Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Glenn Packiam

Pekerjaan Besar

Seorang petugas keamanan menemukan dan menyingkirkan sepotong lakban yang ditempelkan pada lidah pintu supaya pintu itu tidak tertutup sempurna. Beberapa saat kemudian, ia menemukan pintu itu kembali ditempeli lakban. Ia melaporkan temuannya ke polisi, yang kemudian datang dan menangkap lima orang yang menyusup masuk tanpa izin ke dalam gedung.

Mengelola Dunia Milik Allah

“Mengapa Ayah harus berangkat kerja?” Pertanyaan itu diutarakan anak perempuan saya karena ia ingin terus bermain dengan saya. Saya pun lebih senang tidak pergi agar bisa menghabiskan waktu bersamanya, tetapi banyak pekerjaan di kantor yang membutuhkan perhatian saya. Namun, itu pertanyaan yang bagus. Untuk apa kita bekerja? Apakah hanya untuk memenuhi kebutuhan kita dan orang-orang yang kita cintai? Bagaimana dengan pekerjaan yang tidak dibayar—mengapa kita melakukannya?

Sukacita yang Mahal

Begitu alunan musik digital itu terdengar, kami berenam langsung berdiri dan bergerak. Ada yang sempat mengenakan sepatu, tetapi yang lain langsung berlari ke arah pintu tanpa mengenakan alas kaki. Dalam hitungan detik kami semua berhamburan ke luar rumah untuk mengejar tukang es krim. Itu hari pertama musim panas, dan tidak ada yang lebih mengasyikkan daripada merayakannya dengan menikmati es krim yang manis dan dingin! Seperti mengejar tukang es kirim itu, ada banyak hal yang kita lakukan hanya karena kita terdorong oleh rasa sukacita ketika melakukannya, bukan karena kebiasaan atau keharusan.

Meremehkan Diri Sendiri

Pemuda itu menjadi kapten timnya. Klub olahraga profesional itu kini dipimpin oleh seorang anak muda yang masih hijau. Konferensi pers pertamanya berjalan kurang meyakinkan. Ia terkesan tunduk begitu saja kepada kemauan pelatih dan rekan-rekan satu timnya, dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan klise seperti berjanji akan bermain sebaik mungkin. Timnya tampil buruk pada musim itu, dan di akhir musim, kapten muda itu pun dijual ke klub lain. Ia tidak memahami bahwa dirinya telah diberi otoritas untuk memimpin, atau mungkin ia sendiri tidak yakin mampu melakukannya.

Pilihan yang Menentukan

Tanpa sinyal telepon seluler dan peta jalan, kami menempuh perjalanan hanya dengan mengandalkan ingatan. Lebih dari satu jam kemudian, akhirnya kami dapat keluar dari hutan dan sampai di tempat parkir. Gara-gara melewatkan belokan yang seharusnya bisa memperpendek jarak hingga hampir satu kilometer, kami justru mengambil jalan yang jauh lebih panjang.

Roti yang Diberkati

Ketika putri tertua kami beranjak remaja, saya dan istri memberinya sebuah buku harian yang sudah kami tulis sejak kelahirannya. Di dalamnya, kami mencatat hal-hal yang disukai dan tidak disukainya, polah tingkah dan celetukan-celetukannya yang menggemaskan. Di beberapa bagian, tulisan di dalamnya lebih terlihat seperti surat, berisi penggambaran apa yang kami lihat dari dirinya serta karya Allah dalam dirinya. Ketika kami memberikan buku harian itu sebagai hadiah ulang tahunnya yang ketiga belas, ia begitu terpesona. Ia menerima kesempatan yang berharga untuk mengetahui bagian penting dari permulaan identitas dirinya.

Dihancurkan untuk Dipakai Allah

Saya bertemu dengan seorang pria setiap Kamis setelah istrinya meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Kadang ia datang membawa pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab; kadang dengan kenangan-kenangan yang ingin dihidupkannya kembali. Seiring waktu, ia bisa menerima bahwa meskipun kecelakaan itu adalah akibat dari kehancuran dalam dunia ini, Allah sanggup bekerja di tengah keadaan tersebut. Beberapa tahun kemudian, ia pun mengajar kelas pembinaan di gereja kami tentang kedukaan dan cara menjalani dukacita dengan baik. Tak lama kemudian, ia menjadi sosok yang selalu dicari untuk membimbing orang-orang yang sedang kehilangan orang yang mereka kasihi. Adakalanya ketika kita merasa tidak mempunyai apa pun yang bisa kita bagikan kepada orang lain, Allah mengambil perasaan “tidak cukup” itu dan mengubahnya menjadi “lebih dari cukup.”