Oleh Anne Soh

Dengan ditangguhkannya pertemuan sekolah Minggu hingga kebaktian umum di banyak gereja agar COVID-19 tidak semakin tersebar luas, mungkin ada sejumlah orangtua yang bertanya-tanya apa yang bisa mereka lakukan bersama anak-anak untuk beberapa minggu ke depan. Umat Tuhan diperintahkan untuk menjaga kekudusan Hari Tuhan, dengan berhenti dari segala pekerjaan dan berfokus kepada Allah sebagai sumber segala berkat (Keluaran 20:8-11). Namun, bagaimana kita dapat melakukan hal itu jika kita bukan guru Sekolah Minggu yang berpengalaman atau pengkhotbah yang sudah terdidik di seminari?

Jika memperhatikan Ulangan 6:5-7, kita melihat bahwa satu-satunya persyaratan yang dibutuhkan untuk mengajar anak-anak kita tentang Allah adalah kasih kepada-Nya dan kerelaan untuk memegang perintah-perintah-Nya. Selain itu, berbicara tentang firman Allah kepada anak-anak tidak harus dilakukan sekali seminggu di gereja, melainkan harus menjadi urusan sehari-hari yang terus-menerus dilakukan di rumah.

Jadi, mari kita pikirkan bagaimana kita dapat menikmati ibadah yang asyik dan penuh arti di rumah bersama anak-anak kita—tidak saja untuk masa-masa COVID-19 ini, tetapi untuk setiap hari yang akan datang:

1. Libatkan Setiap Anggota Keluarga

Jadikan ibadah keluarga menarik dengan melibatkan setiap anggota. Misalnya, berikanlah kesempatan kepada setiap orang untuk mengusulkan lagu pujian yang akan dinyanyikan. Terbukalah untuk menyanyikan lagu-lagu pujian dalam gaya apa pun, karena bukan musik melainkan hati kita yang diperhatikan oleh Allah. Biarkan anak-anak yang masih kecil memainkan gendang buatan mereka sendiri, atau memimpin gerakan saat menyanyi. Anak-anak remaja dapat memainkan alat musik atau memimpin pujian. Setiap orang dapat bergantian membaca perikop Alkitab dengan suara lantang.

Saat bercerita dari Alkitab, doronglah anak-anak untuk menanggapi dan membagikan pemikiran mereka. Kita bisa terkejut, bahkan belajar dari kedalaman pemahaman mereka, karena meskipun muda, mereka juga memiliki Roh Kudus yang memimpin orang percaya kepada seluruh kebenaran (Yohanes 16:13).

Ingatlah bahwa dari mulut anak-anak, Allah telah meletakkan dasar kekuatan untuk membungkamkan musuh (Mazmur 8:3). Bahkan ketika Yesus mengutip mazmur tersebut di Matius 21:16, anak-anak sedang memuji Dia sementara orang-orang dewasa marah terhadap Yesus yang telah mengusir para pedagang dari pelataran Bait Allah (Matius 21:12-15).

2. Cobalah Hal-Hal Baru yang Berbeda

Ibadah keluarga tidak harus mengikuti bentuk yang sama dengan ibadah di gereja. Kita bebas mengambil waktu untuk lebih banyak bernyanyi dan memuji Tuhan di satu minggu, lalu lebih banyak waktu untuk saling mendoakan di minggu berikutnya. Tidak ada formula yang standar, selama kita bersama-sama mencari Tuhan sebagai satu keluarga, baik melalui pujian, pendalaman firman Tuhan, atau dengan berdoa. Jangan ragu untuk mencoba ekspresi ibadah yang berbeda dari apa yang selama ini dilakukan di gereja.

Jika anak-anak senang dengan kegiatan seni, kita dapat mengajak mereka menggambar atau melukis sesuatu dari alam ciptaan Allah sebagai cara untuk memuji Sang Pencipta langit dan bumi.

Kita juga dapat menjelaskan suatu bagian Alkitab kepada keluarga kita dengan mengajak mereka berpikir bersama dalam pemetaan pikiran (mind mapping) atau bermain peran sebagai tokoh-tokoh Alkitab.

Saat mendoakan orang-orang yang berada dalam kekurangan, kita dapat menerapkan apa yang kita doakan, misalnya dengan menulis dan mengirimkan pesan yang menguatkan orang lain.

Pikirkanlah cara-cara kreatif yang selama ini tidak terpikirkan dan biarkan Roh Allah mengilhami kita supaya anak-anak tidak melihat ibadah keluarga sebagai sesuatu yang membosankan!

