Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Glenn Packiam

Memandang Melampaui Masalah

Awan-awan melayang rendah, menutupi cakrawala dan membatasi jarak pandang hingga tinggal beberapa ratus meter saja. Waktu terasa berjalan lambat. Keadaan tersebut membuat hati saya gundah. Namun kemudian, menjelang siang, awan mulai menyingkir, dan saya pun melihatnya: Pikes Peak, puncak tertinggi dari Pegunungan Rocky dan penanda kota saya yang paling terkenal, yang diapit pada kiri-kanannya oleh deretan pegunungan. Senyum pun merekah pada wajah saya. Saya menyadari bahwa perspektif fisik kita—jarak pandang mata kita yang sebenarnya—ternyata dapat mempengaruhi perspektif rohani kita. Saya pun teringat kepada nyanyian pemazmur, “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung” (Mzm. 121:1). Terkadang yang perlu kita lakukan hanyalah mengangkat mata kita sedikit lebih tinggi!

Nyanyian di Malam Hari

Matahari sudah lama terbenam ketika listrik di rumah saya tiba-tiba mati. Hari itu saya sedang bersama kedua anak kami yang masih kecil, dan ini pertama kalinya mereka mengalami pemadaman listrik. Setelah memastikan bahwa memang sedang ada pemadaman listrik, saya mengambil beberapa batang lilin, dan mengajak anak-anak duduk di dapur dengan hanya diterangi cahaya lilin yang berkedip-kedip. Mereka terlihat cemas dan gelisah, maka kami pun mulai bernyanyi. Tak lama kemudian, wajah-wajah khawatir mereka berganti menjadi senyuman. Terkadang, di saat-saat tergelap dalam hidup ini, yang kita butuhkan adalah nyanyian.

Hamba yang Sejati

Pada tahun 27 sm, seorang penguasa Romawi bernama Octavianus menghadap Senat untuk menyerahkan kekuasaannya. Ia telah memenangi perang saudara, menjadi penguasa tunggal atas wilayah tersebut, dan berfungsi layaknya kaisar. Namun, ia tahu kekuasaan yang sedemikian besar dapat membuatnya dicurigai. Maka, Octavianus melepaskan kekuasaannya di hadapan Senat dan bersumpah hanya akan menjadi pejabat biasa. Bagaimana respons Senat? Mereka justru menghormati Octavianus dengan mengenakan mahkota daun kepadanya dan menjulukinya sebagai abdi rakyat Romawi. Ia juga diberi gelar Agustus—berarti “Yang Agung”.

Kepercayaan Diri yang Salah

Beberapa tahun lalu, dokter memberi peringatan keras kepada saya berkaitan dengan masalah kesehatan. Saya menuruti kata-katanya dan mulai rajin berolahraga dan mengatur pola makan. Pelan-pelan, kolesterol dan berat badan saya turun, dan kepercayaan diri saya naik. Namun kemudian, sesuatu yang kurang baik terjadi: saya mulai memperhatikan pola makan orang lain dan menghakimi mereka. Alangkah konyolnya ketika kita menemukan sistem penilaian yang membuat kita tampil baik, tetapi menggunakannya untuk menyombongkan diri sendiri dan menjatuhkan orang lain. Tampaknya sudah menjadi kecenderungan manusiawi untuk menetapkan standar pribadi sebagai upaya membenarkan diri.

Pelan Tapi Pasti

Tanpa sengaja, saya pernah bertemu dengan seorang teman lama yang menceritakan apa saja kegiatannya selama ini. Harus saya akui bahwa ceritanya terdengar sulit dipercaya. Namun, hanya beberapa bulan setelah pertemuan itu, grup musik teman saya mulai dikenal luas lewat lagu hit yang terdengar di radio dan iklan TV. Ketenarannya melesat bagai meteor.

Mulailah dengan Akhir

“Kamu mau jadi apa kalau sudah besar nanti?” Pertanyaan itu sering diajukan kepada saya ketika saya masih kecil. Jawabannya berubah-ubah. Jadi dokter. Pemadam kebakaran. Misionaris. Pemimpin ibadah. Ahli fisika (sebenarnya jadi MacGyver, tokoh TV favorit saya). Sekarang, setelah menjadi ayah empat anak, saya membayangkan betapa sulitnya nanti anak-anak saya menjawab pertanyaan itu. Kadang-kadang saya ingin berkata kepada mereka, “Ayah tahu kamu akan hebat dalam bidang ini!” Terkadang orangtua dapat melihat lebih banyak dalam diri anak-anak mereka ketimbang anak-anak melihat diri mereka sendiri.

Sirip yang Menjaga

Seorang ahli biologi kelautan sedang berenang dekat Kepulauan Cook di Pasifik Selatan ketika seekor paus bungkuk berbobot dua puluh tiga ton tiba-tiba muncul dan mengempit dirinya di bawah siripnya. Perempuan itu mengira ia bakal mati. Namun, setelah berenang perlahan dengan berputar-putar, akhirnya paus itu melepaskannya. Saat itulah si ahli biologi melihat seekor hiu harimau berenang menjauh. Ia yakin paus tadi bermaksud menjaganya dari bahaya yang mengancam nyawa.

Hamba-Mu Mendengar

Seandainya radio nirkabelnya menyala, mereka pasti tahu bahwa kapal Titanic sedang tenggelam. Cyril Evans, operator radio di kapal lain, sudah mencoba mengirimkan pesan kepada Jack Phillips, operator radio di atas kapal Titanic untuk memberi tahu mereka akan adanya gunung es di perairan tersebut. Namun, saat itu Phillips sedang sibuk mengirimkan pesan-pesan dari para penumpang dan dengan kasar menyuruh Evans untuk diam. Dengan berat hati, Evans pun mematikan radionya dan tidur. Sepuluh menit kemudian, kapal Titanic menghantam gunung es. Sinyal minta tolong yang mereka pancarkan tidak dijawab karena tidak ada lagi yang mendengar.

Pekerjaan Besar

Seorang petugas keamanan menemukan dan menyingkirkan sepotong lakban yang ditempelkan pada lidah pintu supaya pintu itu tidak tertutup sempurna. Beberapa saat kemudian, ia menemukan pintu itu kembali ditempeli lakban. Ia melaporkan temuannya ke polisi, yang kemudian datang dan menangkap lima orang yang menyusup masuk tanpa izin ke dalam gedung.