Lari kepada Perlindungan Kita
Pertandingan bola basket kelas enam sekolah dasar itu berlangsung seru. Banyak orangtua dan kakek-nenek menyemangati para pemain, sementara adik-adik dari anggota regu yang bertanding asyik bermain di lorong sekolah. Tiba-tiba saja sirene meraung dan lampu tanda bahaya di gimnasium menyala berkedip-kedip. Alarm kebakaran berbunyi, dan anak-anak kecil yang panik itu langsung berlarian memasuki gimnasium untuk mencari orangtua masing-masing.
Warisan Persahabatan
Saya bertemu dengan teman saya ini pada dekade 1970-an. Saat itu saya masih menjadi guru bahasa Inggris dan pelatih basket di SMA, dan ia anak baru bertubuh kurus tinggi. Tak lama kemudian ia bergabung dalam tim basket dan kelas saya—dan kami pun bersahabat. Teman ini, yang bertahun-tahun menjadi rekan editor saya, berdiri di depan saya pada pesta perpisahan saat saya pensiun untuk bercerita tentang warisan persahabatan kami yang telah terjalin lama.
Mangkuk Biji Kopi
Saya bukan peminum kopi, tetapi sehirup aroma biji kopi dapat melipur lara sekaligus membangkitkan kesedihan. Dahulu, putri remaja kami, Melissa, sering menata kamarnya dengan menaruh mangkuk berisi biji-biji kopi agar aromanya yang hangat dan menenangkan memenuhi kamarnya.
Pelajaran dari Lego
Setiap tahun, kira-kira sepuluh keping Lego terjual kepada setiap orang di muka bumi ini. Itu artinya lebih dari tujuh puluh lima miliar bata plastik kecil secara total. Namun, itu semua tidak akan terjadi kalau bukan karena kegigihan pembuat mainan asal Denmark, Ole Kirk Christiansen.
Kekayaan yang Tak Ternilai
Sebuah asteroid yang melintas dalam orbit di antara Mars dan Jupiter ternyata memiliki nilai miliaran dolar. Menurut para ilmuwan, benda langit yang diberi nama 16 Psyche itu mengandung logam-logam seperti emas, besi, nikel, dan platinum yang tak ternilai harganya. Hingga saat ini, manusia belum berusaha untuk menambang kekayaan tersebut, tetapi Amerika Serikat telah berencana mengirim robot penjelajah nirawak untuk mempelajari batuan berharga itu.
Genangan Sinar Matahari
Hari itu adalah hari yang hangat di musim panas. Saya dan Mollie, cucu saya yang berumur empat tahun, sedang istirahat setelah bermain bola. Ketika kami duduk di beranda memegang segelas air, Mollie memandang jauh ke pekarangan, dan berkata, “Kek, lihat genangan sinar matahari itu.” Cahaya matahari menyeruak melalui dedaunan tebal dan menciptakan pola cahaya di antara bayangan yang gelap.
Lari dari Dosa
Selama musim panas ini, dua kali badan saya gatal-gatal karena terkena semak beracun. Keduanya terjadi ketika saya sedang mencabuti tanaman liar di kebun kami. Dua kali itu juga saya sudah melihat tumbuhan berdaun tiga yang beracun tersebut mengintai di dekat saya. Saya mengira dapat mendekati tanaman itu tanpa terkena racunnya. Namun, ternyata dugaan saya salah. Daripada berusaha mendekati tumbuhan kecil beracun itu, seharusnya saya langsung lari jauh-jauh!
Di Balik Salib
Pada pertengahan abad ke-20, di wilayah India tengah pernah terjadi ketegangan antara orang-orang non-Kristen dan umat Kristen. Seorang pemuda disuruh memanjat gedung setinggi tiga tingkat dan mencabut salib dari atapnya. Namun, bukan saja tidak berhasil, ia juga terjatuh dari atap ke jalan di bawahnya dan terluka parah. Ketika dibawa ke rumah sakit, ia ditempatkan di sebuah kasur lipat bersebelahan dengan seorang pasien Kristen.
Pertarungan Bunga Matahari
Ketika menanam bunga matahari setiap musim semi, saya berharap dapat menikmati keindahan bunganya di musim panas berikutnya. Namun, rusa-rusa yang hidup di lingkungan kami punya niat yang berbeda dan tidak peduli pada hasil akhirnya. Yang mereka inginkan hanyalah mengunyah habis batang dan daun bunga matahari. Pertarungan tahunan pun terjadi ketika saya berusaha mempertahankan bunga matahari itu dapat tumbuh dewasa sebelum rusa-rusa melahapnya. Terkadang saya yang menang; tetapi tak jarang rusa-rusa itu juga menang.