Penulis

Lihat Semua
Anne Cetas

Anne Cetas

Anne Cetas mulai menulis untuk buku renungan ini sejak tahun 2004 dan menjabat sebagai editor pengelola publikasi. Ia dan suaminya, Carl, suka bersepeda bersama, dan melayani sebagai mentor dalam suatu pelayanan perkotaan.

Artikel oleh Anne Cetas

Merindukan Rumah

Anne, karakter utama dalam novel Anne of Green Gables, ingin sekali memiliki keluarga. Sebagai yatim piatu, ia tak lagi berharap akan menemukan tempat yang akan menjadi rumahnya. Namun, kemudian seorang lelaki tua bernama Matthew Cuthbert dan adiknya Marilla bersedia menerima Anne di rumah mereka. Dalam perjalanan ke rumah mereka, Anne meminta maaf karena terlalu banyak bicara. Akan tetapi, Matthew yang pendiam berkata, “Kamu boleh bicara sesukamu, aku tidak keberatan.” Anne senang sekali mendengarnya. Ia sempat merasa tidak seorang pun menginginkannya, apalagi mendengarkan ia bicara. Sesampainya di rumah, ia kecewa ketika anak-anak Matthew dan Marilla yang lain mengira mereka mendapatkan anak laki-laki untuk membantu di kebun. Anne takut sekali akan dipulangkan ke panti, tetapi kemudian kerinduan Anne untuk memiliki rumah yang penuh kehangatan terpenuhi ketika ia diterima sebagai bagian dari keluarga Cuthbert.

Iman yang Tak Tergoyahkan

Setelah ayahnya meninggal dunia, Kevin pergi ke panti jompo untuk mengambil barang-barang almarhum. Staf panti menyerahkan dua kotak kecil, dan hari itu Kevin sadar, tidak diperlukan banyak harta untuk merasa bahagia.

Hidup Berdasarkan Percaya

Gary mengalami masalah keseimbangan ketika berjalan, jadi dokter menyarankan fisioterapi untuk meningkatkan keseimbangannya. Dalam satu sesi, fisioterapis berkata, “Anda terlalu mempercayai apa yang dapat Anda lihat, meski itu salah! Anda kurang bergantung pada sistem indrawi Anda yang lain—apa yang Anda rasakan pada telapak kaki, juga sinyal yang diberikan dalam telinga Anda. Padahal, semua itu membantu Anda tetap seimbang.” 

Mengasihi Allah

Seorang dosen selalu mengakhiri kelas virtualnya dengan berkata, “Sampai jumpa” atau “Selamat menikmati akhir pekan.” Beberapa mahasiswa membalasnya dengan, “Terima kasih. Anda juga!” Namun, suatu hari seorang mahasiswa menyahuti, “Aku mengasihimu.” Meski terkejut, sang dosen membalas, “Aku mengasihimu juga!” Sore itu, semua mahasiswa di kelasnya sepakat menciptakan “rantai kasih sayang” pada pertemuan berikutnya. Mereka ingin mengapresiasi sang dosen yang sebenarnya lebih suka bertatap muka tetapi masih bersedia mengajar secara virtual. Beberapa hari kemudian, selesai mengajar, ketika dosen itu berkata, “Sampai jumpa,” satu per satu mahasiswanya menjawab, “Aku mengasihimu.” Berbulan-bulan mereka melakukan kebiasaan tersebut. Sang dosen berkata bahwa kebiasaan itu menciptakan ikatan yang kuat antara dirinya dan para murid, sehingga sekarang ia merasa mereka adalah “satu keluarga”.

Jangan Takut

Linus, karakter dalam komik Peanuts, dikenal dengan selimut biru yang ia percaya akan melindunginya. Ia membawa selimut itu ke mana-mana dan tidak malu dengan kelakuannya. Kakaknya, Lucy, sangat kesal dengan selimut itu dan sering kali mencoba membuangnya. Ia menguburnya, menjadikannya layang-layang, dan memakainya untuk pameran sains. Linus sendiri tahu ia seharusnya tidak boleh terikat dengan selimutnya, dan sesekali meninggalkan selimut itu, tetapi selalu saja gagal.

