Berlari kepada Yesus
Dalam kunjungan ke Paris, Ben dan teman-temannya pergi mengunjungi salah satu museum terkenal di kota itu. Meski Ben bukan mahasiswa seni, ia terkagum-kagum melihat lukisan berjudul The Disciples Peter and John Running to the Sepulchre on the Morning of the Resurrection (Petrus dan Yohanes Berlari ke Makam pada Pagi Yesus Bangkit) karya Eugène Burnand. Tanpa berkata-kata, wajah Petrus dan Yohanes serta posisi tangan mereka sudah mengungkapkan banyak cerita, sehingga orang-orang yang melihat lukisan itu dapat ikut merasakan dan membayangkan luapan emosi kedua tokoh tersebut.
Ketika dalam Kesesakan
Bertahun-tahun lalu, seorang kawan menceritakan ketakutannya ketika ia harus menyeberang sebuah persimpangan yang memiliki beberapa lajur perlintasan. “Saya belum pernah melihat tempat seperti itu; semua aturan yang pernah saya terima tentang cara menyeberang di jalan seperti tidak ada gunanya. Saking ketakutannya saya hanya berdiri di ujung jalan, menunggu bus, dan meminta sopir bus agar diizinkan ikut sampai ke seberang jalan. Butuh waktu cukup lama sebelum akhirnya saya dapat menyeberangi persimpangan itu, baik sebagai pejalan kaki maupun sebagai pengemudi.”
Belas Kasihan untuk Kita
Salah satu konsekuensi dari pandemi COVID-19 adalah berlabuhnya kapal pesiar dan karantina terhadap para penumpangnya. Sebuah artikel dalam The Wall Street Journal memuat wawancara dengan beberapa turis di kapal pesiar. Banyak dari mereka menganggap masa karantina memberi lebih banyak kesempatan untuk bercakap-cakap. Seorang penumpang dengan bergurau menceritakan bagaimana pasangannya—yang memiliki ingatan tajam—mampu menyebutkan kembali setiap kesalahan yang pernah ia lakukan, bahkan ia punya firasat bahwa istrinya belum mengatakan semuanya!
Pertobatan yang Luar Biasa
“BROKE” (Rusak) adalah nama julukan Grady, dan lima huruf itu terpampang dengan blak-blakan pada pelat mobilnya. Meski tidak dimaksudkan untuk memiliki makna rohani, julukan tersebut cocok dengan sosok pria paruh baya yang suka berjudi, berzina, dan menipu orang itu. Grady kehilangan harapan, hidupnya rusak, dan jauh dari Allah. Namun, semua itu berubah pada suatu malam ketika ia diinsafkan oleh Roh Allah dalam sebuah kamar hotel. Grady memberi tahu istrinya, “Kurasa aku diselamatkan!” Malam itu ia mengakui semua dosa-dosa yang dikiranya akan dibawa mati. Ia pun datang kepada Yesus untuk memohon pengampunan-Nya. Selama tiga puluh tahun berikutnya, pria yang pernah mengira dirinya tidak akan hidup sampai usia empat puluh tahun itu hidup dan melayani Allah sebagai orang percaya yang telah diubahkan dalam Yesus. Pelat mobilnya juga berubah—dari “BROKE” menjadi “REPENT” (Bertobat).
Diselamatkan dari Banjir
Pada bulan Agustus 2021 besar curah hujan di Waverly, Tennessee, tiga kali lipat dari yang diberikan ramalan cuaca. Dua puluh orang kehilangan nyawa dan ratusan rumah hancur dihantam badai. Jika bukan berkat keterampilan dan kemurahan hati pilot helikopter Joel Boyers, jumlah korban tewas mungkin akan jauh lebih besar.
Keluarga yang Utuh
Pada tanggal 16 Juni 1858, ketika baru terpilih sebagai kandidat partai Republik untuk Senat Amerika Serikat dari negara bagian Illinois, Abraham Lincoln menyampaikan pidatonya yang terkenal, “Keluarga yang Terpecah-pecah”, yang menyoroti ketegangan di antara berbagai pihak di Amerika terkait isu perbudakan. Pidato ini mengusik banyak orang, baik teman maupun lawan Lincoln. Lincoln menganggap penting untuk memakai istilah “keluarga yang terpecah-pecah”, yang diucapkan Yesus di Matius 12:25, karena istilah tersebut sangat dikenal dan mengena. Lincoln menggunakan ungkapan ini agar pidatonya “masuk ke benak setiap orang sehingga mereka menyadari betapa gentingnya kondisi saat ini.”
Minta Saja!
Tiba-tiba saja, dari rubanah terdengar pekik gembira istri saya, Shirley. Setelah berjam-jam berkutat dengan suatu proyek buletin, ia nyaris menyerah. Dalam kecemasan dan kebimbangan tentang kelanjutan proyek itu, ia pun berdoa meminta pertolongan Allah. Ia juga meminta bantuan teman-temannya di Facebook, dan tak lama kemudian proyek itu selesai—sebagai hasil kerja bersama.
Dia Mengenal Hati Saya
Setelah seorang konsumen menyelesaikan transaksinya pada mesin pembayaran mandiri di sebuah toko swalayan, saya menghampiri mesin tersebut untuk memindai belanjaan saya. Tiba-tiba, seseorang mendekati saya dengan marah-marah. Ternyata, saya tidak menyadari bahwa orang tersebut sudah lebih dahulu mengantre di depan saya. Menyadari kesalahan itu, saya pun meminta maaf dengan tulus. “Maafkan saya.” Wanita itu menjawab (walau bukan hanya ini yang ia katakan): “Tidak, Anda tidak benar-benar menyesal!”
Di Saat Kelam, Berdoalah!
“Saya pernah mengalami masa kelam.” Lima kata itu menggambarkan penderitaan batin seorang pesohor wanita selama pandemi COVID-19. Menyesuaikan diri dengan kenormalan yang baru adalah salah satu tantangan yang dihadapinya, dan di tengah pergumulannya itu, ia mengaku bergulat dengan niat bunuh diri. Namun, upayanya untuk keluar dari situasi yang menjerumuskan itu terbantu ketika ia menceritakan pergumulannya kepada seorang teman yang mempedulikannya.