Penulis

Lihat Semua
Jennifer Benson Schuldt

Jennifer Benson Schuldt

Tulisan Jennifer Benson Schuldt pertama kali muncul di Our Daily Bread pada bulan September 2010. Ia juga menulis untuk buku renungan Our Daily Journey. Ia tinggal di pinggiran kota Chicago dengan suaminya, Bob, dan anak-anak mereka. Ia suka melukis, membaca puisi dan fiksi, dan berjalan-jalan bersama keluarganya.

Artikel oleh Jennifer Benson Schuldt

Tuntunan Ilahi

Saat mengunjungi Galeri Seni Nasional di Washington, DC, saya melihat sebuah mahakarya berjudul The Wind. Lukisan itu menggambarkan badai yang sedang bertiup menerpa pepohonan. Pohon-pohon yang ramping dan menjulang tertiup ke arah kiri gambar. Semak-semak juga terhempas ke arah yang sama.

Pribadi yang Mengerti

John Babler adalah pembina rohani bagi kesatuan polisi dan pemadam kebakaran di lingkungannya di Texas. Sepanjang 22 minggu masa sabatikalnya, ia mengikuti pelatihan di akademi kepolisian agar dapat lebih memahami beragam situasi yang dihadapi aparat penegak hukum. Dengan menghabiskan waktu bersama para kadet dan mempelajari tantangan-tantangan berat yang dihadapi dalam profesi mereka, Babler belajar untuk semakin rendah hati dan berempati dengan mereka. Kelak, ia berhadap dapat lebih efektif dalam melayani para aparat kepolisian yang bergumul dengan perasaan stres, kelelahan, dan kehilangan.

Hidup Bersama Singa

Ketika saya mengunjungi sebuah museum di Chicago, saya melihat salah satu relief asli dari Striding Lions of Babylon. Relief itu adalah sebuah lukisan dinding berukuran besar yang menggambarkan seekor singa bersayap yang sedang melangkah dengan ekspresi garang. Sebagai simbol dari Dewi Ishtar—dewi cinta dan perang orang Babel—singa itu merupakan salah satu contoh dari 120 relief singa serupa yang pernah menghiasi jalan di Babel selama tahun 604–562 sm.

Pertanyaan untuk Allah

Apa yang akan Anda lakukan jika Tuhan tiba-tiba muncul di hadapan Anda dengan membawa sebuah pesan? Itulah yang dialami Gideon pada masa Israel kuno. “Malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian: ‘Tuhan menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.’” Gideon bisa saja menjawab cukup dengan sebuah anggukan, tetapi ia justru berkata: “Ah, tuanku, jika Tuhan menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami?” (Hak. 6:12-13). Gideon ingin tahu mengapa seolah-olah Allah telah meninggalkan umat-Nya.

Tidak Perlu Marah

Suatu pagi di Perth, Australia, Fionn Mulholland menemukan bahwa mobilnya hilang. Pada saat itulah, ia baru menyadari kekeliruannya karena telah memarkir mobil di zona terlarang sehingga mobilnya harus diderek. Setelah mempertimbangkan situasi yang ada—termasuk pengeluaran $600 untuk membayar denda parkir dan ongkos derek—Mulholland menjadi frustrasi. Namun, ia memutuskan tidak akan meluapkan kemarahannya kepada orang yang harus ditemuinya agar mobilnya bisa ditebus. Daripada melampiaskan emosinya, Mulholland pun menulis sebuah puisi lucu tentang situasi yang dihadapinya dan membacakan puisi itu kepada karyawan yang ditemuinya di tempat penderekan. Ternyata karyawan itu menyukai puisinya, dan pertikaian buruk yang mungkin terjadi akhirnya bisa dihindari.

Piano yang Menyusut

Selama tiga tahun berturut-turut, putra saya mengikuti resital piano. Pada tahun ketiga, saya menyaksikannya mengatur pijakan kaki dan kertas partitur lalu memainkan dua lagu. Setelah itu, ia duduk di sebelah saya sambil berbisik, “Ibu, tahun ini pianonya lebih kecil.” Saya berkata, “Bukan, itu piano yang sama dengan yang kamu mainkan tahun lalu. Kamulah yang bertambah besar! Kamu telah bertumbuh.”

Ingatlah Salib-Nya

Di gereja tempat saya beribadah, sebuah salib besar berdiri di bagian depan dari ruang kebaktian. Salib itu menggambarkan salib tempat Yesus mati—tempat dosa kita bersinggungan dengan kekudusan-Nya. Di salib itu, Allah mengizinkan Anak-Nya yang sempurna untuk mati demi setiap kesalahan dan dosa yang kita lakukan, katakan, atau pikirkan. Di salib itu, Tuhan Yesus menyelesaikan karya yang diperlukan untuk menyelamatkan kita dari kematian yang selayaknya kita terima (Rm. 6:23).

Ungkapan Cinta

Ketika sejumlah papan bertuliskan “Aku mencintaimu” dalam warna merah jambu muncul secara beruntun dan misterius di kota Welland, Ontario, seorang wartawan lokal bernama Maryanne Firth memutuskan untuk menyelidikinya. Investigasinya tidak membuahkan hasil. Beberapa minggu kemudian, sejumlah papan baru muncul dan mencantumkan nama taman di kota itu sekaligus tanggal dan waktu tertentu.

Diuji dan Dimurnikan

Dalam sebuah wawancara, penyanyi dan penulis lagu Meredith Andrews menceritakan pergumulannya saat ia berusaha mencari keseimbangan antara mengurus pelayanan, pekerjaan, pernikahan, dan perannya sebagai ibu. Sambil merenungkan pergumulan itu, ia berkata, “Saya merasa sepertinya Allah membawa saya ke dalam masa pemurnian, bahkan hampir-hampir saya merasa patah semangat.”