Penulis

Lihat Semua
Jennifer Benson Schuldt

Jennifer Benson Schuldt

Tulisan Jennifer Benson Schuldt pertama kali muncul di Our Daily Bread pada bulan September 2010. Ia juga menulis untuk buku renungan Our Daily Journey. Ia tinggal di pinggiran kota Chicago dengan suaminya, Bob, dan anak-anak mereka. Ia suka melukis, membaca puisi dan fiksi, dan berjalan-jalan bersama keluarganya.

Artikel oleh Jennifer Benson Schuldt

Di Tengah-Tengah Api

Kebakaran hutan di Andilla, Spanyol, telah menghanguskan area seluas hampir 50.000 hektar. Namun, di tengah kehancuran tersebut, hampir 1.000 pohon cemara berwarna hijau terang masih tegak berdiri. Kemampuan pohon-pohon tersebut menyimpan air membuatnya sanggup bertahan di tengah kebakaran.

Kamu Akan Berjumpa Lagi Dengannya

Kamar itu remang-remang dan hening ketika saya menarik kursi untuk duduk di sebelah tempat tidur Jacquie. Sebelum tiga tahun belakangan ini sahabat saya berjuang melawan kanker, ia sangat bersemangat. Masih jelas dalam ingatan saya bagaimana ia biasanya tertawa—matanya berbinar-binar dan wajahnya berseri-seri. Saat saya menjenguknya di ruang perawatan intensif, ia hanya diam terpaku.

Hati yang Berbelas Kasihan

Ellen, teman saya, bertanggung jawab menghitung gaji karyawan di sebuah kantor akuntan. Kedengarannya sederhana, tetapi ada saja pemberi kerja yang terlambat memasukkan informasi yang diperlukan. Kerap kali Ellen harus mengambil waktu lembur supaya para karyawan dapat menerima gaji mereka tepat waktu. Ia melakukannya karena mempertimbangkan keluarga-keluarga yang bergantung pada dana tersebut untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, membeli obat-obatan, dan membayar sewa rumah.

Duet Ilahi

Pada suatu pertunjukan musik anak-anak, saya menyaksikan seorang guru dan muridnya duduk di depan piano. Guru tersebut membungkuk dan membisikkan beberapa instruksi persis sebelum mereka berdua mulai bermain. Begitu musik mengalun, saya memperhatikan sang murid memainkan melodi yang sederhana sementara gurunya memainkan melodi pengiring yang menambah kedalaman dan kekayaan lagu tersebut. Di akhir lagu, sang guru mengangguk tanda berkenan pada permainan muridnya.

Pisang yang Berbicara

Jangan pernah menyerah. Buatlah orang lain tersenyum karena kehadiranmu. Yang penting bukanlah masa lalumu, melainkan masa depan yang akan kamu raih. Beberapa murid sebuah sekolah di Virginia Beach, Virginia, menemukan pesan-pesan tersebut dan banyak lagi pesan lain ditulis pada kulit pisang yang menjadi salah satu menu makan siang mereka. Stacey Truman, sang manajer kantin, sengaja menuliskan pesan-pesan itu pada buah tersebut, yang oleh anak-anak kemudian dijuluki sebagai “pisang yang berbicara.”

Perantara Dalam Doa

Pada suatu Sabtu sore, kami sekeluarga mampir ke sebuah restoran untuk makan siang. Saat pramusaji meletakkan wadah berisi hamburger dan kentang goreng renyah di atas meja, suami saya mendongak dan menanyakan namanya. Suami saya berkata, “Kami sekeluarga terbiasa berdoa sebelum makan. Adakah yang bisa kami doakan untukmu hari ini?” Pramusaji bernama Allen itu pun melihat kami dengan pandangan terkejut bercampur waswas. Ia terdiam sejenak sebelum memberi tahu kami bahwa setiap malam ia menumpang tidur di sofa dalam rumah temannya, mobilnya baru saja mogok, dan ia sendiri tidak punya uang.

Dia Tahu Semuanya

Kami memelihara Finn, seekor ikan cupang hias, di rumah kami selama dua tahun. Anak perempuan saya kerap membungkukkan badan di atas akuarium dan mengajaknya ngobrol setelah memberinya makan. Ketika ada topik tentang hewan peliharaan di taman kanak-kanaknya, ia dengan bangga bercerita tentang Finn. Pada suatu hari, Finn mati, dan putri saya sedih sekali.

Saatnya Memakai Hiasan Kepala

Pada suatu pagi di bulan Januari, saya bangun tidur dan berharap bakal melihat pemandangan suram pertengahan musim dingin seperti yang sudah terjadi berminggu-minggu: rumput coklat menyembul di sela petak-petak salju, langit kelabu, dan pohon-pohon meranggas. Namun, ada yang tidak biasa terjadi malam sebelumnya. Embun beku menyelimuti semuanya dengan kristal es. Pemandangan muram telah menjadi panorama indah yang berkilauan oleh pantulan cahaya matahari pagi, sehingga saya pun dibuat takjub.

Pelita Penuntun Kami

Di sebuah museum, saya cukup lama memperhatikan lampu-lampu kuno yang dipamerkan. Keterangan menyebutkan bahwa lampu-lampu itu berasal dari Israel. Wadah-wadah oval yang berukir dan berbahan tanah liat itu memiliki 2 bukaan—satu untuk memasukkan minyak, dan satu lagi untuk sumbu. Meskipun bangsa Israel biasa menaruhnya di ceruk dinding, tetapi lampu-lampu itu cukup kecil untuk bisa digenggam dan dibawa-bawa.