Penulis

Lihat Semua
David H. Roper

David H. Roper

Setelah menjadi gembala gereja selama lebih dari 30 tahun, sekarang David H. Roper memimpin Idaho Mountain Ministries, suatu retret yang dikhususkan untuk menguatkan para pasangan pendeta. Ia suka memancing dan juga menyusuri sungai bersama istrinya, Carolyn.

Artikel oleh David H. Roper

Hikmah dari Rasa Malu

Pengalaman saya yang paling memalukan terjadi ketika saya menyampaikan kata sambutan di hadapan para dosen, mahasiswa, dan sahabat dari suatu seminari pada perayaan hari jadinya yang kelima puluh. Saya maju ke mimbar sambil memegang naskah pidato dan memandang para hadirin, tetapi mata saya tertuju kepada para guru besar terhormat yang duduk di deretan depan dengan mengenakan toga dan terlihat sangat serius. Tiba-tiba saja saya merasa gugup. Mulut saya mendadak kering dan tak terhubung lagi dengan otak. Saya mengucapkan beberapa kalimat pertama dengan tergagap-gagap dan kemudian saya mulai berimprovisasi. Karena tidak tahu pidato saya sudah sampai di mana, dengan panik saya mulai membolak-balik catatan sambil berbicara sekenanya dan membuat bingung semua orang. Entah bagaimana akhirnya saya berhasil menyelesaikan pidato, kembali ke tempat duduk, lalu tertunduk memandangi lantai dengan perasaan malu yang luar biasa. Rasanya saya ingin mati saja saat itu.

Menari bagi Tuhan

Beberapa tahun lalu, saya dan istri mengikuti kebaktian di sebuah gereja kecil. Di tengah ibadah, seorang wanita mulai menari di lorong ruang kebaktian. Tak lama kemudian beberapa jemaat lain ikut menari bersamanya. Saya dan istri berpandang-pandangan sambil memikirkan hal yang sama: “Kita tidak akan ikutan!” Kami datang dari latar belakang gereja yang beribadah dengan liturgi yang khidmat, sehingga jujur saja, bentuk penyembahan yang berbeda ini membuat kami kurang nyaman.

Pelan-pelan Saja

Saya dan ayah saya dahulu suka menebang pohon dan memotong-motongnya dengan gergaji besar yang harus dipegang dua orang. Karena waktu itu masih muda dan bertenaga besar, saya sering mendorong gergaji kuat-kuat saat memotong kayu. Ayah saya sering mengingatkan, “Pelan-pelan saja. Biarkan gergajinya yang bekerja.”

Penebang Pohon

Suatu kali semasa kuliah, saya pernah bekerja memotong, menyusun, menjual, dan mengantarkan kayu bakar. Sungguh pekerjaan yang sangat berat, karena itu saya sangat berempati kepada penebang kayu malang dalam kisah 2 Raja-Raja 6.

Tikus yang Mengaum

Beberapa tahun lalu, saya berkemah bersama anak-anak lelaki saya selama beberapa hari di kawasan hutan Selway-Bitterroot di Idaho Utara, AS. Daerah ini merupakan habitat beruang cokelat, tetapi kami membawa semprotan pengusir beruang dan menjaga area perkemahan kami bersih, sehingga merasa cukup aman dari kemungkinan didatangi oleh beruang.

Bejana Tanah Liat Antik

Selama bertahun-tahun, saya mengoleksi beberapa bejana tanah liat antik. Yang paling saya sukai adalah bejana yang ditemukan pada sebuah situs yang berasal dari zaman Abraham. Penampakan bejana itu sendiri tidak begitu elok dilihat: kotor, retak-retak, gompal di sana-sini, dan perlu menggosoknya keras-keras agar kembali cemerlang. Saya menyimpannya untuk mengingatkan diri sendiri bahwa saya hanyalah manusia biasa yang terbuat dari tanah. Meskipun rapuh dan lemah, saya membawa harta yang tak ternilai harganya—Yesus. “Harta ini [Yesus] kami punyai dalam bejana tanah liat” (2Kor 4:7).

Kekurangan yang Direncanakan

Di sisi timur kota Yerusalem terdapat sebuah mata air alami yang pada zaman dahulu menjadi satu-satunya sumber air bagi penduduk kota. Namun, karena letaknya di luar tembok kota, mata air itu justru menjadi kelemahan kota Yerusalem yang terbesar. Sumber air yang berada di tempat terbuka berisiko menjatuhkan kota yang tidak tertembus oleh musuh itu apabila musuh dapat mengalihkan atau menutup aliran airnya.

Jalan yang Tidak Dikenal

Orang-orang bertanya apakah saya mempunyai rencana lima tahunan. Bagaimana mungkin saya merencanakan lima tahun ke depan sementara saya belum pernah menjalaninya?

Awas, Licin!

Bertahun-tahun lalu, saat sedang belajar bermain ski, saya mengikuti anak saya, Josh, menuruni lereng yang kelihatannya landai. Karena mata saya hanya tertuju kepadanya, saya tidak memperhatikan bahwa ia sedang menuruni bukit yang paling curam di gunung itu. Karena kaget dan tidak siap, saya pun meluncur tak terkendali di lereng curam tersebut dan jatuh hingga jungkir balik.