Melayani Bahu-membahu
Toko buku Serendipity yang berada di kawasan popular di Chelsea, Michigan, perlu tempat yang lebih luas. Pemiliknya menemukan sebuah bangunan berukuran dua kali lebih besar kurang lebih 100 meter dari situ. Daripada menutup tokonya selama berhari-hari dan mengepak semua buku ke dalam kardus, ia ingin perpindahannya dilakukan dengan cepat. Jadi, ia memutuskan untuk meminta pertolongan warga sekitar. Hari itu, lebih dari 300 orang datang untuk membantu! Mereka berdiri berjajar, membentuk “ban berjalan” manusia, dan mengoper buku demi buku dari satu orang ke orang berikutnya, hingga berhasil memindahkan 9.100 eksemplar buku dalam waktu kurang dari dua jam. Sang pemilik toko berkata, “[Toko buku ini] sungguh bagian dari komunitas ini, dan [mereka] juga adalah pemiliknya.” Mereka semua bekerja berdampingan dengan antusias.
Hidup dan Mati
Setelah mengucapkan sumpah jabatan, seorang presiden baru Amerika Serikat akan menghadiri berbagai upacara penyambutan dan menandatangani sejumlah kebijakan. Namun, selain itu semua, ia harus menghadapi kenyataan pahit: Ia harus merancang upacara pemakamannya sendiri. Ini dilakukan untuk menyiapkan negara dalam memberikan penghormatan terakhir kepada para presiden ketika mereka meninggal dunia. Presiden George H. W. Bush pernah ditanya apakah “aneh” merencanakan pemakamannya sendiri. Ia menjawab, “Lama kelamaan akan terbiasa.” Sejarawan akan menulis tentang warisan dan jasa mereka, tetapi para presiden sendiri yang merencanakan seluk-beluk upacara pemakaman itu sesuai pilihan pribadi dan tradisi serta hal-hal yang ingin dikenang dari kehidupan mereka.
Melayani Allah karena Kasih
Ayah saya seorang pekerja keras di ladang dan di pabrik, tetapi ia tidak terampil memperbaiki barang. Ketika traktor, perapian, atau ledeng di rumah kami rusak, seorang tetangga atau teman yang akan memperbaikinya. Walau tahu ia tidak akan mampu membayar jasa mereka dengan setimpal, ayah saya tetap menawarkan bayaran. Namun, mereka pasti menolak untuk menerimanya; mereka menolong dengan sukarela. “Terima kasih,” katanya, “Semoga engkau akan dibayar dengan pantas.” Saya tidak yakin apa maksud ayah saya. Mungkin beliau atau orang lain akan melakukan sesuatu bagi mereka di kemudian hari.
Kasih dan Kebaikan Hati Allah
Di Grand Rapids, Michigan, sebuah taman kota terletak berdampingan dengan penjara di suatu jalan bernama Ball Street. Teman saya, Joann, senang berada di kedua tempat itu. Di taman, ia menikmati waktunya merenungkan kebaikan Allah dan betapa ia mengasihi-Nya karena karya Allah di dalam hidupnya. Sementara itu, di penjara, Joann senang melayani para narapidana wanita, dengan menceritakan kesaksian tentang bagaimana Allah telah menebus hidupnya setelah ia sempat terjerumus dalam jalan hidup yang jauh dari-Nya. Joann bercerita kepada saya tentang kerinduannya agar semua narapidana wanita di sana dapat mengenal dan mengalami kasih Allah secara pribadi.
Diperlukan Kerendahan Hati
Sepupu-sepupu saya tinggal hanya tiga kilometer dari rumah keluarga kami, tetapi mereka dilarang berinteraksi dengan kami. Mereka tidak pernah datang berkumpul bersama kami atau menyapa kami kalau bertemu di tempat perbelanjaan. Orangtua mereka berkata bahwa karena kami tidak beribadah di gereja pada waktu itu, kami dianggap memberi pengaruh buruk. Jadi, sungguh mengejutkan ketika bertahun-tahun kemudian salah seorang sepupu saya datang ke pemakaman kakak tertua saya, lalu menghampiri kami satu per satu dan dengan rendah hati meminta maaf atas sikap mereka. Hubungan kami pun mulai dipulihkan.
Interupsi Ilahi
Sara memulai harinya pada dini hari dengan membuat daftar kegiatan yang harus ia selesaikan hari itu. Namun, rencananya terusik oleh permintaan dari sebuah keluarga muda yang membutuhkan bantuan. Mereka sedang menantikan kupon pembelian bahan bakar dari gereja, dan di tengah kesibukannya, Sara merasa Allah menggerakkannya untuk mengantar sendiri kupon itu. Ia pun menyanggupi untuk menghampiri keluarga itu di hotel tempat gereja menempatkan mereka selama beberapa minggu. Namun, ketika menemukan bahwa alamatnya lebih jauh daripada perkiraannya, ia sempat berkata kepada Allah dengan kesal, Begitu banyak bensin yang harus kukeluarkan demi menyampaikan kupon ini kepada mereka!
Menjadi Gereja
Pada suatu sore yang terik, saya menggambar di jalanan dengan kapur bersama keluarga tetangga saya yang berasal dari Sudan. Dari rumah di sebelah rumah mereka, terdengar nyanyian dari kelompok kecil yang sedang beribadah. Ibu muda yang bersama saya merasa penasaran, jadi kami pun mendekat untuk mendengarkan. Melihat kami, para anggota kelompok itu mengundang kami untuk bergabung. Di sana, seorang pemuda berdiri dalam sebuah tangki air untuk menerima pembaptisan. Ia sedang bersaksi tentang pengampunan yang ia terima atas dosa-dosanya dan tekad hidupnya untuk mengikut Yesus.
Allah Mendengar Doa-Doa Kita
Teman saya, Christine, dan suaminya diundang untuk makan malam di rumah paman dan bibinya. Bibi Christine baru saja didiagnosis menderita kanker ganas. Sebelum mereka mulai makan, sang paman bertanya, “Apakah ada yang ingin menyampaikan sesuatu?” Christine tersenyum, karena ia tahu maksud pamannya adalah, “Apakah ada yang ingin berdoa?” Pamannya belum percaya kepada Yesus, tetapi beliau tahu Christine adalah seorang percaya. Jadi itu adalah cara pamannya meminta Christine untuk berdoa. Dengan tulus hati, Christine lalu berdoa mengucap syukur atas pemeliharaan Allah dan memohon supaya Dia mengadakan mukjizat bagi bibinya.
Jalan Allah adalah Kasih
Dengan kelebihan waktu yang saya punya, saya sudah berencana akan melayani orang-orang semampu saya selama beberapa bulan ke depan. Namun, ketika sedang membantu seorang teman, saya tersandung dan jatuh hingga lengan saya patah di tiga bagian. Kini sayalah yang membutuhkan pertolongan. Saudara-saudari seiman menunjukkan kepedulian mereka dengan menjenguk, memberikan hadiah, mengirim bunga, menelepon, mengirim pesan pendek, doa, menyediakan makanan (bahkan sekotak cokelat), dan membantu saya berbelanja. Saya sungguh terharu mengalami betapa baiknya anggota keluarga, teman-teman, dan rekan-rekan gereja saya! Saya merasa seolah-olah Allah berkata kepada saya, “Tenang saja. Kamu membutuhkan pertolongan, dan kamu akan melihat seperti apa kepedulian itu.” Berkat kepedulian itu, saya lebih memahami apa artinya melayani dengan sepenuh hati dan mengucap syukur kepada Allah atas kehadiran sesama.