3. Gunakan Teknologi dengan Kreatif

Gunakan beragam bahan dan materi, yang kebanyakan tersedia cuma-cuma di dunia maya. Kita bisa menyusun dan membagikan daftar lagu-lagu pujian yang paling disukai keluarga kita dengan Spotify atau YouTube.

Kita juga bisa meminta anak-anak untuk membantu mencari lirik lagu atau penjelasan tentang kata-kata tertentu yang sulit dalam Alkitab. Ada begitu banyak video berisi kisah dan khotbah Alkitab yang dapat ditemukan di Internet, ditambah lagi materi renungan bagi anak-anak dan remaja yang dapat kita gunakan.

[Saran: di sejumlah situs atau aplikasi, video yang dimainkan bisa dipercepat atau diperlambat, dan kita juga bisa memajukan video atau meloncati bagian-bagian yang mungkin tidak relevan bagi keluarga kita]

4. Bersikaplah Fleksibel dan Sesuaikan Jika Perlu  

Cobalah ajak dan jangan paksa anak-anak Anda. Jika mereka tidak ingin ikut dalam ibadah keluarga, cari tahu alasannya. Cobalah memahami sudut pandang mereka dan buatlah penyesuaian yang perlu agar mereka tetap dapat terlibat.

Jika Anda melihat anak-anak mulai kehilangan minat, pikirkan cara-cara positif untuk menarik kembali perhatian mereka (tidak dengan menguliahi atau mengomeli mereka!). Mungkin kita perlu menyingkat bahan yang kita bawakan atau bahkan mengganti total rancangan ibadah kita untuk melakukan hal yang lain sama sekali.

Jika anak-anak tertidur di tengah ibadah, mungkin kita perlu menggeser waktu ibadah ke hari lain atau melakukan jam ibadah harian di saat mereka belum merasa kelelahan.

5. Saling Mendorong untuk Berbuat Baik

Doronglah anak-anak untuk membagikan apa yang ingin mereka doakan dan syukuri. Melalui hal itu kita bukan saja dapat melihat perjalanan iman anak-anak kita dan apa yang sedang mereka alami dalam hidup, tetapi juga menyatakan kepada mereka bahwa mereka berharga dan kita (serta Allah) mempedulikan mereka.

Kita juga dapat menceritakan pergumulan dan kemenangan iman kita, tentu saja yang sesuai dengan usia mereka. Semua itu akan menolong keluarga kita bertumbuh bersama, dan yang lebih penting iman Kristen menjadi relevan dan autentik bagi anak-anak kita.

Ajaklah juga anak-anak memikirkan kebutuhan orang-orang di sekitar kita, di negara kita, dan di belahan dunia yang lain.

Renungkan bagaimana Allah secara aktif bekerja dalam setiap situasi dan keadaan, dan bagaimana kita bisa menjadi alat di tangan-Nya untuk membawa belas kasih kepada lingkungan kita atau kepada dunia yang lebih luas. Meskipun ada hal-hal yang di luar jangkauan kita, kita masih dapat berdoa dan memohon Allah Mahakuasa untuk menyatakan kuasa dan kemuliaan-Nya.

Dengan melihat ke luar, kita dapat mendorong anak-anak kita menjadi garam dan terang dunia sebagaimana seharusnya kita sebagai umat Tuhan (Matius 5:13-16).

Dalam keluarga kami, ibadah keluarga mingguan telah memberi anak-anak kami kesempatan untuk memimpin, sehingga mereka sudah terbiasa memulai serta memimpin doa dan ibadah di sekolah mereka, pelatihan tentara, dan gereja.

Jadi, meskipun Anda menerima respons yang kurang bersemangat dari anak-anak ketika memulai ibadah keluarga, bertahanlah dan teruslah mencoba sampai seluruh keluarga terbiasa dan menikmati menyembah Allah bersama-sama di rumah.

Tip untuk Menarik Minat Anak dalam Ibadah Keluarga:

1. Libatkan setiap anggota keluarga dengan meminta mereka melakukan bagian tertentu dalam ibadah.
2. Berpikirlah kreatif dan cobalah berbagai bentuk ibadah yang tidak mungkin dilakukan di gereja tetapi sangat mungkin dilakukan di rumah.
3. Gunakan teknologi untuk membantu belajar lagu-lagu baru dan semakin mendalami firman Tuhan.
4. Buatlah penyesuaian yang diperlukan supaya anak-anak tetap tertarik dan ibadah keluarga terasa menyenangkan serta berarti bagi setiap orang.
5. Pikirkan bagaimana kita dapat lebih mengasihi sesama dan melakukan hal-hal yang baik dengan saling mendoakan dan berdoa bagi orang lain (Ibrani 10:24).