Allah Memulihkan Kerusakan Kita

Collin dan istrinya, Jordan, berkeliling di sebuah toko kerajinan guna mencari benda seni untuk dipajang di rumah mereka. Collin merasa sudah menemukan barang yang tepat dan memanggil sang istri untuk melihatnya. Pada sisi kanan pajangan berbahan keramik itu tertulis: Kasih Karunia. Namun, pada sisi kirinya, terdapat dua retakan yang cukup panjang. “Lho, barang ini rusak!” seru Jordan sembari mencari benda serupa yang tidak rusak dari rak. Akan tetapi, Collin berkata, “Bukan rusak. Justru itu intinya. Sebagai manusia, kita semua rusak, tetapi kemudian kasih karunia itu datang—itu intinya.” Mereka pun memutuskan membeli pajangan yang retak itu. Ketika mereka hendak membayarnya, petugas kasir sempat berseru, “Oh, tidak, ini rusak!” “Ya, begitu juga kita,” bisik Jordan. 

Saling Menolong

Ketika sedang bermain basket bersama teman-teman perempuannya, Amber menyadari bahwa lingkungannya akan sangat terbantu dengan kehadiran suatu kompetisi basket antarwanita. Ia lalu mendirikan sebuah organisasi nirlaba untuk membangun kerja sama tim dan memberikan dampak kepada generasi muda. Para pemimpin organisasi bernama “Ladies Who Hoop” berjuang untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan ketangguhan karakter kaum perempuan. Selain itu, anak-anak perempuan dan para wanita dewasa didorong untuk berkontribusi kepada pengembangan komunitas mereka. Salah seorang pemain basket senior yang sekarang sudah menjadi pembimbing berkata, “Kami merasakan kuatnya ikatan kesetiakawanan di antara kami. Itulah yang selama ini saya rindukan. Kami mendukung satu sama lain dengan berbagai cara. Saya senang melihat para gadis muda bertumbuh dan berhasil.”

Tidak Ada Kesalahpahaman

Adakalanya program Alexa, Siri, atau asisten virtual berbasis suara lain yang terpasang dalam perangkat canggih di rumah kita salah memahami ucapan dan perintah kita. Seorang anak berusia enam tahun berbicara dengan perangkat baru yang terpasang di rumahnya tentang kue kering dan rumah boneka. Tak lama kemudian, ibunya menerima e-mail yang mengatakan bahwa pesanan berupa 3 kg kue kering dan rumah boneka seharga hampir 2,5 juta rupiah sedang dikirimkan ke rumahnya. Entah bagaimana seekor burung beo yang pintar berbicara di London bisa memesan paket berisi kotak-kotak kado emas tanpa sepengetahuan sang pemilik yang tidak pernah berbelanja daring. Seseorang pernah memerintahkan program itu, “nyalakan lampu ruang tamu” tetapi dibalas dengan ucapan, “tidak ada labu di ruang tamu”. 

Sifat Kasih yang Sejati

Selama masa pandemi, Jerry terpaksa menutup pusat kebugaran miliknya dan tidak memperoleh penghasilan selama berbulan-bulan. Suatu hari ia menerima pesan singkat dari seorang teman yang meminta untuk bertemu dengannya di pusat kebugaran itu pukul 6 sore. Jerry tidak mengetahui alasannya, tetapi ia tetap pergi ke sana. Tak lama kemudian, banyak mobil mulai memasuki lapangan parkir. Pengemudi mobil pertama meletakkan keranjang di trotoar dekat gedung. Kemudian satu per satu mobil (sekitar lima puluh) datang. Para pengemudi dan penumpang mobil-mobil itu melambai-lambaikan tangan ke arah Jerry atau meneriakkan salam mereka, lalu berhenti di depan keranjang, dan memasukkan selembar kupon atau sejumlah uang tunai. Sebagian menyumbangkan uang; tetapi semua dari mereka memberikan waktu mereka untuk menyemangati Jerry.