Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Elisa Morgan

Kue Pastri dan Pemeliharaan Allah

Suatu malam, saya sedang menidurkan cucu laki-laki saya dengan membaca Alkitab. Saat kami membuka Mazmur 23, ia memprotes, “Kita sudah pernah baca ini, Nek.” Namun, setelah saya membujuknya dengan menyatakan bahwa mungkin ada hal baru yang dapat dipelajari, ia membaca dengan keras-keras, “The Lord is my shepherd, I lack nothing. He makes me lie down in green pastries.” Green pastries?! Saya menjelaskan bahwa yang benar adalah pastures (padang rumput), bukan pastries (kue pastri). Memang sebelumnya di hari itu, ia sempat dibawa ke toko roti untuk memilih-milih camilan kesukaannya. Karena itu, baginya toko roti adalah tempat untuk beristirahat dan menikmati sesuatu yang menyenangkan.

Jawaban yang Allah Sediakan

“Siapa nama ibu kandungku?” Pertanyaan polos dari putri saya yang berusia tujuh tahun menghunjam hati saya. Ketika mengadopsi dirinya, kami hanya diberikan informasi dasar tentang orangtua kandungnya—tinggi, berat, usia, warna mata dan rambut mereka. Bagaimana saya harus menjawab pertanyaannya? Sesuatu yang tidak mungkin dijawab! Saya menghela napas dan berdoa, “Tuhan, apa yang harus kukatakan?” Sebuah kalimat lalu terucap dari mulut saya, “Nama apa yang kamu pilih untuknya?” Ia tersenyum lebar dan berseru, “Aku suka Madeline!” “Kalau begitu, namanya Madeline!” jawab saya. Saya percaya Allah yang menyediakan jawaban itu ketika saya tidak tahu harus berbuat apa.

Mendengarkan Gembala yang Baik

Saat membuka aplikasi perbankan daring, saya menemukan adanya dua penarikan uang yang tidak saya lakukan—masing-masing lebih dari 500 dolar AS. Dengan panik saya segera menghubungi pihak bank, dan menemukan ternyata identitas saya telah dicuri. Berkat bantuan mereka, rekening saya berhasil dipulihkan. Namun, pengalaman ini mengajarkan saya untuk selalu waspada agar pencurian serupa tidak terulang di kemudian hari.

Kepedulian dan Perjamuan

Ketika lengan saya sempat patah, sahabat saya Rex memberi kejutan dengan mengirimkan sekotak sup beku dan sebuah sendok sayur berbahan perak yang indah. Saya sangat tersentuh dan menyimpan sendok itu hingga kini. Lengan saya sudah sembuh dan Rex telah tiada, tetapi ungkapan kasihnya terus mengingatkan saya akan kasih Allah. Setiap kali menggunakan sendok itu, saya bersyukur atas kasih-Nya yang nyata melalui seorang sahabat.

Para Wanita Tanpa Nama

Setelah mengelap meja dengan disinfektan, Shelia membungkuk untuk mengikat kantong sampah berisi gelas dan piring bekas. Ia mengangkat kantong itu ke atas bahunya, lalu menoleh untuk memantau ulang ruang serba guna gereja tersebut. Ia secara sukarela menawarkan diri untuk membersihkan ruangan itu dan ingin memastikan semuanya siap digunakan untuk pertemuan berikutnya. Namun, sebuah pertanyaan terlintas dalam benaknya: Adakah yang memperhatikan hasil pekerjaanku?

Berdoa sambil Berjalan

Pikiran saya buntu. Setengah renungan telah ditulis, tetapi inspirasi seolah menguap. “Tuhan, apa yang harus kulakukan?” saya berdoa. Saya lalu teringat pada sebuah riset yang menunjukkan bahwa berjalan kaki dapat meningkatkan kreativitas hingga 60 persen. Jadi, saya pun menapaki jalan kecil di belakang rumah, sambil melanjutkan percakapan saya dengan Allah. Tiga puluh menit kemudian, pikiran saya kembali segar. Saya duduk di depan komputer dan dapat menyelesaikan tulisan itu.

Jadilah Seperti Yesus

Di lorong sempit sebuah pesawat jet kecil, seorang penumpang bertubuh jangkung tampak seperti melipat dirinya ketika berdiri. Pandangan saya tertuju pada buku yang ia genggam erat: Jadilah Seperti Yesus. Namun, beberapa menit kemudian, saya melihatnya mendorong orang lain saat hendak mengambil tasnya dari troli. Bagaimana dengan panggilan menjadi seperti Yesus? Saya tidak tahu apakah ia benar-benar mengenal Kristus, tetapi sikapnya yang egois dan tidak mencerminkan kelembutan Yesus membuat saya kecewa.

Kotak Jus yang Kosong

Ketika saya memimpin pelayanan bagi para ibu dari anak-anak balita, kami mencari sebuah gambaran yang dapat mewakili beratnya tugas para ibu sehari-hari: mengganti popok, membersihkan ingus, membereskan mainan. Lalu kami menemukannya dalam sebuah kotak jus yang sudah kosong dan penyok. Demikianlah perasaan para ibu: terkuras dan hampa. Pelayanan kami hadir untuk menolong mereka berjumpa dengan Yesus, Sumber air hidup yang sanggup memenuhi kembali semangat mereka.

Sindrom Penipu

Apakah Anda pernah merasa seperti penipu? Jika ya, Anda tidak sendiri! Di akhir dekade 1970-an, dua peneliti menyebut “sindrom penipu” sebagai sebuah kondisi ketika seseorang meragukan keahlian, bakat, atau kemampuannya sendiri dan menganggap dirinya sendiri sebagai penipu. Orang-orang yang sukses dan cemerlang sekalipun bisa bergumul dengan perasaan tidak layak. Mereka khawatir apabila orang melihat lebih jauh ke dalam kehidupan mereka, mereka akan dapat melihat betapa banyak yang sebenarnya tidak mereka ketahui.