Penulis

Lihat Semua
David H. Roper

David H. Roper

Setelah menjadi gembala gereja selama lebih dari 30 tahun, sekarang David H. Roper memimpin Idaho Mountain Ministries, suatu retret yang dikhususkan untuk menguatkan para pasangan pendeta. Ia suka memancing dan juga menyusuri sungai bersama istrinya, Carolyn.

Artikel oleh David H. Roper

Tidak Mencampuri Persoalan Orang

Bertahun-tahun lalu, saya sedang berjalan-jalan menyusuri jalan setapak ke atas gunung bersama Josh, anak lelaki saya, ketika kami melihat kepulan debu di udara. Pelan-pelan kami mendatangi sumber kepulan itu dan menemukan seekor musang sedang membuat sarangnya di dalam tanah. Kepala dan pundak musang itu berada di dalam lubang, dengan kedua kaki depan menggali tanah dengan penuh semangat dan kedua kaki belakang menghamburkan tanah ke segala arah. Karena terlalu asyik dengan pekerjaannya, musang itu tidak mendengar kedatangan kami.

Pribadi Teragung

Dalam kisah Penyihir Agung Oz (The Wonderful Wizard of Oz), Dorothy, Scarecrow, Tin Man, dan Lion si singa pengecut kembali ke Oz dengan membawa sapu yang memberi kekuatan kepada Penyihir Jahat dari Barat. Sang Penyihir Agung telah berjanji, bila sapu itu dikembalikan, ia akan mengabulkan keinginan terdalam mereka masing-masing: pulang ke rumah untuk Dorothy, otak untuk Scarecrow, hati untuk Tin Man dan keberanian untuk Lion si singa pengecut. Namun, sang Penyihir menunda-nunda dan meminta mereka kembali lagi keesokan harinya.

Serahkan Hasilnya kepada Allah

Bertahun-tahun lalu, saya diundang berbicara kepada anggota sebuah organisasi sosial dalam suatu universitas. Karena para anggotanya memiliki reputasi yang kurang baik, saya membawa seorang teman untuk menemani saya. Saat itu suasana hati mereka sedang senang karena kampus mereka baru saja memenangkan kejuaraan football. Saat makan malam, suasana mendadak rusuh! Lalu, ketua organisasi itu mengumumkan: “Kita kedatangan dua orang yang akan berbicara kepada kalian tentang Tuhan.”

Apakah Kita Berarti?

Beberapa bulan ini, saya sedang berkorespondensi dengan seorang anak muda yang mempunyai pemikiran mendalam tentang iman. Suatu waktu ia menulis, “Manusia tidak lebih dari titik-titik yang amat sangat kecil dalam perjalanan zaman. Apakah kita berarti?”

Gagal Lagi

Dahulu, ketika masih aktif berkhotbah, adakalanya saya merasa tidak layak melayani pada hari Minggu pagi. Sepanjang minggu sebelumnya, saya merasa belum menjadi suami, ayah, atau teman yang baik. Saya bahkan merasa, sebelum Allah bisa memakai saya lagi, saya harus memperbaiki hidup saya. Jadi, saya berjanji untuk menyelesaikan khotbah saya sebaik mungkin dan berusaha hidup lebih baik lagi di minggu yang akan datang.

Setia Hingga Masa Penuaian

Seorang wanita yang saya kenal merencanakan sebuah acara di taman dekat tempat tinggalnya dan mengundang semua anak di lingkungan itu untuk datang. Ia begitu bersemangat membayangkan acara itu sebagai kesempatan membagikan iman dengan tetangga-tetangganya.

Hikmah dari Rasa Malu

Pengalaman saya yang paling memalukan terjadi ketika saya menyampaikan kata sambutan di hadapan para dosen, mahasiswa, dan sahabat dari suatu seminari pada perayaan hari jadinya yang kelima puluh. Saya maju ke mimbar sambil memegang naskah pidato dan memandang para hadirin, tetapi mata saya tertuju kepada para guru besar terhormat yang duduk di deretan depan dengan mengenakan toga dan terlihat sangat serius. Tiba-tiba saja saya merasa gugup. Mulut saya mendadak kering dan tak terhubung lagi dengan otak. Saya mengucapkan beberapa kalimat pertama dengan tergagap-gagap dan kemudian saya mulai berimprovisasi. Karena tidak tahu pidato saya sudah sampai di mana, dengan panik saya mulai membolak-balik catatan sambil berbicara sekenanya dan membuat bingung semua orang. Entah bagaimana akhirnya saya berhasil menyelesaikan pidato, kembali ke tempat duduk, lalu tertunduk memandangi lantai dengan perasaan malu yang luar biasa. Rasanya saya ingin mati saja saat itu.

Menari bagi Tuhan

Beberapa tahun lalu, saya dan istri mengikuti kebaktian di sebuah gereja kecil. Di tengah ibadah, seorang wanita mulai menari di lorong ruang kebaktian. Tak lama kemudian beberapa jemaat lain ikut menari bersamanya. Saya dan istri berpandang-pandangan sambil memikirkan hal yang sama: “Kita tidak akan ikutan!” Kami datang dari latar belakang gereja yang beribadah dengan liturgi yang khidmat, sehingga jujur saja, bentuk penyembahan yang berbeda ini membuat kami kurang nyaman.

Pelan-pelan Saja

Saya dan ayah saya dahulu suka menebang pohon dan memotong-motongnya dengan gergaji besar yang harus dipegang dua orang. Karena waktu itu masih muda dan bertenaga besar, saya sering mendorong gergaji kuat-kuat saat memotong kayu. Ayah saya sering mengingatkan, “Pelan-pelan saja. Biarkan gergajinya yang bekerja.”