Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Amy Boucher Pye

Gembala yang Baik

Saya menunggu dengan cemas di kamar rumah sakit bersama suami. Putra kami yang masih kecil sedang menjalani operasi mata dan saya merasakan kegelisahan yang luar biasa. Saya mencoba berdoa dan meminta Allah untuk memberi saya kedamaian dalam hati. Saat membuka-buka Alkitab, saya berpikir tentang Yesaya 40. Saya pun membuka pasal yang sangat saya kenal itu, sambil bertanya dalam hati adakah hal baru yang bisa saya pelajari dari bagian itu.

Memelihara Kita

Putrinya pulang dari luar negeri dengan kondisi kesehatan yang kurang baik. Ketika rasa sakitnya tak lagi tertahankan, Betty dan suaminya membawa putri mereka ke UGD. Para dokter dan perawat memeriksanya, dan setelah beberapa jam salah seorang perawat berkata kepada Betty, “Putri Anda akan baik-baik saja! Kami akan merawatnya dengan baik agar ia segera pulih.” Mendengar kabar itu, Betty merasa begitu damai dan dikasihi. Ia menyadari bahwa meskipun ia dapat menjaga putrinya begitu rupa, Tuhanlah Bapa yang terbaik, yang memelihara kita anak-anak-Nya dan menghibur kita di masa-masa sulit.

Hidup dalam Kemah

Karena bertumbuh besar di Minnesota yang dikenal dengan danau-danaunya yang indah, saya senang pergi berkemah untuk menikmati keindahan alam ciptaan Allah. Namun, jujur saja, tidur di kemah yang tipis dan rapuh bukanlah bagian favorit dari pengalaman itu—apalagi saat hujan di malam hari dan kemah yang bocor membuat kantong tidur pun menjadi basah.

Menulis Surat

Ibu saya dan saudari-saudarinya masih suka menulis surat—suatu seni yang semakin ditinggalkan orang. Setiap minggu mereka saling bertukar cerita tentang kehidupan mereka melalui surat; begitu konsistennya hingga ada seorang tukang pos yang merasa khawatir apabila ia tidak membawa surat untuk dikirimkan! Surat mereka berisi kisah tentang seluk-beluk dan suka-duka kehidupan, serta peristiwa sehari-hari yang dialami teman-teman dan keluarga.

Menjadi Bersih

Ketika membuka mesin pencuci piring kami, saya bingung dengan apa yang terjadi. Alih-alih melihat peralatan makan yang bersih berkilauan, saya malah mendapati piring dan gelas yang dipenuhi debu kapur. Saya bertanya-tanya, apakah air sumur di daerah kami yang kotor atau mesinnya yang rusak.

Siap Dituai

Di penghujung musim panas, kami berjalan-jalan di New Forest, Inggris. Dengan gembira, kami memetik buah beri hitam yang tumbuh di alam liar sambil melihat beberapa kuda bermain di sekitar kami. Sambil menikmati dompolan buah manis yang ditanam orang lain beberapa tahun sebelumnya, saya teringat ucapan Yesus kepada murid-murid Nya: “Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan” (Yoh. 4:38).

Ketakutan atau Beriman

“Suami saya mendapat promosi untuk bekerja di negara lain, tetapi saya takut untuk meninggalkan rumah kami. Jadi dengan berat hati, ia menolak tawaran itu,” cerita seorang teman kepada saya. Ia menjelaskan bagaimana ketakutan karena perubahan besar semacam itu membuatnya kehilangan kesempatan untuk mengalami petualangan baru. Terkadang ia juga masih memikirkan peluang yang lepas dari tangan mereka karena memutuskan untuk tidak pindah.

Segala Sesuatu Ada Masanya

Saat dalam penerbangan baru-baru ini, saya melihat seorang ibu dan anak-anaknya yang duduk beberapa baris di depan saya. Sementara anaknya yang balita asyik bermain sendiri, sang ibu menatap mata bayinya yang baru lahir, tersenyum padanya, dan membelai pipinya. Sang bayi menatap balik ibunya dengan mata terbelalak penuh keheranan. Saya menikmati momen tersebut dengan sedikit sedih, karena teringat pada anak-anak saya sendiri pada usia tersebut dan masa-masa yang telah lalu.

Bertatap Muka

Meski saat ini dunia kita sudah terhubung secara elektronik dengan begitu luasnya, tetap saja tidak ada yang dapat mengalahkan kebersamaan yang dilakukan dengan tatap muka. Saat kita bertukar cerita dan tertawa bersama, tanpa disadari, kita bisa merasakan perasaan lawan bicara kita hanya dengan melihat mimik mereka. Para kerabat atau sahabat yang saling mengasihi tentu merasa senang sekali apabila mereka dapat bertemu dan bertatap muka.

Topik Terkait

> Santapan Rohani

Antar-Saudara

Usia saya dan adik laki-laki saya hanya terpaut kurang dari satu tahun dan kami bertumbuh dalam suasana “persaingan” (artinya: kami sering berkelahi!). Ayah kami dapat memahami hal tersebut karena ia juga memiliki saudara laki-laki, tetapi Ibu tidak.

Kasih kepada yang Berbeda

Salah satu gereja yang saya cintai dimulai beberapa tahun lalu dengan tujuan melayani para mantan narapidana yang sedang belajar untuk kembali berkarya di tengah masyarakat. Hingga kini gereja tersebut berkembang dengan jemaat yang datang dari beragam latar belakang kehidupan. Saya mencintai gereja itu karena melaluinya saya diingatkan tentang bayangan saya akan suasana surga yang penuh dengan beragam orang, yakni para pendosa yang telah diselamatkan dan dipersatukan oleh kasih Yesus Kristus.

Tempat Aman

Saya dan putri saya berencana menghadiri pertemuan keluarga besar kami. Karena ia merasa gugup menghadapi perjalanan itu, saya pun menawarkan diri untuk menyetir mobil. “Terima kasih, Ma. Tetapi aku merasa lebih aman duduk dalam mobilku sendiri. Mama bisa menyetir mobilku, kan?” ia bertanya. Awalnya saya mengira ia memilih itu karena mobilnya lebih luas daripada mobil saya yang mungil. Saya bertanya kepadanya, “Apa mobil Mama terlalu sempit?” Ia menjawab, “Bukan karena itu, tetapi aku merasa aman di dalam mobilku. Entah mengapa aku merasa terlindungi di dalamnya.”