Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Amy Boucher Pye

Ketakutan Berganti Kesukaan

Banyak ahli sejarah meyakini bahwa siaran musik dan pidato melalui radio pertama kalinya didengar oleh para operator radio Angkatan Laut AS dan kapal-kapal lainnya di Samudra Atlantik pada malam Natal tahun 1906. Mereka tidak mendengar bunyi bip atau denyut kode Morse seperti biasanya, melainkan suara Reginald Fessenden yang memainkan biola solo lagu Natal “O, Holy Night” (O Malam Kudus). Fessenden menutup siaran bersejarah itu dengan menggemakan pujian para malaikat: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi!” (Luk. 2:14). Para pendengar pertama itu pasti tertegun mendengar alunan musik yang menyentuh jiwa dan kata-kata pujian yang mengagungkan kelahiran Yesus Kristus.

Menyanyikan Kitab Suci

Setiap hari, Julie senang menyanyikan ayat-ayat Kitab Suci sebagai bagian dari saat teduhnya. “Saat aku bernyanyi, hati dan pikiranku benar-benar mulai melakukan dan mempercayai apa yang kunyanyikan!” Dengan memperkatakan firman Tuhan lewat lagu, Julie rindu agar kebenaran-Nya dapat membukakan hal-hal yang tidak ia sukai dari dirinya sendiri, seperti suaranya dan tinggi badannya.

Apa yang Akan Allah Lakukan

Dalam serangan udara Nazi Jerman terhadap kota London pada 29 Desember 1940, sebuah bom menghancurkan gudang dekat Katedral Santo Paulus yang menyimpan 40.000 eksemplar buku karya Oswald Chambers. Mendengar kabar bahwa buku-buku yang telah ia susun dan sunting itu musnah tanpa asuransi, Biddy Chambers dengan tenang berkata kepada putrinya, “Allah telah menggunakan buku-buku itu bagi kemuliaan-Nya, tetapi sekarang itu sudah berakhir. Mari kita menanti dan melihat apa yang akan Allah lakukan sekarang.”

Allah Takkan Meninggalkan Kita

Di tanah Israel, kita senang menapaki jalan-jalan yang pernah Yesus lewati. Sekarang saya lebih mudah membayangkan seperti apa suasana pada saat Yesus hidup di dunia. Namun, setelah menaiki dan menuruni berbagai gereja dan lahan pedesaan yang cukup berat, saya pun kembali ke rumah dengan nyeri pada lutut. Walau demikian, rasa sakit yang saya alami tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan mereka yang melakukan perjalanan berabad-abad lalu. Mereka tidak hanya mengalami nyeri sendi, tetapi juga sangat menderita—bahkan kehilangan nyawa. Namun, Allah menyertai mereka.

Meratap kepada Allah

Awalnya saya melihat-lihat pameran pembuka dari Monumen Peringatan & Museum 9/11 (11 September) di kota New York dengan penuh rasa ingin tahu dan emosi yang stabil. Namun, perasaan itu berubah ketika saya memasuki area pameran bagian dalam, yang tertutup bagi anak-anak dan mereka yang tidak ingin melihat tampilan yang sangat memilukan. Ketika saya menyaksikan cerita demi cerita tentang kepedihan dan kehilangan, saya bisa merasakan hati saya ikut meratap.

Belas Kasihan bagi yang Tertindas

Josephine Butler, istri seorang pendeta terkemuka di Inggris, merasa terpanggil untuk memperjuangkan hak-hak perempuan yang dituduh sebagai “wanita malam” (tuduhan yang sering tidak beralasan), yang membuat mereka dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Dengan didorong oleh imannya yang kuat di dalam Allah, ia bertahun-tahun berjuang menggugat Undang-Undang Penyakit Menular dari tahun 1860-an, yang memaksa perempuan menjalani pemeriksaan “medis” yang kejam dan merendahkan.

Bertekun dalam Doa

Ketika putri Royston, Hannah, menderita pendarahan otak yang menyebabkan koma, ia dan keluarganya berulang kali berdoa kepada Allah. Dalam penantian berbulan-bulan itu, mereka bergantung kepada satu sama lain—dan juga kepada Allah. Iman keluarga itu dibangunkan, seperti yang direnungkan oleh Royston: “Belum pernah Allah terasa sedekat ini.” Sepanjang pergumulan itu, mereka menerima “pembaruan iman untuk terus bertekun dalam doa” seperti “janda dalam Lukas 18.”

Pembedahan Hati

Beberapa tahun lalu, setelah bertengkar sengit, saya dan sahabat saya, Carolyn, menyelesaikan konflik kami dalam kasih. Saya mengakui kesalahan saya, dan Carolyn berdoa untuk saya. Ia menyebutkan Yehezkiel 36:26 sebagai referensi, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.” Saya merasa bahwa Allah sedang membedah hati saya secara spiritual, dengan mengangkat rasa takut dan kepahitan saya sembari melingkupi diri saya dalam kasih-Nya.

Berakar Kuat di dalam Kristus

Pendeta Andrew Murray (1828–1917) pernah menerangkan bagaimana beragam penyakit mempengaruhi pertumbuhan pohon-pohon jeruk di negara asalnya, Afrika Selatan. Bagi mata awam mungkin semuanya nampak baik-baik saja, tetapi seorang pakar pemeliharaan tanaman dapat menemukan titik kebusukan yang bisa berujung pada kematian pohon secara perlahan. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan pohon yang sakit itu adalah dengan melepaskan batang dan cabang itu dari akarnya, lalu mencangkokkannya ke akar tanaman yang baru. Dengan cara itu akhirnya pohon tersebut dapat tumbuh subur dan menghasilkan buah.