Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh James Banks

Yesus yang Menyamar

Baru-baru ini, anak saya, Geoff, ikut dalam kegiatan yang disebut “simulasi tunawisma.” Ia menggelandang di jalan-jalan kota selama 3 hari 2 malam, tidur di alam terbuka dengan suhu di bawah titik beku. Tanpa makanan, uang, maupun tempat berlindung, ia bergantung pada kebaikan orang yang tidak dikenal untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Ia pernah hanya makan sepotong roti lapis yang dibelikan oleh seorang pria yang mendengarnya meminta roti basi dari sebuah restoran cepat saji.

Terhindar dari Jerat

Tumbuhan Venus flytrap pertama kali ditemukan di rawa berpasir tidak jauh dari rumah kami di Carolina Utara. Tumbuhan tersebut menarik untuk diamati karena termasuk tumbuhan karnivora atau pemakan daging. Venus flytrap mengeluarkan sari bunga berbau manis yang menjadi jerat warna-warni dengan tampilan menyerupai kelopak bunga yang terbuka. Ketika seekor serangga merayap masuk, sensor-sensor yang terletak di tepi bunga akan bereaksi dan kelopaknya akan langsung menutup serta menjerat serangga itu dalam waktu kurang dari satu detik. Perangkapnya menutup semakin rapat dan mengeluarkan enzim yang menghabisi korban perlahan-lahan, sehingga tumbuhan itu memperoleh nutrisi yang tidak didapatkan dari tanah berpasir tempatnya bertumbuh.

Jujur kepada Allah

Cucu saya yang berusia tiga tahun mengawali harinya dengan uring-uringan. Ia tidak bisa menemukan kaus kesayangannya. Sepatu yang ingin dipakainya terlalu panas. Ia jengkel dan marah-marah kepada neneknya, lalu duduk dan menangis.

Menemukan Harta Karun

Ketika John dan Mary sedang mengajak anjing mereka berjalan-jalan di halaman rumah, tanpa sengaja mereka menemukan sebuah kaleng berkarat yang menyembul keluar karena tanahnya tergerus oleh hujan. Mereka membawa kaleng itu pulang, membukanya, dan mendapati di dalamnya simpanan koin emas yang berusia lebih dari satu abad! Pasangan tersebut kembali ke tempat kaleng tadi dan menemukan tujuh kaleng lagi yang seluruhnya berisi 1.427 koin. Kemudian, mereka melindungi harta karun itu dengan memendamnya kembali di tempat lain.

Terus Mendoakan dari Jauh

Kevin menyeka air matanya sembari menyerahkan selembar kertas untuk dibaca Cari, istri saya. Ia tahu Cari dan saya sedang mendoakan anak perempuan kami agar kembali percaya kepada Tuhan Yesus. “Tulisan ini ditemukan dalam Alkitab milik ibu saya setelah beliau meninggal, dan saya berharap ini dapat menguatkan kalian,” katanya. Pada kertas itu tertulis, “Untuk anakku, Kevin.” Di bawahnya tertulis sebuah doa untuk keselamatannya.

Berkat Pinjaman

Saat kami menundukkan kepala untuk berdoa sebelum menikmati makan siang, teman saya Jeff berdoa: ”Bapa, terima kasih telah memberi kami kesempatan untuk menghirup udara-Mu dan menyantap makanan-Mu.” Saat itu Jeff baru saja mengalami masa-masa sulit karena kehilangan pekerjaan, sehingga saya sangat tersentuh oleh kepercayaannya yang penuh kepada Allah dan kesadaran bahwa semua hal adalah milik-Nya. Saya pun berpikir: Apakah saya sejujurnya mengerti bahwa hal-hal yang paling mendasar sekalipun, yang setiap hari hadir dalam hidup saya, sesungguhnya adalah milik Allah, dan Dia sekadar mengizinkan saya menggunakan semua itu?

Tidak Terbandingkan

“Kapan-kapan, akan kutaruh semuanya di Facebook—dan bukan cuma yang baik-baik saja, lho!”

Berdoa dan Bertumbuh

Ketika istrinya mengidap penyakit Alzheimer, kawan saya David sangat bergumul dengan berbagai perubahan yang harus dijalaninya. Ia harus pensiun dini, dan ketika penyakit itu semakin parah, istrinya memerlukan perhatian yang lebih besar.

Kedalaman Kasih

Waktu pertama kali keduanya bertemu, Edwin Stanton memandang rendah presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, secara pribadi maupun profesional. Stanton bahkan menjuluki Lincoln sebagai “mahkluk bertangan panjang”. Namun, Lincoln menghargai kemampuan Stanton dan memaafkannya, bahkan memberi Stanton posisi penting di dalam kabinetnya semasa Perang Saudara. Stanton pun mulai menganggap Lincoln sebagai sahabatnya. Stantonlah yang sepanjang malam berada di samping tempat tidur Lincoln setelah sang presiden ditembak di Gedung Ford’s Theater. Pada saat Lincoln wafat, dengan berlinang air mata Stanton berkata, “Sekarang, ia telah masuk dalam keabadian.”