Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Estera Pirosca Escobar

Tindakan Berani

John Harper tidak tahu apa yang akan terjadi ketika ia dan putrinya yang berusia enam tahun menaiki kapal “Titanic”. Namun, satu hal yang ia tahu: ia mengasihi Yesus dan ingin orang lain juga mengenal Dia. Begitu kapal tersebut menabrak gunung es dan air mulai menyerbu masuk, Harper, seorang duda, mendudukkan anak perempuannya dalam sekoci penyelamat dan kembali ke tengah kekacauan untuk menyelamatkan sebanyak mungkin orang. Sambil membagikan jaket pelampung, konon ia berseru-seru, “Biarkan para wanita, anak-anak, dan mereka yang belum diselamatkan naik ke sekoci.” Sampai napas terakhirnya, Harper menceritakan tentang Yesus kepada siapa saja yang ada di sekitarnya. John rela mengorbankan hidupnya agar orang lain bisa hidup.

Hari untuk Memberi Semangat

Setiap hari, tim reaksi cepat menunjukkan dedikasi dan keberanian mereka dengan terjun ke garis depan untuk membantu menanggulangi bencana. Ketika gedung World Trade Center di New York diserang pada tahun 2001, ribuan orang tewas atau terluka, ada lebih dari empat ratus anggota tim reaksi cepat juga tewas. Untuk menghormati pengorbanan mereka, Senat Amerika Serikat menetapkan tanggal 12 September sebagai Hari untuk Memberi Semangat (National Day of Encouragement).

Jamahan yang Dibutuhkan

Tidak ada yang kaget ketika Bunda Teresa menerima hadiah Nobel Perdamaian dengan mengabdikannya “kepada mereka yang kelaparan, telanjang, tidak punya rumah, tidak bisa melihat, menderita kusta, semua yang merasa tidak diinginkan, tidak dikasihi, tidak dipedulikan di tengah masyarakat.” Merekalah yang dilayani Bunda Teresa di sepanjang hidupnya.

Mata yang Tertuju kepada Kekekalan

Teman saya, Madeline, berdoa agar anak-cucunya memiliki “mata yang tertuju kepada kekekalan”. Keluarganya pernah mengalami pergumulan berat yang berakhir dengan kematian putrinya. Di tengah kedukaan berat yang mereka rasakan, Madeline berharap agar pandangan mereka tidak terbatas pada apa yang sedang dihadapi hingga tenggelam dalam kepedihan hidup di dunia ini. Ia rindu mereka memandang jauh ke depan dengan penuh pengharapan kepada Allah yang penuh kasih.

Anugerah Damai Sejahtera

“Aku percaya kepada Yesus dan Dialah Juruselamatku, maka aku tidak takut mati,” kata Barbara Bush, istri mantan Presiden AS George H. W. Bush, kepada anak laki-lakinya sebelum ia meninggal dunia. Pernyataan yang luar biasa dan penuh keyakinan itu menunjukkan dasar iman yang kuat dan teguh. Barbara mengalami anugerah damai sejahtera Allah dari pengenalannya akan Tuhan Yesus, bahkan di saat-saat menghadapi kematian.

Nyanyian Bapa Kita

Sahabat saya, Dandy, senang menyemangati orang lewat nyanyian. Suatu hari kami sedang makan siang di restoran favoritnya ketika ia menyadari bahwa seorang pelayan restoran sedang bersusah hati. Ia mengajukan beberapa pertanyaan kepada pelayan itu dan mulai menyanyikan lagu yang bernada ceria untuk menyemangatinya. “Anda baik sekali, Pak. Saya benar-benar terhibur. Terima kasih banyak,” kata pelayan itu sambil tersenyum lebar dan menuliskan pesanan kami. 

Menolak Balas Dendam

Setelah Jim Elliot dan empat misionaris lain dibunuh oleh suku Huaorani pada tahun 1956, tidak ada yang menyangka apa yang terjadi selanjutnya. Istri Jim, Elisabeth, dan anak perempuan mereka yang masih kecil, serta saudara perempuan salah seorang misionaris tersebut memilih tinggal dan menetap di tengah-tengah warga yang sudah membunuh orang-orang yang mereka kasihi. Selama beberapa tahun, mereka menjadi bagian masyarakat Huaorani, mempelajari bahasa mereka, dan menerjemahkan Alkitab untuk mereka. Teladan pengampunan dan kebaikan hati para wanita itu membuat kaum Huaorani meyakini kasih Allah bagi mereka dan akhirnya banyak di antara mereka yang mau menerima Yesus sebagai Juruselamat.

Masihkah Ada Harapan?

Edward Payson (1783–1827) pernah menjalani hidup yang sangat sulit. Kematian adik laki-lakinya membuatnya sangat terguncang. Ia bergumul dengan gangguan bipolar dan kerap didera sakit kepala migren yang parah selama berhari-hari. Tidak hanya itu, ia pernah jatuh dari kuda dan melumpuhkan tangannya, serta hampir mati karena tuberkulosa! Yang mengherankan, semua itu tidak membuatnya putus asa atau patah semangat. Teman-temannya mengatakan bahwa sebelum Edward meninggal dunia, sukacitanya justru begitu besar. Bagaimana mungkin?

Pintu Perdamaian

Di Katedral St. Patrick di Dublin, Irlandia, ada sebuah pintu yang menceritakan sebuah peristiwa yang terjadi lima abad lalu. Pada tahun 1492, keluarga Butler dan FitzGerald bertengkar memperebutkan sebuah jabatan di daerah tersebut. Pertengkaran mereka semakin sengit, hingga membuat keluarga Butler mengungsi ke katedral tadi. Ketika keluarga FitzGerald datang untuk meminta perdamaian, keluarga Butler takut untuk membuka pintu. Akhirnya keluarga FitzGerald membuat lubang pada pintu dan pemimpinnya mengulurkan tangan ke dalam sebagai tanda perdamaian. Kedua keluarga itu pun berdamai, dari musuh menjadi teman.