Penulis

Lihat Semua
Dave Branon

Dave Branon

Selain menulis untuk Our Daily Bread, Dave Branon juga merupakan seorang editor untuk Discovery House Publishers dan telah menulis 15 judul buku. Ia dan istrinya, Sue, suka bermain rollerblade dan meluangkan waktu bersama anak dan cucu mereka.

Artikel oleh Dave Branon

Apakah Semua Jalan Sama?

“Jangan lewat jalan tol!” Itulah pesan yang dikirim anak perempuan saya pada suatu hari ketika saya hendak pulang kantor. Hari itu, jalan tol menuju rumah sudah seperti tempat parkir karena kemacetan yang parah. Saya mencoba mencari beberapa jalan alternatif untuk pulang, tetapi setelah mengalami kemacetan parah di mana-mana, akhirnya saya menyerah. Saya memutuskan untuk menunda kepulangan sampai situasi membaik, dan akhirnya mengendarai mobil ke arah yang berlawanan untuk menghadiri sebuah kegiatan olahraga yang diikuti oleh cucu perempuan saya.   

Siapa Namanya? 

Inilah percakapan yang tidak perlu dilakukan Maria dengan Yusuf ketika mereka menantikan kelahiran anak yang dikandungnya: “Yusuf, siapa nama anak kita nanti?” Tidak seperti kebanyakan orang yang menantikan kelahiran anak, Maria dan Yusuf tidak perlu memikirkan nama untuk anak mereka. 

Melakukan Peran Kita

Ketika dua cucu saya mengikuti audisi untuk pertunjukan musikal Alice in Wonderland Jr., mereka berharap bisa mendapatkan peran-peran utama. Maggie ingin menjadi Alice muda, sementara Katie merasa tokoh Mathilda cocok untuknya. Namun, mereka berdua akhirnya terpilih menjadi bunga. Namun, menurut ibu mereka, keduanya “ikut senang bersama teman-temannya yang mendapat peran utama. Kelihatannya mereka justru lebih senang mendukung teman-temannya dan ikut merasakan kegembiraan mereka.”

Penginjil atau Petani?

Konon pada suatu ketika, dua bersaudara laki-laki bernama Billy dan Melvin sedang berada di tanah pertanian keluarga ketika mereka melihat sebuah pesawat yang lewat membuat tulisan “GP” di langit.

Kini dan Nanti

Baru-baru ini, saya menghadiri sebuah acara wisuda SMA dan pembicaranya memberikan tantangan yang diperlukan oleh pemuda-pemudi yang akan diwisuda tersebut. Ia berkata bahwa itulah saatnya orang-orang akan bertanya kepada para lulusan, “Apa rencanamu selanjutnya? Karir apa yang hendak kamu tekuni? Pilih melanjutkan kuliah atau bekerja?” Namun, kata sang pembicara, pertanyaan yang lebih penting dari semua itu adalah: “Apa yang sedang mereka lakukan saat ini?”

Memeriksa Diri Sendiri

Baru-baru ini saya membaca setumpuk surat dari era Perang Dunia II yang dikirimkan oleh ayah saya kepada ibu saya. Saat itu ayah saya ditugaskan di Afrika Utara sementara ibu saya tinggal di West Virginia, Amerika Serikat. Ayah, seorang tentara berpangkat letnan dua di Angkatan Darat, diberi tanggung jawab menyensor surat-surat yang dikirimkan para tentara. Tujuannya supaya jangan ada informasi sensitif yang terbaca oleh musuh. Jadi agak lucu ketika saya melihat di bagian luar dari surat-surat yang dikirimkan ayah saya kepada istrinya, terdapat stempel bertuliskan “Lolos sensor oleh Letnan Dua John Branon.” Ayah saya menyensor surat-suratnya sendiri!

Ketika Keindahan Itu Pergi

Saya tidak akan pernah mendapatkan kembali keindahan putri kami Melissa. Kenangan indah saat kami melihatnya bermain voli dengan riang di sekolahnya mulai pudar dari ingatan saya. Terkadang sulit mengingat kembali senyum malu-malu yang muncul di wajahnya yang gembira ketika kami melakukan kegiatan bersama sebagai keluarga. Kematiannya di usia 17 tahun seakan memadamkan sukacita kehadirannya dalam hidup kami.

Membangun Kembali

Pada larut malam itu, sang pemimpin berangkat menunggang kuda untuk memeriksa pekerjaan yang masih harus dilakukan. Saat berkeliling, ia melihat tembok kota telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbang habis terbakar. Di beberapa tempat, puing-puing menumpuk tinggi hingga tidak dapat dilewati oleh kudanya. Karena sangat sedih, ia pun berbalik dan pulang.

Pria yang Tidak Bisa Bicara

Di sebuah panti wreda di Belize, seorang pria duduk di atas kursi rodanya mendengarkan dengan gembira sekelompok remaja asal Amerika Serikat bernyanyi tentang Yesus. Kemudian, ketika beberapa dari mereka berusaha berkomunikasi dengannya, mereka baru tahu bahwa pria itu tidak bisa bicara. Serangan otak telah merenggut kemampuannya berbicara.