Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Arthur Jackson

Kegelisahan Jiwa dan Doa yang Jujur

Tiga hari sebelum ledakan bom mengguncang rumahnya pada bulan Januari 1957, Dr. Martin Luther King Jr. mengalami peristiwa yang terus membekas selama sisa hidupnya. Setelah menerima ancaman melalui telepon, King sempat memikirkan strategi untuk keluar dari perjuangan kesetaraan hak-hak sipil yang selama ini dipimpinnya. Namun, jiwanya mulai tergerak untuk berdoa. “Aku sedang memperjuangkan sesuatu yang kuyakini benar. Namun, sekarang aku takut. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Di titik ini aku tidak mampu lagi menghadapinya seorang diri.” Setelah berdoa demikian, King merasakan kepastian yang menenangkan. Ia berkata, “Nyaris saat itu juga ketakutan saya mulai mereda. Keraguan saya sirna. Saya merasa siap menghadapi apa pun.”

Menceritakan Kebaikan Allah

Salah satu bagian dari ibadah di gereja kami adalah ruang kesaksian, yaitu waktu bagi jemaat bersaksi tentang karya Allah dalam hidup mereka. Seorang anggota jemaat yang akrab dipanggil Tante Langford selalu mengisi kesaksiannya dengan puji-pujian. Ketika ia menceritakan kisah pertobatan pribadinya, dapat dipastikan ia akan menyita sebagian besar waktu ibadah. Hatinya begitu meluap-luap dengan pujian kepada Allah yang telah mengubah hidupnya!

Pintu yang Sama bagi Semua Orang

Sewaktu saya kecil, restoran di lingkungan tempat tinggal saya masih memberlakukan aturan yang mengikuti dinamika sosial dan rasial pada akhir 1950-an sampai awal 1960-an. Para pelayan dapur—Mary si juru masak, dan para pencuci piring seperti saya—berkulit hitam, sementara para pengunjung restorannya berkulit putih. Pelanggan berkulit hitam dapat memesan makanan, tetapi harus mengambilnya di pintu belakang. Kebijakan tersebut mempertegas diskriminasi terhadap orang kulit hitam di masa itu. Meski semua itu telah lama berlalu, kita masih perlu bertumbuh dalam cara kita berhubungan dengan satu sama lain sebagai manusia yang diciptakan serupa dengan gambar Allah.

Kebaikan Tak Terhingga

Seorang karyawan restoran cepat saji bernama Kevin Ford tidak pernah membolos satu kali pun selama dua puluh tujuh tahun ia bekerja. Setelah tersebarnya sebuah videoklip yang menunjukkan rasa syukurnya saat menerima hadiah sederhana atas pengabdiannya selama beberapa dekade, ribuan orang bergandengan tangan untuk ikut menunjukkan kebaikan kepadanya. “Sungguh seperti mimpi yang jadi kenyataan,” ujar Kevin saat menerima uang sejumlah $250.000 yang digalang orang-orang hanya dalam waktu seminggu.

Terpukul tetapi Tetap Berpengharapan

Di penghujung kebaktian, pendeta mengundang Latriece ke depan untuk bersaksi. Rasanya tak seorang pun dari antara jemaat yang menduga betapa luar biasanya kesaksian Latriece. Ia bercerita bagaimana ia pindah dari Kentucky ketika bencana tornado merenggut nyawa tujuh orang anggota keluarganya pada bulan Desember 2021. “Saya masih bisa tersenyum karena Allah beserta saya,” katanya. Meski telah didera cobaan berat, kesaksian Latriece sungguh menguatkan para pendengar yang sedang menghadapi cobaan mereka masing-masing.

Bersihkan Aku!

“Bersihkan aku!” Kata-kata itu seharusnya tertulis pada mobil saya yang sangat kotor. Saya pun pergi ke tempat cuci mobil, bersama para pengemudi lain yang juga ingin membersihkan mobil mereka dari sisa-sisa kotoran sehabis hujan salju yang baru berlalu. Antrean di tempat cuci mobil sangat panjang, dan pelayanannya sangat lamban. Namun, tidak percuma saya menunggu. Saya pulang dengan mobil yang sudah bersih dan, sebagai ganti rugi akibat pelayanan yang tertunda, saya tidak perlu membayar!

Pergumulan dan Kemenangan

Jimmy tidak membiarkan gejolak sosial, ancaman bahaya, dan ketidaknyamanan menghalanginya pergi ke salah satu negara paling miskin di dunia untuk membantu pelayanan pasutri di sana. Pesan-pesan singkat yang diterima tim pelayanan kami secara teratur mengungkapkan beragam tantangan yang dihadapinya. “Oke, teman-teman, mohon doakan kami. Kami baru menempuh enam belas kilometer dalam dua jam terakhir . . . tetapi mesin mobil sudah belasan kali kepanasan.” Gara-gara kendala transportasi itu, ia baru sampai di tujuannya persis menjelang tengah malam untuk berkhotbah kepada orang-orang yang sudah menantinya selama lima jam. Kemudian kami menerima sebuah pesan lagi dengan nada berbeda. “Sungguh persekutuan yang sangat ajaib dan indah . . . Sekitar selusin orang maju untuk didoakan. Malam yang benar-benar luar biasa!”

Berani Bersaksi bagi Yesus

Pada tahun 155 m, bapa gereja mula-mula Polikarpus diancam akan dibakar hidup-hidup karena imannya kepada Kristus. Ia menjawab, “Selama delapan puluh enam tahun aku menjadi hamba-Nya, Dia tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin sekarang aku menghujat Rajaku yang telah menyelamatkanku?” Respons Polikarpus dapat menjadi inspirasi bagi kita saat menghadapi ujian ekstrem karena iman kita kepada Tuhan Yesus, Raja kita.

Kemah Rapuh

“Kemahnya sudah rapuh!” ujar kawan saya, Paul, gembala sebuah gereja di Nairobi, Kenya. Sejak tahun 2015, jemaatnya beribadah dalam suatu bangunan mirip tenda. Sekarang, Paul menulis, “Kemah kami sudah usang dan bocor sewaktu hujan.”