Siapakah Sesamaku?
Seorang perempuan lanjut usia terbaring tak sadarkan diri di atas trotoar yang panas setelah terpeleset. Beberapa orang berhenti untuk menolongnya. Seseorang menelepon ambulans. Seorang lagi dengan lembut meletakkan mantel di bawah kepalanya. Yang lain meletakkan handuk di bawah lengannya, dan ada pula yang memayunginya hingga paramedis tiba. Orang yang mengunggah video peristiwa tersebut menulis bagaimana semua itu sangat mengharukan hatinya, karena orang-orang yang berhenti untuk menolong perempuan itu berasal dari berbagai usia dan etnis—semuanya bekerja sama untuk menolong seseorang yang kesusahan.
Sukacita dalam Yesus
Pernahkah Anda merindukan sesuatu yang samar, tetapi tidak pernah benar-benar Anda raih? C. S. Lewis merindukan sukacita. Ia menulis, “Kerinduan kita untuk dipersatukan kembali dengan sesuatu di alam semesta yang kini terasa terpisah dari kita, untuk memasuki sesuatu yang selama ini kita lihat dari luar, adalah . . . petunjuk sejati dari keadaan kita yang sebenarnya. Kemudian, ketika akhirnya kita masuk, itu akan membawa . . . penyembuhan dari luka lama yang kita derita. . . . Kita akan sepenuhnya menikmati sukacita dari sumbernya.”
Mengapa Disebut Jumat Agung?
Apa yang agung dari Jumat Agung? Mengapa hari itu tidak disebut Jumat Buruk atau Jumat Sedih? Bukankah seharusnya hari itu menjadi waktu perenungan penuh kepedihan, bukan perayaan? Ada pula yang menyebut Jumat Agung dengan nama-nama lain, seperti Jumat Suci. Di Jerman, misalnya, namanya adalah Karfreitag atau Jumat Duka. Dalam bahasa Inggris, Jumat Agung disebut “Good Friday,” konon berasal dari tradisi kuno yang menyebutnya sebagai “God’s Friday” (Jumatnya Allah).
Diciptakan untuk Berkomunitas
Ketika saya dan suami, Alan, memutuskan pindah ke Philadelphia demi pendidikannya, saya belum memiliki pekerjaan dan kami belum tahu bagaimana membayar biaya untuk tempat tinggal kami. Pada suatu hari Minggu, sebelum kami berangkat, seorang kenalan di gereja mempertemukan kami dengan seorang lulusan universitas tujuan Alan yang mempunyai informasi tentang apartemen yang terjangkau. Tak lama kemudian, seorang rekan kerja memberi saya informasi tentang lowongan kerja di sebuah lembaga pelayanan. Allah menjawab doa kami dan membuka pintu kesempatan—termasuk menyediakan apartemen dan pekerjaan—melalui umat-Nya. Para sahabat dan anggota keluarga ikut membantu kami pindah serta melepas kami dengan doa.
Berjaga-jagalah!
Setelah bertahun-tahun bergumul dan berseru dalam doa, Frank akhirnya berhasil berhenti dari kebiasaan minum minuman keras. Ia mengakui bahwa ketahanannya untuk tidak minum-minum lagi adalah karya Allah dalam hidupnya. Namun, ia juga mengambil langkah nyata: tidak lagi menyimpan minuman keras di rumah, selalu waspada terhadap perubahan suasana hati dan pikirannya, serta menghindari situasi-situasi yang bisa menjerumuskannya kembali. Frank belajar untuk mengandalkan Allah dan tidak memberi celah bagi pencobaan.
Penghiburan dari Allah
Saya tidak sabar. Saya dan suami baru saja kembali dari pasar swalayan, dan saat kami membongkar belanjaan, saya panik mencari kantong berisi donat—tetapi tidak menemukannya. Setelah memeriksa struk belanja, saya melihat ternyata donat itu tidak terbeli. Dengan kesal saya berteriak, “Yang aku mau beli tadi cuma donat!” Lima belas menit kemudian, suami saya datang dan menyodorkan sekantong donat. Tanpa sepengetahuan saya, ia menembus jalanan penuh salju dan kembali ke toko demi memenuhi keinginan saya. Saya pun memeluknya erat, lalu dengan malu-malu berkata, “Syukurlah kamu tidak kenapa-kenapa demi memuaskan keinginanku!”
Menunjuk kepada Yesus
Seorang pria tua sedang berlari santai di jalanan kota New York ketika ia melihat sepasang sepatu kets usang di sebelah papan milik seorang gelandangan muda yang meminta bantuan. Saat mengetahui bahwa mereka berdua mengenakan ukuran sepatu yang sama, pria tua tadi melepas sepatunya—beserta kaus kakinya!—dan memberikannya kepada pemuda tersebut. Sebelum berjalan pulang tanpa alas kaki, ia berkata kepada gelandangan itu, “Hidupku sangat diberkati oleh Allah. Dia begitu baik kepadaku, jadi sekarang aku ingin memberkatimu juga.”
Hitunglah Berkatmu
Semasa kecil, saya menyukai lagu himne lawas “Count Your Blessings” (Hitung Berkatmu, kppk 50) Lagu tersebut menguatkan mereka yang sedang diterjang “gelombang kehidupan” dan merasa “takut dan putus asa” untuk “hitung berkat satu per satu.” Bertahun-tahun kemudian, ketika suami saya, Alan, sedang patah semangat, ia sering meminta saya untuk menyanyikan lagu tersebut kepadanya. Saya kemudian mengajaknya untuk menghitung berkat-berkat yang sudah diterimanya. Dengan melakukannya, pikiran Alan dapat teralihkan dari pergumulan dan keragu-raguan, serta dipusatkan kembali kepada Allah dan hal-hal yang dapat disyukuri.
Peringatan dan Pengingat
Tidak lama setelah kematian ayahnya yang mendadak, Aaron menghadiahi ibunya sebuah foto berukuran poster dalam bingkai, yang menampilkan puluhan benda yang merangkum kehidupan sang ayah—koleksi, foto-foto, bebatuan, buku-buku, karya seni, dan lainnya—masing-masing memiliki makna khusus di baliknya. Aaron menghabiskan waktu berhari-hari mengumpulkan dan menyusun barang-barang tersebut, lalu Rachel, saudara perempuannya, mengabadikan susunan itu dalam sebuah foto. Hadiah itu menjadi peringatan visual terhadap sang ayah, yang meski bergumul dengan masalah rendah diri dan kecanduan, tetapi tidak pernah lalai mengungkapkan kasihnya pada mereka. Foto itu juga menjadi kesaksian tentang keajaiban kasih dan kuasa penyembuhan Allah, yang memampukan sang ayah mengalahkan kecanduannya di penghujung masa hidupnya.