Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Amy Boucher Pye

Damai Sejahtera yang Sempurna

Seorang sahabat menceritakan kepada saya bahwa selama bertahun-tahun ia mencari kedamaian dan kepuasan hati. Ia dan suaminya membangun usaha yang sukses sehingga mampu membeli rumah besar, pakaian mewah, dan perhiasan mahal. Namun, semua harta dan pertemanannya dengan orang-orang yang berpengaruh tidak juga memuaskan kerinduan hatinya akan kedamaian. Lalu suatu hari, ketika ia merasa terpuruk dan putus asa, seorang teman membawakannya kabar baik tentang Yesus Kristus. Pada saat itulah ia bertemu dengan Sang Raja Damai, dan pemahamannya tentang arti kedamaian dan kepuasan yang sejati pun berubah selamanya.

Diberi Allah Pakaian yang Baru

Ketika anak-anak saya masih batita, mereka biasa bermain di luar rumah, di atas rumput yang basah. Tidak lama kemudian tubuh mereka sudah penuh dengan lumpur. Demi kebaikan mereka dan kebersihan lantai rumah, saya menanggalkan baju mereka di depan pintu dan menyelimuti mereka dengan handuk sebelum memandikan mereka. Mereka pun segera berubah dari kotor menjadi bersih dengan bantuan sabun, air, dan pelukan.

Sang Penolong

Saat memasuki pesawat yang akan membawa saya ke suatu kota berjarak seribu mil dari rumah untuk meneruskan studi, saya merasa begitu gugup dan sendirian. Namun selama penerbangan, saya ingat bahwa kepada murid-murid-Nya, Yesus menjanjikan Roh Kudus yang akan hadir untuk menolong dan menghibur mereka.

Tinggal Bersama Yesus

“Tiada tempat seindah rumah.” Frasa itu mencerminkan kerinduan mendalam di hati kita untuk memiliki tempat di mana kita dapat beristirahat, berdiam, dan diterima sepenuhnya. Setelah Yesus dan murid-murid-Nya menikmati perjamuan mereka yang terakhir, Dia membahas tentang kerinduan untuk memiliki kediaman itu saat berbicara mengenai kematian dan kebangkitan-Nya yang segera tiba. Yesus berjanji bahwa meskipun Dia akan pergi, Dia akan datang kembali untuk menjemput mereka. Dia akan menyediakan tempat bagi mereka. Sebuah tempat untuk berdiam. Sebuah rumah.

Karena Kasih

Putri kami menangis dengan sedihnya saat kami harus mengucapkan selamat jalan pada kedua orangtua saya. Setelah mengunjungi kami di Inggris, mereka akan menempuh perjalanan yang panjang untuk pulang ke Amerika Serikat. “Aku tak mau mereka pergi,” kata putri saya. Saat saya berusaha menghiburnya, suami saya berkata, “Kesedihanmu wajar karena kamu mengasihi mereka.”

Mengapa Mengampuni?

Ketika seorang teman mengkhianati saya, saya tahu bahwa saya harus mengampuninya, tetapi saya tak yakin dapat melakukannya. Kata-katanya begitu dalam menusuk hati sehingga saya pun tersentak dalam kepedihan dan kemarahan. Meski kami telah membicarakan masalah itu dan saya berkata kepadanya bahwa saya telah mengampuninya, tetapi untuk beberapa waktu lamanya, saya masih merasakan sakit hati setiap kali melihatnya. Saya pun menyadari bahwa masih ada kebencian yang melekat pada diri saya. Namun suatu hari, Allah menjawab doa-doa saya dan memberi saya kesanggupan untuk mengampuni teman saya itu sepenuhnya. Saya akhirnya terlepas dari kebencian.

Hidup dan Mati

Saya tidak akan pernah melupakan pengalaman itu. Saya sedang duduk di samping tempat tidur Richard pada saat ia meninggal dunia. Sungguh suatu pengalaman yang supernatural. Saya, adik Richard, dan seorang kawan sedang bercakap-cakap dengan suara yang lembut ketika kami menyadari bahwa napas Richard menjadi semakin berat. Kami pun berkumpul mengelilinginya, sambil berjaga-jaga, menanti, dan berdoa. Ketika Richard menghembuskan napasnya yang terakhir, itu terasa seperti sebuah momen yang kudus; hadirat Allah melingkupi kami di tengah linangan air mata kami yang menangisi kepergian seorang pria berusia empat puluhan yang mengagumkan.

Hujan yang Menyegarkan

Untuk melepas lelah, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di taman dekat rumah. Selagi saya menyusuri jalan setapak, sesuatu yang berwarna hijau menarik perhatian saya. Dari dalam lumpur, tersembul tunas-tunas hijau yang dalam beberapa minggu ke depan akan tumbuh menjadi bunga bakung yang indah. Mekarnya bunga-bunga itu menjadi tanda bahwa musim dingin telah berhasil dilalui dan musim semi yang hangat sudah tiba!

Karunia Menjamu

Kami selalu terkenang akan suatu malam ketika kami menjamu keluarga-keluarga yang datang dari lima negara. Sepanjang makan malam itu kami semua terlibat dalam perbincangan hangat tentang pengalaman hidup di kota London sebagaimana dialami oleh mereka yang datang dari berbagai penjuru dunia. Di penghujung malam itu, saya dan suami menyadari bahwa kami telah menerima lebih banyak berkat daripada yang kami berikan, termasuk kehangatan yang kami alami melalui jalinan persahabatan dengan teman-teman baru dan kesempatan untuk belajar tentang beragam budaya yang ada di dunia.