Dengar dan Belajar
Di satu sisi jalan, seorang pemilik rumah memasang balon raksasa berbentuk elang botak yang diselubungi bendera Amerika Serikat di halaman rumahnya. Sebuah truk besar diparkir di depan garasinya. Jendela samping truk itu menampilkan gambar bendera dan bumper belakangnya dipenuhi stiker bertema patriotik. Persis di seberang jalan, di halaman rumah tetangganya, terpasang papan-papan bertuliskan slogan-slogan tentang isu ketidakadilan sosial yang sedang hangat diberitakan.
Kuasa Allah
Dokter pernah memberi tahu Rebecca dan Russell bahwa mereka tidak akan bisa mempunyai anak. Namun, Allah berkehendak lain—Rebecca pun hamil sepuluh tahun kemudian. Kehamilannya sehat; dan ketika Rebecca mulai merasakan kontraksi, keduanya bergegas pergi ke rumah sakit dengan perasaan gembira. Akan tetapi, proses persalinan yang berjalan panjang tidak kunjung mencapai puncak, dan kondisi Rebecca tidak cukup siap untuk melahirkan secara normal. Akhirnya, dokter memutuskan untuk melakukan operasi caesar darurat. Mendengar itu, Rebecca menangis karena mengkhawatirkan keselamatan dirinya dan bayinya. Namun, dengan tenang dokter berusaha meyakinkannya. Ia berkata, “Saya akan melakukan yang terbaik, tetapi marilah kita berdoa kepada Allah karena Dia sanggup melakukan lebih dari yang kita pikirkan.” Lalu dokter itu berdoa bersama Rebecca, dan lima belas menit kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki yang sehat, yang dinamai Bruce.
Ajaran Yesus yang Tidak Populer
Selama lima belas tahun, Mike Burden menyelenggarakan pertemuan-pertemuan yang sarat kebencian di toko kenang-kenangan yang ia kelola di sebuah kota kecil. Namun, ketika pada tahun 2012 istrinya mulai mempertanyakan keterlibatannya, hatinya melunak. Ia pun memutuskan untuk berubah setelah menyadari betapa salahnya pandangan rasialis yang selama ini dipegangnya. Kelompok militan yang selama ini bertemu di tempat Mike membalas dengan mengusir keluarganya dari apartemen yang mereka sewa dari salah seorang anggotanya.
Janji Yesus bagi Anda
Jason menangis keras-keras ketika orangtuanya menyerahkannya kepada Amy, pengasuh tempat penitipan anak di gereja. Ini pertama kalinya bocah dua tahun itu dititipkan ke tempat penitipan anak, sementara ayah dan ibunya menghadiri kebaktian—dan ia sama sekali tidak senang. Amy meyakinkan kedua orangtuanya bahwa Jason akan baik-baik saja. Ia berusaha menenangkan Jason dengan mainan dan buku, mengayunkannya di kursi goyang, berkeliling ruangan, berdiri di satu tempat, dan berbicara tentang hal-hal menyenangkan yang bisa mereka lakukan. Namun, Jason justru menangis semakin keras. Kemudian Amy membisikkan sebaris kalimat sederhana di telinga Jason: “Aku akan selalu menemanimu.” Seketika itu juga Jason merasa tenang.
Buku Cerita Tuhan
Pada suatu hari yang indah, saya keluar untuk berjalan-jalan, dan di tengah jalan saya bertemu dengan seorang tetangga baru. Anak laki-laki itu menghentikan saya dan memperkenalkan dirinya: “Namaku Genesis, dan umurku enam setengah tahun.”
Perayaan yang Meriah
Teman saya Sharon meninggal dunia setahun sebelum kepergian Melissa, remaja putri dari teman saya Dave. Keduanya meninggal secara tragis dalam kecelakaan mobil. Suatu malam, saya bermimpi tentang Sharon dan Melissa. Mereka mengobrol sambil tertawa riang, menggantungkan pita-pita di suatu ruangan pesta yang sangat besar, dan tidak mempedulikan saya yang berjalan memasuki ruangan itu. Sebuah meja panjang bertaplak putih terpasang rapi, lengkap dengan piring-piring dan gelas-gelas emas. Saya bertanya apakah saya boleh membantu menghias, tetapi sepertinya mereka tidak mendengar saya dan tetap asyik sendiri.
Buanglah
Ketika rumah tangga kakak laki-lakinya mulai bermasalah, Rebecca sungguh-sungguh berdoa agar keluarga mereka utuh kembali. Namun, akhirnya mereka bercerai. Kemudian kakak iparnya membawa anak-anak mereka pindah ke negara bagian lain, sementara sang kakak diam dan tidak berbuat apa-apa. Rebecca tidak pernah bertemu lagi dengan keponakan-keponakan yang sangat ia sayangi. Bertahun-tahun kemudian, ia berkata, “Karena aku mencoba memendam kesedihan ini sendiri, aku membiarkan akar pahit tumbuh dalam hatiku, dan itu menyebar ke keluarga dan teman-temanku.”
Siapa Diri Anda
Namanya Dnyan, dan ia menganggap dirinya mahasiswa dari dunia. “Suatu sekolah yang sangat besar,” katanya tentang berbagai kota dan desa yang pernah dilewatinya. Ia memulai perjalanan bersepedanya pada tahun 2016, dan selama empat tahun ia bertemu serta belajar dari banyak orang. Ketika menghadapi kendala bahasa, ia mendapati bahwa terkadang orang bisa memahami hanya dengan saling berpandangan. Ia juga mengandalkan aplikasi terjemahan di ponsel pintarnya untuk berkomunikasi. Ia tidak mengukur perjalanannya berdasarkan jarak yang sudah dijalaninya atau tujuan wisata mana saja yang pernah dilihatnya. Sebaliknya, ia mengukurnya berdasarkan berapa banyak orang yang telah meninggalkan jejak di dalam hatinya: “Mungkin aku tidak memahami bahasamu, tetapi aku ingin mengenal siapa dirimu.”
Obral Natal
Seorang ibu merasa sudah terlalu banyak mengeluarkan uang untuk membeli hadiah Natal bagi keluarganya, oleh karena itu pada tahun berikutnya ia memutuskan mencoba hal yang berbeda. Selama beberapa bulan sebelum Natal, ia mengunjungi sejumlah kegiatan penjualan barang bekas untuk mencari-cari barang bekas yang dijual murah. Ia pun berhasil membeli lebih banyak barang daripada biasanya, tetapi dengan harga yang jauh lebih murah. Pada malam sebelum hari Natal, anak-anaknya sangat bersemangat membuka hadiah-hadiah itu. Keesokan harinya, masih ada hadiah yang belum dibuka! Karena merasa bersalah tidak memberikan barang-barang baru sebagai hadiah, si ibu menyiapkan hadiah-hadiah tambahan. Anak-anaknya sempat membuka hadiah-hadiah itu tetapi mereka segera memprotes, “Kami capek membuka hadiah terus! Hadiahnya begitu banyak, Ma!” Tumben sekali anak-anak mengeluh seperti itu di hari Natal!