Kerapuhan yang Membawa Berkat
Punggungnya bungkuk, dan ia berjalan dengan dibantu tongkat, tetapi penggembalaan rohani yang dilakukannya bertahun-tahun menjadi bukti bahwa ia bergantung pada Allah sebagai sumber kekuatannya. Pada tahun 1993, Pendeta William Barber II didiagnosis menderita penyakit berat yang membuat tulang belakangnya menyatu. Dengan blak-blakan, seseorang pernah berkata kepadanya, “Barber, mungkin engkau perlu melakukan hal lain daripada menjadi pendeta, karena gereja tidak akan mengizinkan [seorang penyandang cacat] menjadi pendetanya.” Namun, Barber berhasil mengatasi komentar menyakitkan itu. Ia tidak hanya dipakai Allah sebagai pendeta, tetapi juga menjadi seorang tokoh terhormat yang menyuarakan kebutuhan orang-orang yang selama ini tidak terlayani dan terpinggirkan.
Senjata Kita di dalam Kristus
Seorang pemuda menceritakan kepada pendeta yang dipercayainya tentang pelecehan dan kecanduan yang pernah dialaminya. Meski sudah mengenal Yesus, pengalaman dengan pelecehan seksual dan pornografi sejak usia muda membuat pemuda itu dirongrong masalah yang tak sanggup diatasinya sendiri. Ia pun mencari pertolongan di dalam keputusasaannya.
Pakailah Aku
James Morris pernah disebut sebagai “seorang awam yang buta huruf dan penuh kehangatan,” tetapi Allah memakainya untuk membawa Augustus Toplady mengenal iman yang menyelamatkan dalam Yesus Kristus. Toplady, penulis himne “Batu Karang yang Teguh” dari abad ke-18, menceritakan kesan yang diterimanya saat mendengar khotbah Morris. “Saya merasa aneh . . . seperti dibawa mendekat kepada Allah . . . di tengah-tengah sekumpulan umat Allah yang bertemu dalam sebuah lumbung, oleh pelayanan dari seseorang yang bahkan tidak bisa mengeja namanya sendiri. Pastilah itu karya Tuhan, dan itu sungguh menakjubkan.”
Dilema dan Iman yang Makin Teguh
Dalam sebuah kelompok pendalaman Alkitab di akhir pekan, seorang ayah menceritakan kebingungannya karena putri tercintanya yang pernah kabur dari rumah sekarang telah kembali ke kota mereka. Namun, perilaku anak itu membuat sang ayah merasa tak nyaman untuk menyambutnya pulang. Anggota kelompok yang lain merasa kurang enak badan sebagai akibat dari penuaan dan juga penyakit yang telah lama dideritanya. Ia sudah berobat ke banyak dokter, tetapi hanya mengalami sedikit kemajuan. Sekarang ia merasa putus asa. Dalam rencana Allah, hari itu kelompok mereka mempelajari Markus 5. Setelah membahas bagian itu, tampak jelas ada harapan dan kegembiraan pada wajah mereka.
Kemenangan Iman
Ketika Calvin yang berusia empat tahun menjalani pemeriksaan kesehatan rutin, dokter menemukan beberapa bintik yang tidak lazim pada tubuhnya. Calvin harus disuntik beberapa kali, dan setelah itu bekas suntikannya ditutup dengan plester. Di rumah, sewaktu plester kecil itu akan dibuka, Calvin merintih ketakutan. Sang ayah mencoba menenangkannya dengan berkata, “Calvin, kamu tahu Ayah tidak akan pernah melakukan sesuatu untuk menyakitimu.” Sang ayah ingin putranya lebih mempercayainya daripada mengkhawatirkan dibukanya plester tersebut.
Allah adalah Penolongku
Teman saya, Raleigh, masih bersemangat menjalani hidupnya yang hampir menjelang usia 85 tahun! Ia telah menjadi sumber insipirasi sejak pertama kali saya bercakap-cakap dengannya lebih dari 35 tahun yang lalu. Karena itu saya tergugah, tetapi tidak heran, ketika baru-baru ini Raleigh bercerita bahwa sejak pensiun, ia sudah menyelesaikan sebuah naskah buku dan memulai inisiatif untuk pelayanan yang baru.
Pentingnya Pilihan Hidup
Pendeta Damian berencana untuk melawat dua orang yang sudah sekarat di rumah sakit. Masing-masing dari mereka telah memilih jalan hidup yang berbeda. Di suatu rumah sakit dirawat seorang wanita yang sangat dicintai oleh keluarganya. Pelayanan tanpa pamrih yang selama ini dilakukan wanita itu membuatnya disayang banyak orang. Saudara-saudari seiman berkumpul di sekelilingnya untuk menaikkan penyembahan, doa, serta harapan mereka kepada Allah. Di rumah sakit yang lain, kerabat dari salah seorang jemaat Pendeta Damian juga tengah meregang nyawa. Kekerasan hati pria itu telah membawanya kepada kehidupan yang sama kerasnya, dan keluarganya yang berantakan harus menanggung dampak dari keputusan dan kesalahannya yang buruk. Perbedaan besar dari kedua situasi tersebut mencerminkan betapa kontrasnya cara hidup mereka masing-masing.
Berbuat Baik demi Allah
Patrick biasanya tidak membawa uang tunai. Namun, pada suatu hari, ia merasa Allah menggerakkannya untuk menyelipkan selembar uang lima dolar ke dalam sakunya sebelum meninggalkan rumah. Pada jam makan siang di sekolah tempat ia bekerja, Patrick akhirnya mengerti bahwa Allah telah menyiapkannya untuk menolong sesorang yang membutuhkan. Di tengah kebisingan ruang makan siang itu, ia mendengar seseorang berkata, “Scotty [seorang anak] butuh deposit lima dolar untuk ongkos makan siangnya minggu ini.” Bayangkan perasaan Patrick saat ia memberikan uangnya kepada Scotty!
Perlu Dipulihkan Allah
Saya sangat kagum melihat foto-foto yang dikirimkan seorang teman melalui pesan singkat! Isinya memperlihatkan mobil Ford Mustang keluaran tahun 1965 yang sudah direstorasi dan menjadi hadiah kejutan bagi sang istri. Eksterior biru tua yang cerah, pelek krom yang mengilap, interior serba hitam yang baru dilapis ulang, dengan mesin yang juga baru. Saya juga menerima foto mobil itu sebelum direstorasi—dalam versi warna kuning kusam, usang, dan tidak menarik. Meski sulit untuk dipercaya, saya yakin mobil itu pasti juga menarik perhatian saat dahulu baru keluar dari pabrik. Namun, waktu, keausan, dan faktor-faktor lainnya membuat mobil itu perlu direstorasi.