Dhimas Anugrah

Unjuk rasa yang diwarnai aksi perusakan dan pembakaran halte bus di Jakarta pada 8 Oktober 2020 mengundang keprihatinan warga Ibu Kota. Tak sedikit orang yang cemas akan terjadi kerusuhan massal karena aksi tak terpuji itu. Meski tidak ada satu pun alasan yang bisa membenarkan tindak kriminal dan perusakan, namun dalam situasi seperti ini tampaknya ada upaya pihak tertentu yang mengutip narasi Alkitab demi membenarkan tindak kriminal dan perusakan dalam aksi demonstrasi itu.

Dengan mengutip Matius 21:12-17, Markus 11:15-19; Lukas 19:45-48 dan Yohanes 2:13-16, mereka mengatakan Yesus Kristus juga menghancurkan properti di dalam Bait Allah, sehingga aksi perusakan yang berpotensi memicu kerusuhan secara luas itu dapat dibenarkan. Klaim ini keliru dan perlu ditanggapi dengan bijak. Mengapa?

Pertama, nats dalam Matius 21:12-17, Markus 11:15-19; Lukas 19:45-48 dan Yohanes 2:13-16 bukan soal dukung-mendukung tindak kriminal dan perusakan dalam unjuk rasa. Nats-nats tersebut berbicara mengenai kekudusan Bait Allah yang bagi Yesus adalah Rumah Bapa-Nya. Menurut Yesus, praktik jual-beli mata uang dan burung merpati merupakan perilaku yang mencemari kekudusan Bait Suci.

Praktik perdagangan di dalam Bait Suci pada dasarnya adalah sebuah kekeliruan (Yohanes 2:16). Para pedagang itu menggunakan tempat ibadah untuk berjualan binatang. Dengan memanfaatkan peraturan bahwa semua binatang yang dikorbankan bagi Tuhan haruslah meme­nuhi syarat-syarat tertentu, seperti tidak bercacat, dan lainnya (Imamat 22:24; Ulangan 17:1), para imam yang mempunyai tugas memeriksa binatang-binatang tersebut memaksa orang-orang membeli binatang di Bait Allah dengan mendiskualifikasi bina­tang-binatang yang tidak dibeli di Bait Allah, demi bisa mendapatkan untung.

Menurut Yosephus dan Komunitas Qumran, keuntungan yang diambil dari penjualan binatang-binatang itu tidak tanggung-tanggung. Mereka menjual binatang-binatang itu dengan harga yang mahal, yaitu berkali lipat dari harga normal. Mereka bukan melakukan hal ini hanya pada sapi dan domba yang merupakan persembahan dari orang yang kaya, tetapi bahkan juga pada penjualan burung merpati, yang merupa­kan persembahan dari orang miskin. Tepatlah kalau Yesus menyebut mereka sebagai penyamun (Matius 12:13).

Kecurangan para pedagang ini mencemarkan kekudusan Bait Allah. Jika Bait Suci yang merupakan pusat kehidupan Yahudi saja cemar, bagaimana kehidupan masyarakat Yahudi secara keseluruhan? Namun demikian, Yesus tidak secara brutal menghancurkan bahkan membakar properti para pedagang itu. Menurut John Calvin, Yesus hanya melakukan pengusiran terhadap para pedagang itu dan menjungkir-balikkan meja-bangku mereka. Bahkan menurut Yohanes 2:16, Dia menyuruh para pedagang merpati supaya mengambil burung-burung yang mereka jual. Ini menunjukkan bahwa dalam kemarahan-Nya, Yesus tidak mau merugikan orang lain.

Secara teologis, apa yang Yesus lakukan merupakan penggenapan nubuat tentang Mesias dalam Maleakhi 3:1-3. Tindakan Yesus ini merupakan klaim bahwa Dia adalah Mesias, Raja, dan Tuhan atas Bait Allah (Matius 12:6) yang memberikan-Nya hak melakukan semua itu. Aksi Yesus didorong oleh kemarahan-Nya atas praktik perdagangan di dalam Bait Suci, namun Dia marah tanpa berbuat dosa (Markus 3:5). Kemarahan Yesus bukan dosa, tetapi suatu kemarahan yang suci. Kitab Suci mencatat, marah memang tidak selalu bisa identik dengan dosa (Efesus 4:26). Bukankah gereja juga membutuhkan orang-orang Kristen yang bisa marah dengan jenis kemarahan seperti ini? Jika semua orang Kristen tidak marah terhadap dosa dan ketidakadilan sosial, maka gereja akan kehilangan pengaruhnya di tengah dunia.

Kedua, karya pelayanan Yesus dalam mewartakan Kerajaan Surga di tanah Palestina tidak bertumpu pada perjuangan atau revolusi fisik kepada otoritas Romawi maupun pemuka agama Yahudi. Yesus tidak pernah melakukan dan mengajarkan kekerasan kepada siapa pun. Bahkan, daun telinga Malkhus hamba Imam Besar, yang kena tebas pedang Petrus saja Dia sembuhkan (Lukas 22:51; Yohanes 18:10-11). Ini jelas menunjukkan Yesus menolak perlawanan dengan kekerasan. Lagi pula, jika Yesus seorang yang berjuang dengan kekerasan fisik, tentu Dia tidak akan mau disalibkan.

Perlawanan Yesus terhadap penindasan dilakukan dengan menjadi sahabat bagi banyak orang.

Perlawanan Yesus terhadap penindasan dilakukan dengan menjadi sahabat bagi banyak orang, mengusir roh-roh jahat, menyembuhkan orang-orang sakit, memberi makan ribuan orang, mewartakan kebenaran, dan menegur kepada para pemimpin agama yang jahat. Yesus siap berdebat dengan lawan-lawan-Nya, tetapi Dia tidak pernah mendukung aksi kekerasan maupun penghancuran properti. Dari penjelasan singkat ini, maka bisa kita mengerti, jika saja ada yang beranggapan bahwa Yesus mendukung aksi kekerasan atau perusakan properti dalam unjuk rasa di negeri ini tentu tidak dapat dibenarkan. Tidak ada satu pun alasan yang bisa melegitimasi tindak kriminal dan perusakan.

Hendaknya kita berhati-hati dalam mengambil dasar Alkitab sebagai pembenaran dari apa yang kita lakukan, sebab Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri (2 Petrus 1:20). Ada prinsip penafsiran Kitab Suci yang wajib kita ikuti. Di sisi lain, sebagai umat Kristiani yang hidup di Indonesia, kita juga wajib menghargai hak siapa pun dalam menyampaikan pendapat. Karena kita pun memiliki hak yang sama. Namun, hendaklah itu semua dilakukan sesuai aturan yang berlaku, tanpa aksi kekerasan, perusakan, dan tindak kriminal.


Baca Juga:

Orang Kristen dan Pemerintah

Ketika sekelompok pemimpin agama bertanya kepada Yesus apakah warga Yahudi harus membayar pajak kepada Kaisar, Dia memberikan tanggapan yang mengejutkan. Dia meminta mereka yang berada di sana untuk melihat kedua sisi dari sekeping mata uang logam Romawi dan berkata, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Apakah arti pernyataan itu bagi kita 2.000 tahun kemudian? Entah kita hidup dalam tatanan sosial dari negara demokrasi, republik, monarki, kediktatoran militer, atau komunis, bagaimana kita menyeimbangkan kewajiban kita sebagai warga negara dengan tanggung jawab kita kepada Kristus?


Jika Anda diberkati melalui materi-materi ini dan ingin melihat lebih banyak orang diberkati, Anda dapat juga mendukung pelayanan kami.