Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh James Banks

Perlindungan bagi yang Tertolak

George Whitefield (1714–1770) adalah salah seorang pengkhotbah paling berbakat dan berhasil sepanjang sejarah, dan ia telah membawa ribuan orang untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Meski demikian, hidupnya tidak lepas dari kontroversi. Pilihannya untuk berkhotbah di tempat terbuka (agar bisa dihadiri sejumlah besar orang) terkadang dikritik oleh pihak-pihak yang mempertanyakan motivasinya dan merasa bahwa Whitefield seharusnya berkhotbah di dalam gedung gereja saja. Perkataan Whitefield tentang tulisan pada batu nisannya kelak menjadi tanggapannya terhadap kritikan yang diterimanya: “Dengan sabar saya akan menunggu hingga Hari Penghakiman untuk membersihkan nama baik saya; dan setelah mati, saya tidak menghendaki tulisan pada batu nisanku kecuali ini, ‘Di tempat ini terbaring George Whitefield—seperti apa sesungguhnya dirinya kelak akan diketahui pada hari yang agung itu.’”

Terluput

Ketika sedang membersihkan tanah di kebun agar siap ditanami selama musim semi, saya mencabut segumpal besar gulma yang tumbuh sejak musim dingin . . . dan terlonjak kaget! Seekor ular kepala tembaga yang berbisa sedang bersembunyi di balik semak-semak, tepat di bawah tangan saya. Seandainya tangan saya lebih rendah sedikit, hampir pasti saya akan memegang ular itu dengan tidak sengaja. Saya langsung melihat kulitnya yang berwarna-warni begitu mencabut gulma; sisa badannya melingkar di semak-semak di antara kedua kaki saya.

Menantikan Berkat

Sebuah restoran yang terkenal di Bangkok, menyajikan sup dengan kuah kaldu yang sudah direbus selama empat puluh lima tahun dan isinya ditambahkan sedikit-sedikit setiap hari. Sama seperti beberapa makanan “sisa” yang terasa lebih enak setelah disimpan beberapa hari, waktu memasak yang panjang itu memadukan dan menciptakan rasa yang unik. Restoran itu pun telah meraih sejumlah penghargaan untuk kategori kaldu terlezat di Thailand.

Jejak Karya Allah

“Aku tahu Allah tinggal di mana,” kata cucu lelaki kami yang berumur empat tahun kepada istri saya, Cari. “Di mana Dia tinggal?” tanya istri saya dengan penasaran. “Dia tinggal di dalam hutan di samping rumah Nenek,” jawabnya. 

Allah bagi Mereka yang Terabaikan

“Terkadang saya merasa seolah-olah saya terabaikan. Padahal saya ingin sekali dipakai oleh Allah,” kata Ann, pegawai yang sedang merapikan ruang olahraga di hotel yang saya kunjungi. Lewat obrolan kami, saya mendapati bahwa ternyata kisah hidup Ann sangat luar biasa.

Saat Damai Hadir 

Pada suatu malam Natal yang dingin di Belgia di tahun 1914, terdengar suara nyanyian berkumandang dari parit-parit tempat para prajurit berlindung. Alunan lagu Natal “Malam Kudus” terdengar dalam bahasa Jerman dan disusul kemudian dalam bahasa Inggris. Para prajurit yang hari itu sempat saling bertempur sekarang menanggalkan senjata mereka dan keluar dari parit untuk berjabat tangan di wilayah netral. Mereka saling mengucapkan selamat Natal dan spontan berbagi jatah makanan mereka sebagai hadiah. Gencatan senjata berlanjut hingga keesokan harinya, ketika para prajurit mengobrol dan bersenda gurau, bahkan mengadakan pertandingan sepak bola di antara mereka. 

Penyertaan di Masa Natal

“Datang-Nya diam-diam di dunia bercela; hati terbuka dan lembut ‘kan dimasuki-Nya.” Inilah kata-kata dalam pujian “O Little Town of Bethlehem” (Hai Kota Mungil Bethlehem, Kidung Jemaat No. 94) karya Phillips Brooks yang sangat terkenal. Lirik tersebut menunjukkan inti pesan Natal, yaitu Yesus Kristus datang ke dunia yang berdosa ini untuk menyelamatkan kita dari dosa, dan memberikan suatu hubungan yang baru dan penting dengan Allah kepada semua yang mau percaya kepada-Nya.

Allah Mendengar Semuanya

Salah satu jangka waktu keterlambatan pengiriman surat yang terlama dalam sejarah adalah delapan puluh sembilan tahun. Pada tahun 2008, seorang pemilik rumah di Inggris menerima undangan pesta yang dikirim pada tahun 1919 dan ditujukan kepada pemilik rumahnya di masa lalu. Undangan itu diletakkan dalam kotak suratnya oleh petugas pos, tetapi alasan mengapa undangan itu baru diterima setelah sekian puluh tahun masih tidak diketahui.

Musik di Angkasa

Bayangkanlah hidup tanpa ponsel, Wi-Fi, GPS, Bluetooth, atau oven microwave. Demikianlah keadaan kota kecil Green Bank, Virginia Barat, yang dikenal sebagai “kota paling hening di Amerika.” Di sanalah juga terdapat Observatorium Green Bank, teleskop radio terbesar di dunia. Teleskop itu membutuhkan “keheningan” untuk dapat “mendengarkan” gelombang radio yang secara alamiah dipancarkan oleh gerakan pulsar dan galaksi di luar angkasa. Observatorium itu memiliki luas permukaan lebih besar daripada sebuah lapangan sepak bola, dan berdiri tepat di pusat Zona Tenang Radio Nasional, suatu kawasan seluas 33.670 kilometer persegi yang dibangun untuk mencegah terjadinya intervensi elektronik yang dapat mengganggu kepekaan teleskop yang sangat tinggi.