentang bagaimana umat Allah bertahan hidup melalui krisis-krisis berat yang mengancam nyawa mereka. 

Pada zaman ketika Nabi Elia hidup (sekitar abad 7SM), Alkitab mencatat kisah tentang seorang janda di Sarfat yang dipakai Allah. Sarfat adalah tempat kering dan gersang yang letaknya di wilayah Fenisia (sekarang masuk wilayah Libanon). Sudah dua tahun hujan tak pernah turun dan para imam Baal pun tak mampu “membujuk” dewa-dewa untuk menurunkan hujan. Kita bisa membayangkan betapa sulitnya hidup di wilayah yang tak dibasahi oleh hujan sama sekali. Kekeringan ekstrem tentulah mengakibatkan matinya fungsi sawah maupun ladang. Tak akan ada gandum yang dihasilkan. Juga tak mungkin ternak dapat hidup. Bisa disimpulkan, kekeringan mengakibatkan Sarfat wilayah mati yang membuat orang-orang di dalamnya hidup sengsara. 

Dalam 1 Raja-raja 17 dikisahkan setelah Elia bersembunyi di tepi sungai Kerit, Allah mengutus Elia untuk pergi ke Sarfat sebab sungai itu telah kering. Saat tiba di Sarfat, Elia menjumpai seorang janda yang sedang mengumpulkan kayu api. Tidak dicatat detail bagaimana Elia membuka percakapan dengan sang janda yang hidup susah tersebut. Yang tercatat adalah Elia dengan lugas berseru padanya, “Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum” (ayat 10). 

Menariknya, janda tersebut taat pada perintah Elia. Tapi, tak cukup sampai di situ, Elia malah meminta roti. Mungkin jika kita adalah sang janda, dalam hati kita akan mengumpat, “Hadeh! Ini orang sudah dikasih ati minta ampela!” Tetapi, itu tidak dilakukan oleh sang janda. Dia membalas permintaan Elia dengan pernyataan lugas, “Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati” (ayat 12). 

Perhatikan kata-kata terakhir di ayat tersebut, “…maka kami akan mati.” Lewat kata-kata lugasnya itu, sang janda sedang menyingkapkan krisis kekeringan di Sarfat sudah terlampau parah sehingga kematian adalah konsekuensi logis yang akan mereka terima dalam waktu dekat. 

Allah menunjukkan pada kita serta umat-Nya pada masa-masa mendatang bahwa Dia tetaplah Allah yang peduli dan memelihara.

Namun, di sinilah Allah bekerja kepadanya untuk menunjukkan pada kita serta umat-Nya pada masa-masa mendatang bahwa Dia tetaplah Allah yang peduli dan memelihara. Elia menenangkan janda itu dengan memberinya janji bahwa tepung dan minyak miliknya tak akan pernah berkurang hingga kelak Allah menurunkan tirta dari langit. Sang janda pun memilih percaya dan taat. Tidak dituliskan memang sampai berapa lama mereka menanti dalam kekeringan, tetapi ayat 16 menegaskan bahwa sungguhlah mukjizat dinyatakan pada keluarga sang janda bahwa tepung dan minyak tidak berkurang sama sekali. Semua mukjizat dan pemeliharaan Allah ini akhirnya mengantar sang janda pada deklarasi iman yang terucap dari bibirnya, “Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kau ucapkan itu adalah benar” (ayat 24). 

Kita tentu tak bisa membandingkan secara apple to apple antara krisis kekeringan di Sarfat dengan krisis ekonomi pada masa kini yang jauh lebih kompleks. Tetapi, jika kita lihat dengan sudut pandang masa tersebut, krisis kekeringan yang melanda Sarfat adalah masalah sangat pelik yang tak ada jalan keluar. Zaman itu belum ada teknologi inseminasi hujan, pengeboran sumur jet-pump, ataupun distribusi air menggunakan truk-truk tangki. Maka, tak ayal sang janda sudah mafhum bahwa dia akan mati segera setelah minyak dan tepung terakhirnya dia makan. Namun, di sinilah kita dapat melihat benang merah yang tetap relevan sampai masa kini: bahwa Allah senantiasa peduli pada umat-Nya dan Dia memelihara dengan berbagai cara, bahkan terkadang melalui sesuatu yang tak terbayangkan oleh pikiran kita. 

