Jalan Kudus
Setelah Jennifer didiagnosis menderita demensia tahap awal, ia mulai kesulitan membaca Alkitab, sehingga ia memilih untuk mendengarkan versi audionya. Bagian-bagian Kitab Suci kini terasa lebih bermakna baginya. Dalam kesehariannya, ia mudah sekali tersesat, sering kali gagal mengenali orang di sekitarnya, dan berhalusinasi tentang penampakan hewan liar. Ketika ia merasa bingung dan diliputi ketakutan, ia menemukan penghiburan dari Allah saat mendengar Nabi Yesaya berbicara tentang “Jalan Kudus” yang ditentukan bagi orang percaya (Yes. 35:8). Di jalan itu, tidak ada orang fasik, tidak pula “binatang buas”; sebaliknya, hanya “orang-orang yang diselamatkan” Allah yang “akan berjalan di situ” (ay.9).
Pemberian yang Murah Hati
Ketika Oswald dan Biddy Chambers mengelola Sekolah Alkitab di London sepanjang tahun 1911-1915, mereka selalu menerapkan prinsip untuk tidak menolak orang yang berkekurangan. Warga kota tercengang melihat kebiasaan mereka, dan membayangkan bahwa sekolah tersebut akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Tanpa bermaksud mengajak orang lain untuk mengikuti tindakannya, Oswald memberi tanggapan, “Tanggung jawabku adalah memberi. Siapa yang meminta adalah urusan Allah.”
Yesus Dinyatakan di dalam Kita
Setelah kepergian sang ibu, Joni Eareckson Tada merenungkan bagaimana tubuh manusia bagaikan “bejana tanah liat” yang menyimpan harta kehadiran Kristus. Dari dunia saat ini, ia menggambarkan tubuh duniawi kita bagaikan kotak kardus. Ia tahu bahwa “kotak kardus” ibunya, dengan sisi dan sudutnya yang usang, kini telah kosong. Namun, kata Joni, kotak itu begitu berharga, “karena pernah menjadi wadah bagi Roh Kristus untuk berdiam.”
Air Mata dan Harapan
Bagi Mary Edwar, hari Minggu Palem—perayaan masuknya Yesus ke Yerusalem dengan penuh kemenangan—telah meninggalkan luka mendalam. Seusai ibadah, Mary dan suaminya, Kareem, berjalan bergandengan tangan keluar dari gereja. Tiba-tiba sebuah bom meledak, merenggut nyawa Kareem, melukai Mary, dan membuatnya kehilangan calon bayinya.
Berlimpah dengan Kasih
Semasa remaja, saat mengikuti sebuah perkemahan musim panas, saya pernah merasa tidak nyaman dan terasing di tengah sekelompok peserta lainnya. Ketika salah seorang dari mereka mengolok-olok penampilan saya, hati saya terasa perih. Saya langsung berlari pulang ke tenda dan berpura-pura tidur ketika pemimpin grup datang memeriksa. Keesokan harinya, saya memilih untuk menghindar saat ia mencoba membicarakan kejadian itu.
Dari Setiap Bangsa
London adalah kota kosmopolitan, tempat tinggal bagi orang-orang dari berbagai bangsa. Kedatangan mereka dari seluruh penjuru dunia memang membawa kekayaan budaya, seperti beragamnya kuliner yang tersedia. Namun, keberagaman ini juga menghadirkan tantangan. Saya merasa sedih ketika mendengar teman-teman dari sebuah negara Eropa yang baru bergabung dengan Uni Eropa merasa diremehkan. Mereka merasa diabaikan, disalahkan atas berbagai masalah, dan dibenci karena pekerjaan yang mereka lakukan.
Ketakutan Berganti Kesukaan
Banyak ahli sejarah meyakini bahwa siaran musik dan pidato melalui radio pertama kalinya didengar oleh para operator radio Angkatan Laut AS dan kapal-kapal lainnya di Samudra Atlantik pada malam Natal tahun 1906. Mereka tidak mendengar bunyi bip atau denyut kode Morse seperti biasanya, melainkan suara Reginald Fessenden yang memainkan biola solo lagu Natal “O, Holy Night” (O Malam Kudus). Fessenden menutup siaran bersejarah itu dengan menggemakan pujian para malaikat: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi!” (Luk. 2:14). Para pendengar pertama itu pasti tertegun mendengar alunan musik yang menyentuh jiwa dan kata-kata pujian yang mengagungkan kelahiran Yesus Kristus.
Menyanyikan Kitab Suci
Setiap hari, Julie senang menyanyikan ayat-ayat Kitab Suci sebagai bagian dari saat teduhnya. “Saat aku bernyanyi, hati dan pikiranku benar-benar mulai melakukan dan mempercayai apa yang kunyanyikan!” Dengan memperkatakan firman Tuhan lewat lagu, Julie rindu agar kebenaran-Nya dapat membukakan hal-hal yang tidak ia sukai dari dirinya sendiri, seperti suaranya dan tinggi badannya.
Apa yang Akan Allah Lakukan
Dalam serangan udara Nazi Jerman terhadap kota London pada 29 Desember 1940, sebuah bom menghancurkan gudang dekat Katedral Santo Paulus yang menyimpan 40.000 eksemplar buku karya Oswald Chambers. Mendengar kabar bahwa buku-buku yang telah ia susun dan sunting itu musnah tanpa asuransi, Biddy Chambers dengan tenang berkata kepada putrinya, “Allah telah menggunakan buku-buku itu bagi kemuliaan-Nya, tetapi sekarang itu sudah berakhir. Mari kita menanti dan melihat apa yang akan Allah lakukan sekarang.”