Penulis

Lihat Semua
Cindy Hess Kasper

Cindy Hess Kasper

Cindy Hess Kasper telah melayani di RBC selama lebih dari 30 tahun, dimana kini ia menjadi wakil editor untuk renungan Our Daily Bread. Cindy adalah putri dari editor senior RBC, Clair Hess, yang darinya Cindy belajar untuk mencintai tulisan. Cindy dan suaminya, Tom, memiliki tiga anak dan tujuh cucu.

Artikel oleh Cindy Hess Kasper

Kapan Pun, Di Mana Pun

Pada tanggal 28 Januari 1986, pesawat ulang alik Challenger milik Amerika Serikat meledak tujuh puluh tiga detik setelah lepas landas. Dalam pidato untuk menguatkan bangsanya yang berduka karena tragedi itu, Presiden Reagan mengutip puisi “High Flight” karya John Gilespie Magee, seorang pilot pada masa Perang Dunia II. Dalam puisi itu, ia menulis tentang pergi ke “angkasa tinggi yang suci dan tak terlampaui” dan merasa sedang mengulurkan tangan, hendak menyentuh “wajah Tuhan.”

Teguran Penuh Kasih

Selama lebih dari lima puluh tahun, ayah saya selalu berusaha menghasilkan suntingan yang bermutu tinggi. Yang ia usahakan bukan hanya membetulkan berbagai kesalahan penulisan, melainkan juga membuat tulisan tersebut lebih jernih, masuk akal, mengalir, dan akurat secara tata bahasa. Ayah saya menggunakan tinta hijau untuk menandai pembetulan, bukan tinta merah. Goresan hijau dirasakannya “lebih ramah”, sementara coretan merah bisa jadi terlihat garang bagi seorang penulis pemula atau pengarang yang kurang percaya diri. Ayah saya bermaksud menunjukkan cara penulisan yang lebih baik dengan penuh kasih.

Investasi Iman

Pada hari Natalnya yang kedua belas, seorang anak lelaki dengan bersemangat menunggu saatnya membuka hadiah-hadiah yang diletakkan di bawah pohon Natal. Ia ingin sekali mendapat sepeda baru, tetapi harapannya pupus—hadiah terakhir yang ia buka adalah sebuah kamus. Pada halaman pertamanya tertulis pesan, “Untuk Charles dari Ibu dan Ayah, 1958. Teriring kasih dan harapan besar untuk keberhasilanmu di sekolah.”

Ikan Kecil

Selama bertahun-tahun, sepasang suami-istri asal Inggris yang tinggal di Afrika Barat telah menjalin persahabatan dengan seorang pria di kota mereka dan sering membagikan kasih serta kisah Yesus dengannya. Akan tetapi, teman mereka itu masih enggan melepaskan kepercayaan yang sudah dianutnya sejak lama, meskipun sudah menyadari bahwa iman di dalam Kristus adalah ”kebenaran yang lebih agung.” Keengganannya sebagian karena alasan keuangan, sebab ia adalah seorang pemimpin umat dan kehidupannya bergantung pada kompensasi yang diterimanya. Ia juga takut reputasinya jatuh di tengah komunitasnya sendiri.

Kasih yang Rela Melayani

Setelah menyelesaikan penugasan di suatu negara beriklim tropis, Heidi dan Jeff kembali ke Amerika Serikat dan tinggal selama beberapa bulan tidak jauh dari keluarga mereka di Michigan. Karena mereka tiba tepat pada musim dingin, itulah kesempatan pertama bagi sebagian besar anak-anak mereka untuk melihat keindahan salju yang asli. 

Mudah Lupa

Seorang wanita mengeluh kepada gembala gerejanya karena sang pendeta berulang kali mengatakan hal yang sama dalam khotbahnya. “Mengapa Anda melakukan itu?” tanyanya. Sang pendeta menjawab, “Karena orang mudah lupa.” 

Kuat dan Teguh

Setiap malam menjelang tidur, Caleb kecil merasa takut pada kegelapan yang menyelimutinya. Keheningan di kamar tidurnya sesekali dipecahkan oleh suara berderik-derik dari rumah kayunya di Kosta Rika. Apalagi kemudian kelelawar-kelelawar di loteng semakin aktif bergerak di malam hari. Ibu Caleb membiarkan lampu meja di kamarnya tetap menyala sepanjang malam, tetapi itu belum cukup menyingkirkan ketakutan Caleb pada kegelapan. Suatu malam, ayah Caleb memasang ayat Alkitab di ujung tempat tidurnya. Bunyinya: “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu. Janganlah kecut . . . sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau” (Yos. 1:9). Caleb pun membaca ayat itu setiap malam—dan ia membiarkan tulisan berisi janji Tuhan itu terpasang di ujung tempat tidurnya sampai waktunya ia keluar dari rumah untuk berkuliah.

Tersesat

Karena tinggal dekat peternakan sapi, komedian Michael Yaconelli sempat memperhatikan bagaimana sapi cenderung berkelana ketika merumput. Seekor sapi akan terus bergerak untuk mencari “padang rumput yang lebih hijau”. Sapi tersebut bisa saja menemukan rumput segar di bawah keteduhan pohon pada pinggir tanah peternakan itu. Lalu, tepat di balik pagar yang sudah patah terdapat semak hijau yang terlihat enak. Sapi itu bisa berkelana lebih jauh melewati pagar dan sampai ke jalan. Begitu terus sampai akhirnya sapi itu tersesat.

Melepaskan

“Ayah Anda sudah melangkah menuju ajalnya,” kata perawat yang menanganinya. Istilah “melangkah menuju ajal” merujuk pada tahap akhir proses kematian, dan istilah baru yang asing bagi saya itu memberikan kesan seperti menyusuri jalan sunyi sepi tanpa ada jalan kembali. Di hari terakhir ayah kami, saya duduk bersama saudara perempuan saya di samping tempat tidurnya tanpa mengetahui apakah ia masih bisa mendengar kami. Kami mencium puncak kepalanya yang sudah tidak ditumbuhi rambut lagi. Kami membisikkan janji-janji Allah di telinganya. Kami menyanyikan lagu “Besar Setia-Mu” dan membacakan Mazmur 23. Kami mengatakan kepadanya bahwa kami menyayanginya dan berterima kasih kepadanya karena sudah menjadi ayah kami. Kami tahu, hatinya sudah rindu ingin segera berjumpa Yesus, dan kami katakan kepadanya bahwa ia boleh pergi. Mengucapkan kata-kata itu merupakan langkah pertama yang sangat menyakitkan dalam melepasnya pergi. Beberapa menit kemudian, ayah kami pun berpulang dan disambut dengan penuh kebahagiaan ke dalam rumahnya yang abadi.