Sebelum janda tersebut terpenuhi kebutuhannya, Allah lebih dulu memenuhi kebutuhan Elia yang bertahan di tengah kekeringan dengan mengirimkan burung-burung gagak yang membawa roti dan daging (1 Raja-raja 17:5). 

Masih banyak lagi kisah dalam Alkitab yang menceritakan tentang bagaimana Allah memelihara semua orang yang dikasihi-Nya. Ada bangsa Israel yang diberi-Nya roti manna dan air (Keluaran 16:4; 15:27), kerumunan lima ribu orang yang tercukupi nutrisinya hanya dengan lima roti dan dua ikan (Matius 14:13-20), hingga kisah pelayanan Paulus yang selalu dipenuhi oleh pertolongan dan karunia-Nya (Filipi 4:19). 

Bijak menghadapi krisis 

Inilah janji yang Allah berikan bagi setiap kita: bahwa kita dipelihara dalam keadaan apa pun dan kita tidak seharusnya khawatir karena segala yang kita butuhkan pasti dicukupkan-Nya (Mazmur 23:1; Matius 6:25-34). Sudah seharusnya sebagai orang percaya kita memegang teguh janji itu. 

Kesulitan-kesulitan yang kita alami, terkhusus kesusahan ekonomi seharusnya mengingatkan kita kembali bahwa harta terbaik bukanlah sesuatu yang sifatnya lahiriah.

Namun, memegang dan mengimani janji Allah itu tidak berarti kita hidup serampangan. Kesulitan-kesulitan yang kita alami, terkhusus kesusahan ekonomi seharusnya mengingatkan kita kembali bahwa harta terbaik bukanlah sesuatu yang sifatnya lahiriah sebab “ngengat dan karat” dapat merusakkannya (Matius 6:20). Deretan nominal angka di rekening maupun portofolio investasi adalah hal fana yang bisa lenyap dalam sekejap. Maka, Alkitab mengatakan agar kita mengumpulkan harta di surga… tetapi sekali lagi, ini bukan berarti uang menjadi tidak penting. Ia adalah hal penting untuk kehidupan, tetapi bukan yang pertama dan terutama. 

Inflasi dan krisis ekonomi yang menghantui seharusnya menjadi dorongan agar kita semakin bijak mengelola uang. Kita diajak untuk lebih mengencangkan sabuk pengeluaran, dan tidak mengalokasikan uang pada hal-hal konsumtif yang sifatnya kurang penting. Kita juga dapat lebih cermat dalam berinvestasi, sehingga tidak terjebak pada investasi bodong yang mengiming-imingi kebebasan finansial dengan instan. Jika perlu, mari mencatat setiap pengeluaran dengan detail agar tidak ada pos anggaran yang bocor. Pula, mungkin kita bisa mencari peluang baru yang dapat mendatangkan penghasilan tambahan. Ini semua bukanlah cara agar kita menjadi tamak dan meraih harta dengan tidak terbatas, tetapi sebagai bentuk pertanggungjawaban kita dalam mengelola dan menatalayani setiap rupiah yang Allah percayakan. 

Kita tentu berharap krisis ekonomi yang fatal seperti di Srilanka tidak terjadi pada negeri kita. Oleh karena itu, sembari kita hidup menata keuangan dengan bijaksana, marilah terus mendoakan agar para pemimpin negeri ini bekerja dengan bertanggung jawab sehingga kita dapat melewati ancaman resesi ini dengan selamat.


Baca Juga:

Uang: Mengapa Rasanya Tak Pernah Cukup?

Ada berbagai cara pandang berbeda tentang uang dan kaitannya dengan hidup manusia. Namun, di balik semua itu, isu yang paling dalam sebenarnya bukan soal uang itu sendiri, melainkan kehausan jiwa manusia. Buklet ini mengupas akar masalah di balik uang sekaligus solusinya.


Pelayanan Our Daily Bread Ministries di Indonesia didukung terutama oleh persembahan kasih dari para pembaca, baik individu maupun gereja di Indonesia sendiri, yang memampukan kami untuk terus membawa hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup kepada banyak orang di dalam negeri.