Dampak wabah Covid-19 kepada perekonomian dunia sangat dahsyat. Pada triwulan pertama 2020, resesi telah melanda Singapura, Hongkong, Uni Eropa, Tiongkok, dan banyak negara lainnya. PHK dan jumlah pengangguran juga meningkat. Di Jakarta saja, sekitar 500.000 pekerja telah terkena PHK. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memprediksi pada tahun 2021 angka pengangguran bisa menyentuh 12,7 juta orang.

Situasi sulit ini juga berimbas kepada orang Kristen di mana saja. Banyak dari kita mengalami pemotongan gaji hingga dirumahkan. Tentu semua ini tidak mudah. Menurut Armand Larive, penulis buku After Sunday: A Theology of Work, kehilangan pekerjaan tidak saja mengakibatkan krisis spiritual yang berat pada diri seseorang yang merasa tujuan hidupnya terenggut, tetapi juga ia merasa terputus dari hubungan yang wajar dengan sesama dan merasa tidak dibutuhkan serta kurang dihargai.

Tidak heran, banyak dari kita bertanya-tanya: Kapan keadaan akan segera membaik? Bagaimana seharusnya kita merespons guncangan ekonomi ini?

Sebagai umat Allah, kita tidak terlepas dari krisis ekonomi yang melanda dunia ini. Alkitab mencatat sejumlah krisis yang dialami orang-orang pilihan Allah. Abram harus pergi ke Mesir karena bencana kelaparan di tanah Negeb (Kejadian 12). Ishak juga mengalami hal yang sama pada masanya, sehingga ia pergi ke Gerar (Kejadian 26). Anak-anak Yakub pergi ke Mesir untuk membeli gandum karena ada kelaparan di tanah Kanaan (Kejadian 42). Narasi-narasi ini menunjukkan bahwa situasi buruk dapat berimbas pula pada kehidupan anak-anak Tuhan.

Lantas, apa yang dapat kita pelajari dari Kitab Suci untuk menolong kita di masa-masa sulit ini?

Allah Punya Rencana dan Dia Peduli

Pertama, kita dapat terhibur dengan menyadari bahwa Allah mempunyai rencana-Nya bagi setiap dari kita. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini berada dalam kedaulatan dan kekuasaan-Nya, termasuk guncangan ekonomi yang terjadi. Allah mengetahui setiap detail kehidupan ini, dari kondisi keuangan kita hingga jumlah helai rambut kita (Lukas 12:7). Walau guncangan ini telah mempengaruhi banyak dari kita, kita tahu Allah tidak terlelap dan tidak tertidur (Mazmur 121:4). Kebenaran ini memberi kita sukacita dan kekuatan untuk terus mempercayai-Nya. Kita tahu bahwa Dia sanggup menolong kita melewati guncangan yang ada. Allah juga berjanji akan memenuhi segala kebutuhan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Filipi 4:19).

Kita Perlu Hidup Bijaksana dan Bertanggung Jawab

Kedua, saat mengetahui bahwa Allah masih memegang kendali dan memelihara kita, kita ditolong untuk hidup dengan bijaksana dan bertanggung jawab. Rasul Paulus mengatakan, “Perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif” (Efesus 5:15). Kesulitan ekonomi telah mendorong kita untuk mengatur keuangan dengan lebih bijaksana. Mungkin secara lembut Tuhan mengajak kita melihat kembali bagaimana kita mengelola hidup, keuangan, dan prioritas kita selama ini. Rasul Paulus memberi tahu kita bagaimana ia dapat belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan, karena “segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:11-13).

Guncangan ekonomi dunia saat ini memang tidak mudah bagi banyak dari kita, tetapi Allah berjanji takkan membiarkan dan meninggalkan kita (Ibrani 13:5). Meskipun kita sulit melihatnya sekarang, Dia akan menolong kita dengan cara dan pada waktu yang dikehendaki-Nya. Sebagaimana Allah telah menyelamatkan jiwa kita dengan ajaib, Dia teramat sanggup untuk menguatkan kita supaya kita tetap beriman di tengah guncangan ekonomi yang sulit ini.

Apakah Anda membutuhkan penguatan di tengah pergumulan Anda dengan pekerjaan dan kesulitan ekonomi? Bacalah pamflet Seri Pengharapan Hidup “Aku Takut di-PHK” pada tautan di bawah ini.


Jika Anda diberkati melalui materi-materi ini dan ingin melihat lebih banyak orang diberkati, Anda dapat juga mendukung pelayanan kami.